fbpx

Interview: Geliat Musik Punk Rock di Lampung bersama Luthfi Fatman


Image 7fef2df

Luthfi adalah salah satu seorang pegiat musik punk rock di Lampung bersama dengan band punk rock Fatman. 
Mr.Keps berkesempatan berbincang bersamanya mengenai geliat musik punk-rock dan semangat DIY (Do It Yourself) dalam kancah musik punk-rock di Lampung.

Mr. Keps (M) berbincang dengan Luthfi (L)
__

M : Gimana lu pertama kali berkenalan dengan musik punk-rock?

L : Gue denger musik punk rock pertama kali sih waktu gue SD. Kebetulan alm. bokap gue punya beberapa koleksi CD musik band-band underground tapi belum tau kalo beberapa yang gue denger itu adalah musik punk. Mulai nyari-nyari tau tentang punk rock itu sendiri sih waktu gua baru masuk SMP.

M : Ada bidang lain yang membuat lu tertarik gak, tapi secara sadar memang ngerasa belum atau enggak mampu ngejalaninya?

L : Gua sih punya cita-cita pengen jadi produser musik atau punya record label independent yang berbasis nasional ya kalo bisa si internasional. Sebenernya selain karena keresahan gue sebagai musisi independent di Lampung yang serba “keterbatasan”, mungkin itu bisa jadi movement atau solusi untuk ngebantu berkembangnya musisi underground  khususnya di Lampung. Tapi baru cita-cita sih.

M : Seperti apa batasan istilah “musik underground” di Lampung pada era sekarang? Atau emang ada istilah yang lebih tepat untuk mewakili wilayah kiprah lu?

L : Mungkin lebih tepatnya musik independen ya kalo istilah sekarang. Menurut gue batasan musik independen itu sendiri terutama di Provinsi Lampung ketika musisi tersebut masih punya kebebasan mengekspresikan musiknya tanpa ada batasan harus mengikuti minat “pasar” dan juga bebas dalam menentukan goals mereka sendiri seperti apa.

M : Seberapa pedulinya lu dengan komodifikasi dalam wilayah musik punk-rock?

L : Mungkin gue gak bisa bilang sepeduli apa gua dengan komodifikasi. Tapi gue bisa kasih contoh; bahwasanya setiap gue buat sesuatu pasti ada movement dibalik itu, ketika Fatman rilis album pertama itu sudah sebar movement sebenernya bahwasanya tidak ada alasan untuk tidak berkarya walaupun dalam keterbatasan. Selain itu di showcase mini-concert pertama juga Fatman mengajak brand-brand lokal untuk ikut berpartisipasi dan mendapatkan haknya secara fair. Jadi gue sama anak-anak gak cuma-cuma minta support ke mereka tapi kita promosikan secara intens sepanjang acara serta kita sediakan lapak promosi dan dilibatkan dalam iklan serta dokumentasi seperti youtube, instagram dan lain-lain. Yah contoh kecilnya seperti itulah.

M : Apakah lu merasa punya selera musik yang unik (underground), atau malah punya pandangan tertentu tentang selera musik?

L : Ya sebenernya untuk sekarang secara pribadi gue sendiri gak mau terjebak ideologi-ideologi dalam musik terutama punk yang punya pakem atau kotak tertentu dalam musik. Jadi menurut gue setiap musik itu punya penikmatnya sendiri dan gak ada yang salah sama perbedaan dalam hal itu.

M : Gimana lu menilai kualitas musik punk? Mengingat ada sifat dekonstruksi di dalamnya?

L : Seperti yang gue bilang tadi, gue gak mau terjebak dalam ideologi-ideologi punk yang absolut. Sebab menurut gue sendiri ketika musik punk itu membawa perubahan baik secara pola pikir atau perilaku bahkan membawa movement positif itu jauh lebih “punk” menurut gue ketimbang musisi yang sangat punk secara fashion tetapi secara movement nol besar. Punk bukan fashion, punk itu movement.


M : Dari pengalaman lu bergaul dengan banyak pegiat kancah musik punk-rock, seperti apa posisi kancah musik punk-rock Lampung di mata lu?

L : Masih sangat dibutuhkan edukasi mendalam mengenai definisi punk ini. Di Lampung sendiri gue belum liat seperti apa musisi punk yang bener-bener bisa dijadikan barometer. So, educate ur self first! Jangan budayakan “tong kosong nyaring bunyi nya”.

M : Di era sekarang, sejumlah pihak mengatakan bahwa rilisan fisik dewasa ini harus berjibaku menghadapi tren digital. Padahal, bisa saja sebenarnya sekarang emang sudah jaman digital di mana justru rilisan fisik yang seharusnya kita sebut sebagai tren. Gimana menurut lu?

L : Semua harus disikapi secara bijak, karena tren itu sendiri kadang memutar balikan hal yang gak independen menjadi independen dan sebaliknya. Jualan yang efektif sekarang memang di dunia digital mengingat pembajakan semakin marak dan jualan musik di dunia digital bisa meminimalisir hal itu. Namun status rilisan fisik disini bisa dikategorikan sebagai alat yang sangat sakral bagi musisi dan penikmatnya dimana rilisan fisik mampu menjadi buah tangan yang menjadi saksi sejarah di tiap karirnya. Jadi gak ada yang salah dengan mencetak rilisan fisik di jaman maju seperti sekarang ini.

M : Seberapa percayanya lu dengan kebutuhan untuk beradaptasi terhadap kemajuan teknologi dalam mengembangkan kancah musik punk-rock?

L : Wah sangat percaya, mungkin seharusnya dengan kemudahan seperti sekarang bisa memudahkan para musisi dalam mengembangkan karyanya. Gak hanya punk, setiap skena musik independen justru mampu berkembang secara mandiri. Tapi yang harus diingat, jangan sampai kemudahan teknologi menjadikan musisi menjadi pasif, tetap jaga komunikasi dan silaturahmi secara langsung dengan lingkungan.

M : Kira-kira apakah lu akan tetap melakoni sebagai penggiat musik punk-rock pada 20 -30 tahun lagi?

L : Ya seharusnya sih iya. Baik sebagai musisi atau produser, atau bisa jadi jurnalis. Hahaha…

Previous Article

Sushi Bugil - Perkara Seni atau Semata-mata Seks?

Next Article

Freedom – Setelah Sukses Getarkan Panggung Bengkulu, Band Hardcore Asal Metro Ini Berencana Getarkan Panggung Lampung Timur

MORE KEPS