isu rasisme dan pengetahuan sains

Isu Rasisme dan Pendekatan Sains

“white is good and pure and black is evil”

Aristoteles.

Memory kolektif umat manusia kembali muncul, seorang Polisi dari Minnesota Ameria Serikat, Derek Chauvin menekan leher seorang pemalsu uang Geogre Floyd selama 8 menit 46 detik. Fenomena itu sentak membuat seluruh umat manusia bersatu untuk tidak setuju kepada isu rasisme yang terjadi. Banyak demo besar besaran terjadi di Amerika pada kurun waktu beberapa hari yang lalu, penjarahan bahkan aksi kejar kejaran juga terjadi dengan polisi setempat.
Lalu mengapa rasisme masih saja terjadi di Amerika bahkan di dunia? padahal sudah banyak orang yang anti rasisme di abad ini. Kapan pertama kali hal ini terjadi di Amerika?

isu rasisme dan pendekatan sains
sumber: Google

Sedikit Sejarah Kelas Kelas

Pada tahun 1776 Amerika menciptakan heirarki sosial dengan kulit hitam serta Indian Amerika. Mereka di anggap manusia golongan rendah, banyak menularkan penyakit, tidak memiliki hak sosial serta dianggap sebagai budak. Kebebasan juga memiliki konotasi yang sangat berbeda dari masa kini.
Pada 1776 kebebasan tidak berarti bahwa kaum papa (tentu saja kulit hitam, Indian, atau yang dilarang Tuhan seperti perempuan) boleh mendapatkan dan menjalankan kekuasaan. Semenjak saat itu, banyak para orang kulit putih yang membeli dan menjadikan orang kulit hitam sebagai budak. Parahnya lagi banyak dari mereka yang ikut menandatangani Deklarasi Kemerdekaan itu adalah para pemilik budak. Mereka tidak membebaskan budak saat menandatangani deklarasi, tidak juga menganggap diri mereka hipokrit. Dalam pandangan mereka, hak-hak manusia tak banyak berhubungan dengan Negro.

Bahkan filsuf sekelas dan sebesar Aristoteles mengatakan bahwa orang kulit hitam memang memiliki ” sifat budak ” dikarenakan budaya yang mereka anut memaksa mereka untuk terus terusan menjadi seorang budak. Jika di tarik lebih jauh lagi kita sudah menciptakan hierarki sejak dahulu kala, contohnya dari Undang-Undang Hammurabi, yang menciptakan tata tingkatan golongan kelas atas, orang biasa, dan budak. Kelas atas mendapatkan semua kebaikan dalam hidup. Orang biasa mendapatkan sisanya. Budak mendapat pukulan jika mengeluh.

Jangan juga lupakan tatanan hierarkis orang Hindu yang beranggapan matahari diciptakan dari mata Purusa, bulan dari otak Purusa, kaum Brahmana dari mulutnya, Kesatria dari tangannya, Vaishya (petani dan pedagang) dari pahanya, dan Shudra (pelayan) dari kakinya.
Dan Orang China kuno percaya bahwa ketika Dewi Nii Wa menciptakan manusia dari tanah, dia memeras dari tanah kuning yang bagus untuk kaum aristokrat, sedangkan orang biasa dibuat dari lumpur cokelat.

Perspektif Sains

Dalam perspektif biologis faktanya kulit hitam dan kulit putih memang berbeda. Jika kita lihat bersama kita sangat mudah sekali membedakannya, dari pigmen warna kulit, perbedaan rambut, struktur tubuh, bahkan DNA yang di bawa dari kulit hitam pun berbeda. Kenapa hal diatas bisa terjadi? salah satunya adalah karena faktor lingkungan. Orang kulit hitam sudah sejak lama menjadi budak lapangan, mereka lebih cenderung berada di bawah sinar matahari di bandingkan dengan orang kulit putih. DNA mereka bermutasi dan di turunkan kepada anak cucu mereka agar bisa terus berkembang biak.

photo 1567427018141 0584cfcbf1b8 Isu Rasisme dan Pendekatan Sains
sumber: Google


Proses hierarki yang di ciptakan juga bukan tanpa alasan, kita manusia harus menciptakan heirarkis agar memudahkan satu sama lain untuk bekerja sama. Mungkin sekarang kalian terheran heran, dan berlawanan dengan ideologi kalian masing masing. Tetapi faktanya memang begitu, manusia memang harus menciptakan fiksi semacam tatanan/heirarki kelas kelas, karena hierarki memungkinkan orang-orang yang benar-benar tidak saling mengenal tahu caranya memperlakukan sesama tanpa membuang-buang waktu dan energi yang dibutuhkan untuk kenal secara pribadi.
Pada akhirnya, kita sudah sama sama lupa bahwa kita hanyalah spesies monyet yang sama. Perjalanan evolusi lah yang membuat kita ‘lebih manusiawi’ daripada sebelumnya,sehingga kita lupa bahwa kita hanyalah binatang. Hal receh seperti perbedaan warna kulit hanyalah hasil budaya dan proses bertahan hidup yang panjang.

Penutup

Sekarang, kita di hadapkan dengan penilaian moral. Siapakah yang berhak menilai kelas mana yang lebih tinggi dari kelas lainnya? Dan kulit mana yang lebih bermoral dari pada kulit yang lainnya?
Isu rasisme memang selalu terjadi di depan wajah kita sehari hari, dari kita membuka mata sampai kita menutupnya kembali. Hal tersebut memang sudah menjadi kebiasaan yang ada di masyarakat perkotaan maupun perdesaan.
Sekarang, bagaimana jika kita tidak melulu menyikapi dengan serius isu rasisme yang beredar, bagaimana jika kita menanggapi isu rasial sebagai pendekatan kekerabatan? Dan jika memang di lontarkan dengan makian, lalu menanggapi dengan amarah, berarti sama saja kita setuju dengan apa yang di lontarkan oleh makian tersebut bukan? Dan berarti kita belum bisa melupakan dan menerima sejarah panjang yang kelam itu bukan?

Saya juga kurang setuju dengan istilah political correctness, untuk menyebut orang orang kulit hitam/asian/perempuan dll dengan bahasa yang lebih sopan, karena munurut saya siapa pula yang berhak untuk menilai kata mana yang harus di pakai dan mana yang harus di hindarkan untuk memanggil sesama manusia?

Sebelum saya tutup, saya kurang mengerti mengapa masih saja banyak orang orang yang berteriak teriak tentang keadilan kulit hitam, tetapi mereka masih menggunakan alat alat pemutih wajah serta kosmetik dan malu jika terlihat hitam? apakah itu masuk akal? atau mereka tidak menyadari hal tersebut?
Itu saja yang bisa saya sampaikan maaf jika ada yang tersinggung, sekarang saya tutup dengan kata terima kasih dan jangan lupa minum air putih hehe...


Editor: