Mental Health, Depresi Dan The Darkside Of Happiness

Apakah beban hidup yang berat adalah depresi? Mengapa pasien depresi selalu meningkat setiap tahun? Apakah depresi dapat membahayakan diri sendiri dan orang banyak? Dan mengapa depresi masih di anggap hal yang remeh temeh di masyarakat kita?

/

“ I am now the most miserable man living. If what I feel were equally distributed to the whole human family, there would not be one cheerful face on the earth. Whether I shall ever be better I can not tell; I awfully forebode I shall not. To remain as I am is impossible; I must die or be better, it appears to me.”

Abraham Lincoln.

Halo rekan-rekan semua, pada tulisan kali ini kita akan membahas seputar agenda nomor satu dunia saat ini. Apakah agenda besar kehidupan manusia saat ini? Agenda tersebut adalah Kebahagiaan.

Tidak hanya kebahagiaan yang akan kita bahas, kita juga akan berbicara tentang apa itu Mental Health serta juga Depresi. Di kehidupan dunia saat ini, yang dimana kita selalu mencari standar kebahagiaan di sosial media dan kita selalu membadingkan diri kita dengan orang orang yang bahkan kita tidak pernah mengenalnya sama sekali.

Agar kita bisa mengerti dengan jelas apa itu Kebahagiaan, dan terhindar dari simpang siur terhadap bagaimana cara kita mencari kebahagiaan, yuk langsung aja kita bahas bersama sama.

Bagian 1 :
Pengertian

Dibagian pertama ini kita akan bahas apakah itu kesehatan mental. Menurut wikipedia Kesehatan jiwa atau kesehatan mental adalah tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa. Kesehatan jiwa terdiri dari beberapa jenis kondisi yang secara umum dikategorikan dalam ‘kondisi sehat’, ‘gangguan kecemasan’, ‘stres’, dan ‘depresi’. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kesehatan jiwa yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Dalam perspektif neurosains, kesehatan jiwa bisa di capai dengan cara kita sebagai individu dalam hal ini adalah manusia bisa saling berkomunikasi dengan orang lain. Sebaliknya kesehatan mental yang buruk terjadi jika individu baik manusia atau pun binatang adalah mereka yang tidak mau/ tidak bisa berhubungan dengan individu lain.

Di dalam perspektif neuroains juga “ penderitaan “ itu sendiri muncul karena individu tersebut dalam keadaan sadar/aware. Dalam keadaan tidak sadar seperti contohnya pingsan, seseorang tidak akan merasa menderita. Tapi mereka bisa merespon rasa sakit.

Nah, sekarang kita bertanya tanya, dari manasih sebenarnya emosi seperti penderitaan, kebahagiaan, ketenangan, kesenangan dll itu muncul? Menurut para ahli, pusat pusat emosi tersebut muncul dari system kerja otak yaitu Limbik Sistem, dalam limbik sistem terdapat bagian bagian otak seperti Hypotalamus, Amigdala, dan juga Hippocampus.

Karena kesehatan mental itu sendiri adalah hasil kerja otak manusia yang sangat kompleks. Dalam kerja otak, otak juga menghasilkan bahan bahan kimia sendiri. Seperti Dopamine, Adrenaline, Endorpine, Serotonin dll.

Bahan bahan kimia seperti diatas nantinya akan membanjiri otak manusia, yang nantinya akan mempengaruhi perilaku manusia itu sendiri. Secara sederhana Adrenaline dapat membuat efek amarah, Endorpine dapat meredakan rasa sakit, dan Serotonin dapat mengasilkan perasaan nyaman. Tetapi perlu diingat juga bahan bahan kimia tersebut dapat menghasilkan efek yang berbeda beda jika membanjiri bagian otak yang berbeda pula.

Saya sendiri merasa kurang ahli dalam menjelaskan hal tersebut secara lebih mendetil, jadi saya menahan diri untuk tidak sembarangan memberikan informasi yang menurut saya belum saya pahami secara mendalam.

Bagian 2 : 
Depresi

Sekarang kita akan membahas apa itu sebenernya depresi? Apakah beban hidup yang berat adalah depresi? Mengapa pasien depresi selalu meningkat setiap tahun? Apakah depresi dapat membahayakan diri sendiri dan orang banyak? Dan mengapa depresi masih di anggap hal yang remeh temeh di masyarakat kita?

Sebelum membahas lebih dalam tentang depresi, alangkah baiknya kita tahu terlebih dahulu apa itu depresi. Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Semua orang pasti pernah merasa sedih atau murung. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga.

Menurut para ahli, depresi sendiri terjadi dan berakhir di dalam otak. Jadi depresi sendiri merupakan suatu persepsi diri. Gejala gejala depresi secara umum dimulai dari merasakan kesedihan yang berkepanjangan, menjauhi diri dari orang orang sekitar atau lingkungan, merasa dirinya gila, dan yang paling parah adalah melakukan percobaan bunuh diri.

Menurut data yang dilansir oleh WHO, saat ini ada sekitar 264 juta orang yang mengalami depresi diseluruh dunia. Hampir sekitar 800 ribu orang diataranya pernah melakukan percobaan bunuh diri diusia produktif 15–29 tahun. Dan 1 dari 5 orang di seluruh dunia pernah mengalami depresi, mulai dari depresi ringan sampai yang parah.

Depresi sendiri tidak berhubungan dengan kebahagiaan dan kesedihan. Seseorang yang sedang bahagia dapat mengalami depresi dan seseorang yang sedang sedih juga dapat mengalami depresi. Walaupun begitu, depresi sendiri tidak selalu mengahsilkan hal yang negatif. Kita ambil contoh, Abraham Lincoln yang menderita depresi dapat menjadi presiden Amerika Serikat dan menghapuskan perbudakan dan menciptakan keadilan di Amerika Serikat.

Lalu, apakah depresi ini adalah hal baru di kehidupan masyarakat modern saja? Faktanya dalam kajian kajian genetika, depresi sudah ada sejak zaman pemburu pengumpul. Namun seiring berjalanan waktu, perspektif kita melihat depresi menjadi berubah pula. Dahulu kala, kita mengangap depresi adalah hal sepele, namun sekarang, depresi menjadi agenda besar WHO dan menjadikan depresi menjadi masalah yang serius untuk ditangani.

Hal hal seperti diatas lah yang menurut saya mengapa semakin tahun penderita depresi jumlahnya semakin tinggi. Kenapa seperti itu? Karena teknologi terapan sains seperti kedoteran sudah semakin canggih. Dan sudah banyak penderita depresi yang melaporkan penyakit mereka tersebut. Walaupun ironisnya penderita depresi tidak mendatangi sendiri dokter atau psikiater, tetapi penderita masih dibujuk atau di ajak oleh kelurga serta teman teman terdekat.

Bagian 3 :
Cara Mengatasi

Sekarang kita masuk kepembahasan, bagaimana sih kita mengatasi kesehatan mental dan depresi? Sayangnya menurut para ahli neurosains, tidak ada cara yang benar dan salah dalam mengurangi depresi serta kesehatan mental.

Tetapi jangan khawatir, saya mempunyai sedikit opini subjektif saya sendiri bagaimana cara kita menanggulagi depresi dan kesehatan mental.

Dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang mengajarkan kita untuk hidup dan belajar seperti filsuf filsuf Stoic. Dalam buku ini ditawarkan bagaimana cara kita untuk melatih emosi dan kesehatan mental kita sendiri.

Dalam buku tersebut ditawarkan konsep S-T-A-R (Stop, Think & Assess, Respond)

Filosofi Stoic mengajarkanmu untuk menghadapi hal yang di luar kendalimu dengan menerapkan aturan yang pas. Menggantungkan kebahagian pada hal yang di luar kendali adalah sesuatu yang tidak rasional.

Untuk hal tersebut, kamu bisa melakukan S-T-A-R. Prinsip ini sendiri bisa kamu aplikasikan langsung dalam kehidupanmu sehari-hari. Bagaimana caranya?

Stop. Pada langkah ini kamu harus membiasakan dirimu untuk berhenti sejenak agar kamu tidak larut dalam emosi yang muncul. Artinya setelah hal yang tidak mengenakkan terjadi padamu, mengeluh tentu saja diperbolehkan. Hanya saja, ada batasnya sehingga tidak berlarut-larut dalam kesedihan.

Think & Assess. Setelah emosi tadi sudah mereda, kamu diminta untuk menilai emosi tersebut secara objektif dan rasional sehingga memunculkan jawaban yang baik untuk kamu ambil. Usahakanlah untuk memisahkan antara fakta dan interpretasi semata. Sehingga, hasil dari penilaianmu akan jauh lebih baik.

Respond. Hingga akhirnya, masuklah ke langkah respond sebagai hasil dari penilaianmu terhadap emosi tadi yang dipikirkan dengan sebaik-baiknya. Respon ini sendiri bisa dalam berbagai bentuk semisal ucapan dan tindakan. Yang diharapkan adalah respon yang akan kamu lakukan adalah hasil dari proses yang berpijak pada prinsip bijak, adil, dan berani.

Tidak hanya konsep yang ditawarkan diatas, kita juga bisa untuk bermeditasi, mengembangkan self awereness, melakukan hal hal yang kita sukai sendiri, dan tidak membandingkan kebahagiaan kita dengan orang lain.

Tetapi, dalam mengatasi depresi, kita sebagai orang terdekat yang mengetahui ada teman atau keluarga kita yang mengalami depresi, cara yang menurut saya baik adalah hanya mendegarkan mereka. Kenapa begitu? karena orang depresi tidak butuh saran atau masukan bahkan dukungan. Mereka hanya butuh didengarkan. Jika hal tersebut masih kurang efektif, obat obatan anti depresan adalah salah satu alternatif yang baik. Jika obat obatan anti depresan tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup manusia kenapa tidak kita gunakan? Walaupun begitu obat obatan anti depresan harus sesuai dengan takaran/dosis yang pas, tepat penggunaan, dan mengetahui efek sampingnya.

Bagian 4 :
The Darkside Of Happiness

Sekarang kita masuk kedalam the dark side of happiness. Apakah sebenarnya manusia ini sangat membutuhkan kebahagiaan? Dan apakah mencari kebahagiaan itu penting?

Kita mulai bahas dari kebahagiaan itu sendiri, menurut para ahli, kebahagiaan selalu berhubungan dengan reward dan punishment. Kebahagiaan itu sendiri selalu berhubungan dan berjalan beriringan dengan penderitaan/kekecewaan. Kenapa begitu? Karena dengan adanya penderitaanlah kita akan merasakan kebahagiaan. Tanpa adanya penderitaan, kebahagiaan hanyalah omong kosong belaka.

Lalu sekarang, apakah kebahagiaan itu penting? Faktanya kebahagiaan itu tidaklah penting bagi kehidupan kita. Semakin kita mencari apa itu makna kebahagiaan, maka kita akan jatuh kedalam jebakan kebahagiaan itu sendiri.

Sebenarnya kebahagiaan itu dibutuhkan hanya sebatas untuk dapat melanjutkan kehidupan saja. Kebahagiaan seharusnya berumur pendek, tidak perlu panjang. Kenapa begitu? Bukankah kita seharusnya bahagia selalu seperti kata para petuah petuah zaman dahulu kala?

Nah, disinilah sisi gelap dari kebahagiaan. Jika kita memiliki kebahagiaan yang berlebihan, hal tersebut akan mengacam kehidupanan kita. Kebahagiaan yang berlebih dapat menyebabkan kematian. Kebahagiaan berlebih akan membuat kita lupa untuk bertahan hidup.

Terdapat pula sisi negatif dari kebahagiaan, apa sajakah itu?

1. Mengurangi kesadaraan akan kehidupan

2. Mengurangi kreatifitas

3. Tidak aware terhadap ancaman bahkan kematian

4. Tidak memperhatikan detail

5. Dan, mengurangi rasa takut terhadap ancaman yang datang.

Sekarang, masihkan kita mencari apa itu kebahagiaan? Lalu jika bukan kebahagiaan yang kita cari, apakah tujuan kita untuk hidup?

Bagian 5 :
Penutup

Sebagai penutup, saya akan menjawab apakah arti dari kehidupan jika bukan mencari kebahagiaan? Menurut saya, tujuan kehidupan bukanlah mencari kebahagiaan, tetapi tujuan dari kehidupan adalah untuk melanjutkan kehidupan itu sendiri yang sudah hidup selama milyaran tahun ini.

Melanjutkan kesengsaraan, kepedihan, kesenangan, dan semua yang telah terjadi selama dunia ini pertama kali terbentuk. Itulah tujuan kehidupan yang sebenarnya.

Kita sebenarnya tidak perlu repot repot untuk mencari kebahagiaan, karena sebenarnya kebahagiaan itu akan datang sendirinya. Dengan mencitai diri sendiri, mencoba perlahan lahan melupakan memori memori buruk di dalam otak kita, melakukan hal hal yang kita minati, tidak memikirkan apa yang diluar kontrol kita seperti contohnya adalah perkataan buruk orang lain terhadap kita. Hal hal tersebutlah yang menurut saya dapat membuat kita mencapai ketenangan jiwa.

Sebelum saya tutup, belakangan ini saya memikirkan apakah di alam sesudah kehidupan nanti kita akan merasakan nirwana ( tanpa penderitaan sama sekali ) ? apakah disurga nanti kita akan bahagia selamanya? Bukankah yang kita tahu kebahagiaan itu sendiri waktunya sangat sempit dan harus ada penderitaan? Jika bahagia itu selama lamanya, bukankah itu bukan kebahagiaan? Karena kita merasakan hal yang sama berulang ulang selama kita abadi?

Apakah nanti kita tidak merasakan penderitaan? Seperti rasa bosan dan mungkin muak terhadap suguhan suguhan alam yang indah nan luas disana? Ataukah disana nanti kita hanya menyusuri keindahan alam sembari merenungi perbuatan perbuatan kita di dunia yang telah kita jalani sebelumnya?

Jika kalian berfikir hal hal tersebut tidak relevan karena menaruh subjektifitas kehidupan dunia ke dalam alam baka, tidakkah kalian terfikirkan sebaliknya? Kita melihat keindahan dan keburukan di dunia lalu menggambarkan atau mengimajinasikan hal tersebut menjadi surga dan neraka? Dan ataukah, kita sudah hidup di surga dan neraka sekarang? Akhir kata saya ucapkan sekian dan terima kasih.