fbpx

Sampah Visual dan ke-Goblokan Yang Haqiqi

adipura1

Well, gue akan membahas tentang narsisme di sini. Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri. Dengan sebuah pengontrolan yang baik, setiap orang dapat memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dengan hubungannya dengan orang lain. Dengan pengontrolan diri seperti itu (terhadap narsisme) orang akan kagum, kepsir (rispek), dan mungkin saja bisa suka sama lo. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, jangan heran kalau orang akan enek dan nganggep gaya lo ketinggian sehingga ada potensi lo ditabrak pesawat.  Pesawat Jet  tempur T-50 punya Rusia.

Dari Rusia gue akan mengajak lo ke Bandar Lampung. Kota dimana yang katanya tapis berseri, dengan lampu-lampu led yang melingkar di pohon sehingga membuat pohon tersebut tampak alay saat malam, Bandar Lampung terus bersolek dengan berbagai keindahan berikut antithesisnya. Sifat Narsisme juga dimiliki warga Bandar Lampung atau lebih globalnya Provinsi Lampung. Terutama menjelang tahun politik. Mungkin apa yang gue jabarkan tentang narsisme di atas mewakili apa yang terjadi di sini. Narsisme yang pada akhirnya menjadi over dan menjadi penyakit kepribadian.

Bagi mereka yang berduit atau memiliki kepentingan khusus kepada arah politik tertentu, mereka berlomba-lomba narsis dengan memajang pas fotonya di baliho atau reklame di jalanan utama Bandar Lampung. Posenya simple, cuma senyum dengan nama mereka di bawah fotonya berikut kalimat ucapan apapun di samping fotonya. And than, nobody cares!

Bagi kaum muda yang bergerak di bidang visual art atau aktif dalam pergerakan independen, foto-foto mereka di baliho kota itu membuat sebuah pertanyaan besar.

YA APASIH?   

Mari kita bahas.

YA APASIH PASAL 1. Sampah visual

Di sini gue nggak akan menyalahkan percetakan, karena gue tahu percetakan pasti sama kayak cewek, gak mau disalahin. Gue juga nggak akan menyalahkan para orang-orang terhormat yang memajang fotonya besar-besar di baliho Bandar Lampung, karena kalau mereka disalahkan, mereka akan marah kayak emak-emak yang kehilangan tupper wearnya. Di sini gue mau ngedumel aja sih.

Sebenarnya gue itu peduli sama bapak atau ibu yang hobinya majang foto di baliho. Seharusnya bapak atau ibu itu mbok ya perbaiki dulu taste art yang ada dalam dirinya. Pada sadar nggak sih kalau sebenarnya itu norak banget?  Senyam senyum dengan editan asal, bekas crop yang masih kelihatan, font yang nggak jelas kayak ramalan cuaca dan kegoblokan-kegoblokan lain yang bisa dinilai dari kacamata visual art. Parahnya semua 90% baliho yang ada di Bandar Lampung, terutama baliho yang dimana memuat foto orang-orang yang “katanya wakil rakyat” memiliki pola kegoblokan visual yang sama. Maka nggak salah dong kalau gue bilang itu sampah visual, ngerusak mata, dan bikin pingin ngehina.  Tapi sayangnya sampah visual itu masih terus marak bertebaran dan nggak bisa dibersihkan sama Dinas Tata Kota.

YA APASIH PASAL 2. Nggak Menarik

Ada beberapa sampah yang bisa di daur ulang dan jadi olahan yang menarik, tapi bagaimana dengan sampah visual? Gimana cara mengolahnya? Mungkin cara mengolahnya dengan cara nulis di sini. Entah karena orang-orang ini punya budget terbatas atau nggak ngerti seni tapi maksain buat sebuah visual di kota, efeknya bisa panjang dan bahaya lho (kita bahas di pasal terakhir).

Lo semua lihat deh, ketika lo jalan ke Bunderan Adipura, beberapa reklame yang memuat foto, Pak Nganu atau Bu Itu nggak sekeren reklame perusahaan rokok atau toko kue artis yang menjamur. Come on, di Bandar Lampung itu banyak lho Visual Artist yang kece, kenapa sih mereka nggak dimanfaatkan? Kenapa? Kenapa selera kalian  buruk kayak film-film Hanung?


YA APASIH PASAL 3. Diikutin Calon Politisi Muda

Politisi lahir dari kampus-kampus dan di kampus itu ada yang namanya Pemira (Pemilihan Raya) semacam  pemilu di kampus buat milih presiden dan wakil presiden mahasiswa. Lucunya atau tololnya, para calon presiden dan wakil presiden mahasiswa ini ngikutin cara-cara yang dilakukan politisi-politisi senior yang bertaste rendah. Mereka masang reklame di kampus (walau dibatasi di beberapa titik di kampus) yang visualnya sama aja kayak senior-seniornya di luaran. Kok ya pada kampret gini, sih? Come on, guys! Apa di masa depan nanti reklame –reklame jelek akan masih bertaburan jadi sampah visual di Bandar Lampung?

Tuh! Udah gue jabarin tentang narsisme yang kebablasan di kota ini. Miris sih lihatnya karena nggak ada yang bersuara untuk itu. Entah karena nggak peduli atau takut? Tapi yang jelas kalau pola seperti ini dibiarin aja, kota kita bukan akan semakin keren, tapi malah akan semakin norak dan APASIH BANGET dibanding kota kota lain.

Oleh :  Billy the Kid

Previous Article

Sepanjang Dekade 90-an, Bisa Dibilang Islam adalah Agama Resmi Hip-hop Pada Waktu Itu.

Next Article

Kolektif Bodo Amat dari Pengangguran Banyak Aksi

MORE KEPS
af6ba8193317d0b0e36c30b3657a13eb
Read More

Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

Sampai sampai Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ' potensi tinggi penyalah gunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini '. dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap.
image
Read More

Dramaturgi Kehidupan Media Massa.

Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton.
filosofi kecoa
Read More

Filosofi Kecoa

Kita boleh saja dibenci, kita boleh saja down, kita boleh saja mengalami depresi, kita boleh saja terjungkal dan terhempas keras. Tetapi, apakah semua hal tersebut kita diamkan begitu saja? Tidak! Kita harus meniru apa yang dilakukan oleh kecoa ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Jika kita hanya diam dan tak mampu berjuang, semestinya kita malu terhadap makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan tersebut.

Long Live The Scene!

Mengatasnamakan diri sebagai pencinta musik pastinya akan menuai konsekuensi dan beban tersendiri. Saat semua nya bersandar pada teknologi…