fbpx

Ketika Erix Soekamti menganggap penolakan RUU Permusikan “Lebay”

erix soekamti tok
Instagram/erixsoekamti

Kekisruhan RUU Permusikan ini rawan menciptakan perpecahan di antara para musisi. Karena dalam setiap masalah, secara umum selalu ada kelebihan dan kekurangan, pro dan kontra. Itu tergantung di mana kita melihatnya. Namun yang terpenting adalah tanggapi dengan kepala dingin.

Dan lalu, pentolan band punk dari Yogyakarta, Erix Soekamti, mengungkapkan isi hatinya mengenai gerakan penolakan RUU Permusikan melalui akun Instagram miliknya @erixsoekamti. Di antara ratusan suara aktivis dan penggiat musik yang menolak RUU ini, Erix memandang, dunia belum berakhir dan percuma ribut-ribut.

RUU PERMUSIKAN. RUU itu Rancangan Undang Undang, belum final, belum kiamat jg. Justru memang disebar untuk tujuan sosialisasi yg menghasilkan DISKUSI. Kenapa mesti ribut? Siapa bilang kontroversi lha wong semua musisi gak setuju. Menjadi gaduh sampai lupa dengan tunjuannya itu karna cara penolakannya lebay,”tulis Erix, Senin (4/2/2019).

“Niat baik harus disambut baik, berikan masukan tidak hanya penolakan apa lagi hujatan & cacian. Musisi itu butuh Undang Undang yg disepakati & melindungi. jd dari pada triak MENOLAK sebaiknya diREVISI akan lebih baik. Indonesia itu bisa maju karna contoh, bukan opini. Mandiri dalam bekerja, Merdeka dalam berkarya!! Salam Indonesia #RevisiRUUpermusikan.”

Sebuah kiriman dibagikan oleh Erix Soekamti (@erixsoekamti) pada

Mungkin tidak ada yang salah dengan sikap Erix. Tapi, kata “lebay” (berlebihan) yang ia gunakan dalam unggahannya pun memicu beberapa kekisruhan baru.

Wendi Putranto. Manager band dari Seringai, dan juga komposer, menyatakan kekecewaannya pada pernyataan Erix.

“Lah, elo gak jadi menolak, rix? Kemaren bilang ama gue ikut menolak dan sepakat masuk di petisi nama elo nih. Jangan plin-plan. Ada bukti chatnya nih. Mau diupload, broh?,” tulis Wendi melalui akun @wenzrawk.

Lalu ada Arian13, vokalis Seringai, yang juga terkenal vokal, turut menegur Erix dan mengundangnya untuk berdialog.

“Rix, kalau menurutmu lebay, menurut gue tetap tolak karena gak ada urgensinya dan hasilnya kok jadi draft RUU berkualitas sampah. bisa revisi, tapi kenapa gak disosialisasikan sejak si draft RUUP kelar di Agustus 2017? kenapa kita semua tahu setelah draft ini masuk ke prolegnas dan termasuk prioritas? kenapa gak pakai UU-UU yang sudah ada dan berangkat dari sana tanpa harus bikin UU baru? kenapa naskah akademis yang jadi rujukan RUU ini berasal dari sumber yang tidak kredibel? masukan? memangnya pernah diajak ngasih masukan kah kok tiba-tiba mendekat agar disahkan? begitu. ayuk kita ngobrol, mana nih yang kiranya akan memberi benefit buat para pekerja musik. you too, @vega.antares. ????????” tulis @aparatmati

Tidak sedikit pula musisi yang mendukung sikap Erix. Diantaranya, Saykoji, David Naif dan Tantri Kotak.

Saykoji berkomentar “begitulah” melalui akun @Saykoji. Kemudian, David ‘Naif’ menulis “Aku Bersamamu” melalui @Davidvidbayu, sementara @tantrisyalindri berkomentar: “Iki lho, ngeten!”

Mantan jurnalis musik yang juga seorang komedian, Soleh Solihun, akhirnya membuka suaranya dan memberikan pandangannya tentang kebisingan RUU Permusikan dengan membandingkannya dengan undang-undang ITE.

“Gapapa sih gaduh dan lebay dulu biar didenger. di negara ini, takyat kadang butuh gaduh dulu suapaya suaranya diperhatikan. hehehe. dulu waktu uu ite masih ruu, banyak yang nolak juga, tapi gak sampe gaduh. akirnya ya liat aja sekarang: banyak orang yg kita liat gak bersalah, terjerat uu ite. semoga kegaduhan ini berujung baik dan menghasilkan uu yang bener mensejahterakan musisi,” kata @solehsolihun.

Untuk kamu ketahui, RUU Permusikan itu menimbulkan protes keras ketika draf nya menyebar ke publik (1/30). RUU ini dianggap mengandung berbagai masalah, mulai dari pengebirian kebebasan berekspresi melalui pasa karet hingga penciptaan kelas elit di kalangan musisi. RUU ini termasuk dalam daftar Program Legislasi Nasional.

Pekan lalu, beberapa pengiat musik nasional melakukan langkah untuk menolak RUU Permusikan, yang dianggap berisi pasal karet dan membatasi kreativitas musisi dalam menyuarakan kritik terhadap kondisi sosial dan pemerintah. Gerakan 262-anggota yang disebut Koalisi Nasional menolak RUU Permusikan.

Mudah-mudahan, masalah RUU Permusikan ini akan cepat diselesaikan dengan cara damai dan tidak akan menciptakan gelombang baru di kalangan musisi. Waktu sepak bola berisik, masa musik juga ribut!

(*)

Artikel ini sebelumnya telah tayang di era.id  – Reporter : Riki Noviana – Sumber : era.id


kepsir.com 


Previous Article

Tech : Google delete 29 beautify application camera

Next Article

Film: Johnny Depp akan berperan sebagai jurnalis foto Eugene Smith

MORE KEPS