fbpx

[opinon] Kangen Band adalah Band Penting bagi Perkembangan Musik Populer Indonesia?

by wedhahai deviantart
Foto dari wedhahai – deviantart

Ada pepatah mengatakan; kalau ingin jadi pemusik yang baik dengarkanlah lagu-lagu yang baik, kalau ingin jadi penulis yang baik, bacalah buku-buku yang baik. 

Tahun 2005 tercatat sebagai tahun kelahiran grup musik asal Lampung ini. Personelnya terdiri dari Dodhy, Andika, Tama, Iim, Bebe, dan Izzy. Semenjak single Tentang Aku, Kau, dan Dia dan Selingkuh diputarin di radio-radio dan angkutan umum (serius!), dan lalu nama mereka makin melambung. Permintaan untuk terus diputer di radio semakin banyak, yang seiring sama peredaran VCD bajakan yang memuat lagu-lagu mereka, bahkan sebelum mereka resmi ngeluarin album. Gue pernah terpaksa nonton VCD bajakannya di rumah teman gue. Lagunya ngedayu-dayu, suaranya sumbang, musiknya aneh, liriknya tentang perselingkuhan remaja. Itu hal pertama yang gue dapet pas pertama kali ngederin mereka. ~ Tapi gak sadar gue ikutan nyanyi juga. :((

Kemunculan squad ini menuai kontroversi sana-sini, mungkin lantaran musik dan liriknya dinilai buruk. Pernyataan itu seringkali dibarengin sama pertanyaan lanjutan kayak: “kenapa sih mereka bisa laku, padahal jelek?!
Hmmm… Seolah-olah popularitas itu selalu berbanding lurus dengan kualitas, padahal mah jelas, keduanya itu gak ada hubungan yang linier. Karena banyak karya-karya musik yang bagus tapi gak terkenal itu banyak contohnya. ~ pahamlah…

Terlepas dari pendapat netizen yang sok maha benar (dari dulu dan sekarang) pada kala itu yang mencibir Kangen Band sebagai suatu spesies yang seperti wajib untuk diolok-olok, dan juga pendapat-pendapat pengamat musik (kemarin sore) yang suka ngomong soal selera tapi tanpa bekal penelitian apa-apa. Ingin rasanya menjawab itu semua bahwa “Kangen Band adalah Band Penting bagi Perkembangan Musik Populer Indonesia.” Terlepas nanti kita bakal temuin jawabannya atau enggak, ya se-enggaknya kita udah berusaha semampunya.

-Advertisement-


Retorika ‘Orang Susah Jadi Orang Terkenal’ dan Potensi Swakelola yang Gagal

Kangen Band, mereka menceritakan kalo setiap personilnya adalah orang susah. Ada yang penjual es dawet, tukang permak jins, tukang tambal ban, dan lain sebagainya. Kangen Band juga turut dibuatin film yang berjudul “Aku Memang Kampungan” yang bercerita tentang kisah hidup mereka. Model cerita sukses ini dianggap bisa menambah nilai jual mereka. Alih-alih menanggapi komentar pedas yang memojokkan mereka jelek dan kampungan, maka mereka meng-iya-kan olokan-olokan tersebut dan meng-kapitalisasi-nya. Hal ini juga terjadi sama grup musik seangkatan mereka, kayak Wali dan ST12, yang para personil Wali mengaku berasal dari kampung dan anak pesantren, terus si Charlie yang mulanya bekerja sebagai tukang roti keliling, dan seterusnya. Ada juga grup musik yang bernama Zivilia yang cuma punya satu hits single Aishiteru, yang si vokalis mulanya adalah seorang buruh migran di Jepang.

Pada kenyataannya, saat itu, lagu-lagu Kangen Band banyak diputerin di angkot-angkot, di toko-toko kecil, dan juga beredar di lapak-lapak penjual VCD bajakan. Cerita-cerita sukses tersebut menjadi pengiring di mana lagu-lagu mereka, terutama Kangen Band yang menjadi banyak digemari sama orang-orang yang berprofesi gak jauh dari profesi mereka dulu. Ada representasi yang dimainin di sana, bahwa kira-kira ada sebagian dari kaumnya yang bisa berhasil mencapai kesuksesan. Ada ilusi kesuksesan yang mainin sama produser-produser industri musik besar. Cerita-cerita kesuksesan model kayak gini juga turut direproduksi di kontes-kontes idola kayak AFI, Indonesian Idol, dan lain sebagainya yang sedikit-banyak hal ini berpengaruh.

Sebenernya, Kangen Band tuh udah terkenal sebelum albumnya resmi beredar. Dari kekuatan sistem bajakanlah yang mendaji pendorongnya, dengan supir-supir angkot, penjual-penjual di toko sebagai bagian promosinya. Hal ini sebenernya nyaris mirip sama gejala yang terjadi pada awal perkembangan musik dangdut koplo, di mana orkes dangdut gak pernah punya rilisan album resmi. Rekamannya nyaris selalu berasal dari pertunjukkan live atau langsung di panggung. Toko-toko yang ngejualnya adalah lapak-lapak VCD bajakan. Videographer adalah videographer yang disewa sama si pemilik acara. Lagu-lagu yang mereka bawain juga kebanyakan berasal dari lagu yang udah ngetop duluan. Bisa dari lagu pop, bisa juga dari lagu dangdut, pokoknya semuanya bisa di-koplo-in. Dan lagu pop yang dihadirkan sama Kangen Band dan grup musik lainnya yang seangkatan emang udah sangat siap untuk di-koplo-in. Hingga akhirnya penamaan atas aliran musik mereka-pun kemudian diberi sebutan pop-melayu. Meskipun problematis.

Dengan melihat pola ini, sebetulnya ada semacam potensi untuk numbangin industri rekaman kelas besar. Aktor yang terlibat dalam wilayah dangdut koplo, kalo bisa diidentifikasi adalah: Pemilik acara; grup musik atau orkes; tukang syuting; tukang ganda VCD; dan lapak pedagang.

Pemilik acara adalah pihak yang terhubung langsung sama aktor-aktor lainnya. Dia yang ngehubungin orkes untuk manggung. Terus pemilik acara ngehubungin videographer /tukang syuting. Abis itu, nanti si videographer /tukang syuting bisa nge-gandain sendiri, atau bisa juga dioper ke pihak pengganda lain, terus disebar ke para penjual di lapak-lapak bajakan.

-Advertisement-



Semuanya dapat untung. Orkes dapat untung karena panggungnya, dan sekaligus nantinya dapat untung karena promosi dari si pelapak, atau supir-supir yang secara gak langsung memperdengarkan irama tersebut melintasi batas provinsi, yang pada akhirnya tanggapan mereka bakalan bertambah banyak. Emang sih lewat jalan yang memutar, tapi ini bisa jadi alternatif. Ketika gak ada infrastruktur di wilayah industri musik kecil, maka mereka bisa memenuhi infrastruksur itu sendiri. Mereka bisa mandiri tanpa harus sama perusahaan rekaman besar. Tapi ini semua juga cuma jadi bayang-bayangan, karena nyatanya sekarang grup dangdut udah banyak juga yang ngebentuk label rekaman sendiri yang meniru label rekaman besar dalam skala yang berbeda.

Konsep ‘bajakan’ didalam dangdut koplo emang gak sepenuhnya tepat, karena kalo bajakan, itu mesti ada aslinya dulu, baru bisa dibajak. Nah, kalo di dangdut koplo itu, lagunya aja kadang-kadang “nget-ngetan”. Berbeda sama konsep bajakan yang terjadi sama Kangen Band, mereka menulis lagu dan dipasarkan sama orang-orang, tapi Kangen Band gak mau mengelola pasar yang kayak gini. Tujuan utamanya tetep aja televisi, label rekaman besar, dan Jakarta. Maka gagal sudah potensi mereka untuk bisa menghidupi pola distribusi dan produksi yang swakelola, yang lebih indie daripada band indie.

Mosaik Musik Kangen Band: Metode Tambal Sulam

Secara musikalitas, Kangen Band seringkali dicap jelek, kacau, ambyar, blangsak, dan lain sebagainya. Pandangan pengamat musik yang bilang musik Kangen Band jelek pasti bakalan selalu ngebandingin sama grup musik Indonesia lainnya, kayak Padi, Sheila on 7, Dewa 19, Peterpan, Gigi, dan lain-lain. Pendapat yang kayak gitu emang benar adanya, nyaris semua orang sepakat, bahkan Kangen Band pun sepakat. Kangen Band bukan cuma sekedar sepakat dengan pandangan semacam itu, bahkan mereka meng-imaninya sehingga selalu ada unsur grup-grup musik tersebut didalam musik Kangen Band.

Nama grup. Dari mana Kangen Band ngedapetin namanya? Apakah dari judul lagu Dewa 19 yang sangat fenomenal, yang membicarakan kerinduan dengan surat, yang menisyaratkan penantian sepasang kekasih dengan sangat syahdu. Ya, Kangen Band, “Kuterima suratmu dan kubaca…” itu yang jadi inspirasi utama nama grup ini. ~ bisa jadi.

Kangen Band melejit dengan album pertamanya yang berjudul Tentang Aku, Kau, dan Dia. Didalam album tersebut empat lagu yang paling populer adalah Tentang Bintang, Selingkuh, Penantian yang Tertunda, dan Tentang Aku, Kau dan Dia.

Tentang Aku, Kau, dan Dia sebagai judul lagu dan judul album tentu aja secara sederhana dapat dicurigain ngambil inspirasi dari Ahmad Dhani, Aku Cinta Kau dan Dia. Dewa 19 maupun Ahmad Dhani, dalam hal ini lebih khusus lagi yaitu Ahmad Dhani, termasuk generasi awal yang mempopulerkan tema perselingkuhan didalam ranah pacaran. Sebelumnya, konflik-konflik perselingkuhan dibayangkan pada wilayah rumah tangga, bahkan secara ekstrim, ada yang membahas tema KDRT dalam lagu yaitu Betharia Sonata dengan Hati yang Luka pada tahun 1988. Kangen mengulang tema tersebut bertahun-tahun kemudian dengan bahasa yang gak jauh berbeda tapi dengan lirik atau susunan kata-kata yang seadanya saja.

-Advertisement-



Yap, tema perselingkuhan dalam ranah pacaran sedang marak, dan terus marak hingga saat itu bahkan keseluruhan lirik lagu bercerita lagi-lagi tentang perselingkuhan. Dan Kangen Band menjadi salah satu powernya.
Mungkin, tahun depan nanti kita bakalan kembali dengan tema musik perselingkuhan. ~ entahlah…

Pada paragraf terakhir ini, izinkanlah saya meminta maaf karena sudah membangkitkan ingatan kalian tentang Kangen Band, saya tahu pasti ada di antara kalian yang terluka, karena ingatan dikorek kembali, hal ini mungkin bikin traumatis.
Demikianlah, saya kira saya tidak sepakat dengan pendekatan yang ingin mengatakan kalau orang yang suka Kangen Band adalah orang yang seleranya buruk, tapi saya juga tidak ingin mengatakan kalau Kangen adalah simbol perlawanan.

Lantas, mengapa kangen band penting bagi perkembangan musik populer Indonesia? Entahlah sampe sekarang saya gak tau jawabannya. Dan kalo pertanyaannya kita ganti jadi “Apakah Kangen Band penting bagi perkembangan musik Indonesia?” Tentu saja jawabnya, Tidak.

[I.R.D]

Disclaimer: Semua postingan di www.kepsirproject.net ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya diatas. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan Kepsir Project.

Previous Article

Nah Lho! Dave Grohl Foo Fighters Lagi-lagi Jatuh dari Atas Panggung!

Next Article

5 Ampli Portabel untuk Latihan di Manapun, Kapanpun Kamu Suka

MORE KEPS
EP Tiga Puluh
Read More

TIGA PULUH, Mini Album ASHARENO, Gambaran Problematika Para ‘30ers.

Seluruh proses kreatif EP Tiga Puluh ini dikerjakan oleh Ashareno dengan bantuan beberapa rekannya. Lirik & lagu ditulis sendiri oleh Ashareno, kecuali untuk lagu Tak Bisa Lupakan yang ditulis oleh Aulia Nurfebrilianti yang mana adalah adik kandung dari Ashareno. Untuk urusan aransemen musik ia dibantu oleh Pandu Prayoga dari Cheery Trees dan Agung Dwi Saputra dari D'Ningrat. Proses perekaman album dilakukan seluruhnya di Lantai Dua Music Production. Sementara untuk pengerjaan mixing & mastering digarap di E-Music Id oleh Vino Mareza.