Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

” Turn On, Tune In, and Drop Out ” – Timothy Leary

Psychedelic, bro apasih psychedelic itu? narkoba ya? apa genre musik? kenapa sih kok orang dikit-dikit ngomong psychedelic? Kali ini saya akan membahas sesuatu yang sangat saya sukai yaitu psychedelic, terlepas dengan culture mainstreamnya serta meme-meme yang mengolok oloknya, saya selalu senang dengan psychedelic.

IKQRFMN4CY7VEE6DNTR6MXPOE4 Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan
Source : Timothy Leary

Psychedelic, Culture dan Perlawanan

Apa itu psychedelic? kata “psychedelic” muncul pertama kali pada sekitaran tahun 1950an yang dikemukakan oleh psikiater Inggris, Humphy Osmond. Kata psychedelic berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘psyche’ dan ‘delos’ yang berarti ketenangan fikiran/jiwa, tetapi kebanyakan warga Amerika Serikat mendengar kata psychedelic dari sampul artikel majalah Time Life dengan judul sampul ‘ The Discovery Of Mushrooms That Cause Strange Visions ‘.

Dan pada tahun 60an terdapat pula slogan yang sangat khas yaitu ‘ Turn On, Tune In, and Drop Out ‘ yang di populerkan oleh Timothy Leary seorang psikolog Amerika. Hal tersebut, menjadikan psychedelic sebagai budaya baru dan sangat populer, banyak anak muda sampai dewasa mengunakan zat dan obat obatan psychedelic klasik seperti LSD, Magic Mushrooms, DMT dan Mescaline sebagai peningkatan kreativitas, pencarian-pencarian spiritual, dan bahkan referensi ide musik dan seni.

Psychedelic sangat pesat menjadi fenomena populer serta sangat melekat dengan musik rock and roll, tetapi tidak hanya itu, psychedelic juga menjadi simbol perlawanan terdahap Amerika Serikat yang melakukan perang dengan Vietnam. Banyak anak muda yang mendemontrasikan perdamaian serta mengutuk perbuatan Amerika Serikat saat itu. Perkara tersebut membuat Amerika sangat geram, tidak pikir panjang Amerika langsung membuat  suatu propaganda media yang memberi tahu bahwa psychedelic adalah ancaman besar. Bahkan majalah Time Life yang pertama kali memberitakan psychedelic kepada warga Amerika turut serta memberitakan narasi negatif, majalah Time Life menarasikan ‘ The Exploding Theat of The Mind Drug That Got Out Of The Control ‘.

Sampai saat itu Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ‘potensi tinggi penyalahgunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini ‘, dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap. Buah hal tersebut, membuat sekitar 34 negara yang tergabung dalam PBB melarang zat dan obat obatan psychedelic tertentu. Banyak negara pula yang memberitakan perihal buruk terhadap psychedelic lalu memperingatkan resiko kerusakan kromosom, cacat lahir, kecelakaan fatal, bunuh diri, psikosis, skizofrenia bahkan kerusakan otak.

Hari ini, ada sekitar 184 negara termasuk Indonesia telah menandatangani larangan terharap psychedelic, Lalu apakah psychedelic seburuk itu?

wp1901420 Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan
Source : Google

Penelitian Terhadap Psychedelic

Penelitian mengenai zat psychedelic pertama kali di lakukan oleh Albert Hoffman yang menguji zat tersebut pada dirinya sendiri pada tahun 1943. Pada saat itu, dia berfikir zat yang ia gunakan sangatlah sedikit, kira kira sekitar 250 mikrogram. Lucunya, pada obat-obatan lainnya, mikrogram itu setara dengan seperjuta gram. Dan 250 mikrogram adalah 2x lebih banyak di banding dengan dosis LSD biasa yang ada saat ini. Bisa kita semua bayangkan betapa trippynya dunia Hoffman pada saat itu? Selanjutnya setelah sadar kembali, Hoffman memulai kembali penelitiannya dan menawarkan LSD kepada 25 peneliti manapun secara gratis, lalu pada tahun 1960 penelitian Hoffman menemukan jalan menuju fasilitas kesehatan mental Spring Grove di Amerika Serikat. Tempat tersebut adalah tempat pemerintah federal mendanai uji coba untuk melihat apakah obat ini bisa membantu dalam mengatasi gangguan kejiwaan.

Pada saat itu, terdapat beberapa uji coba kepada beberapa pasien yang bernama Arthur King yang mengidap kecanduan berat akan alkohol, dan Peg McGinnis pengidap gangguan irrasional. Hasil awal penelitian tersebut sangat menjanjikan, Arthur tidak lagi menginginkan alkohol dan Peg mulai bisa menikmati kehidupannya. Sejak saat itu, banyak para ahli yang tertarik untuk meneliti psychedelic lebih lanjut. Tetapi sangat di sayangkan hal tersebut harus di hentikan, di karenakan peristiwa yang sudah di jelaskan tadi. Akan tetapi, kebanyakan studi dan penelitian yang dilakukan bertentangan dengan apa yang di propagandakan oleh Amerika Serikat. Menurut penelitian, Psychedelic tidak beracun atau adiktif  secara fisik dan tidak ada bukti yang mendukung kerusakan kromosom atau cacat lahir. Psychedelic juga dapat membantu orang orang untuk mengatasi kecanduan berat seperti rokok dan alkohol, membantu terapi kanker, mengurangi stress menjelang kematian, depresi, percobaan bunuh diri, membantu self control ego, dan bahkan menurut Mark Haden seorang ahli obat-obatan dalam Ted Talk mengatakan bahwa, psychedelic dapat membantu pengobatan Post Traumatic Disorder, serta meningkatkan empati yang dimana untuk saat ini, kita sebagai manusia telah terpecah belah oleh banyaknnya perbedaan, tidak peduli dengan alam, kesulitan mengenali diri sendiri, serta berkurangnya interaksi spiritual untuk memaknai tujuan dari kehidupan.

Screenshot 20200422 Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan
Source : The Journal Of The Royal Society Interface, 2014

Penutup

Penelitian terhadap obat-obatan dan zat psychedelic mulai di lakukan kembali dalam 1 dekade terakhir. Kita harus memulai kembali penelitian tersebut agar dapat mengetahui hal positif apa saja yang dapat diambil dari zat psychedelic dan berapa dosis yang aman untuk dikonsumsi. Jika di ingat kembali tujuan dari kesehatan publik adalah, ‘memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kecanduan/efek samping’ 
Mungkin di masa yang akan datang, psychedelic tidak hanya memberi inspirasi di bidang seni, tapi juga dapat berkontribusi untuk kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat di seluruh dunia.

So.. tunggu apalagi, mari kita mempopulerkan kembali slogan Timothy Leary yang sempat hilang yaitu ‘ Turn On, Tune In and Drop Out’.


Source :
The Mind Explained – Psychedelic. Netflix
Psychedelic : Past Present and Future. Ted Talk. Mark Haden
Psychedelic : Lifting The Vail. Ted Talk. Robin Carhart Harris.