fbpx

Long Live The Scene!

Mengatasnamakan diri sebagai pencinta musik pastinya akan menuai konsekuensi dan beban tersendiri. Saat semua nya bersandar pada teknologi dan peranan internet membuat kita secara tidak langsung harus berkejaran dengan kemajuan jaman dan diperbudak oleh trend.

Trend, yang dulu mungkin akan dipandang sebagai aplikasi modern life style, saat ini dapat berubah secara periodik, bagai mesin waktu, membawa trend lama berulang. Hanya saja ada yang ditambah bahkan dikurangi dan di mix dengan kreatifitas modern yang lebih fresh. Semakin banyaknya referensi dan influence dari budaya barat, dimana musik secara universal menjadi bentuk konkrit dari pengembangan bahasa. Ya, music is an universal language. Dan salah satu penghargaan terhadap hal itu adalah Komunitas. Sebagai makhluk yang terlahir dengan insting bersosialisi, mungkin sebutan komunitas tidaklah
aneh.

giphy

Itu karenanya, untuk membahas komunitas, saya tidak pernah kehabisan akal. Begitu banyak yang harus dibahas, dari segi apapun bisa dijadikan inti. Jadi, ngga perlu basa – basi panjang untuk memulai ini semua.

Tiap komunitas pasti punya karakter masing-masing, dan komunitas musik indie yang akan saya bahas saat ini.

Sebagai penikmat musik, sudah sekian lama saya berusaha untuk memahami dan mendalami setiap celah – celah yang ada. Untuk kota Lampung sendiri, begitu banyak komunitas yang ingin saya bahas. Begitu banyak hal yang menarik dan layak untuk di teliti, mengingat karakter orang Lampung tidak hanya penikmat musik tapi juga mempunyai waktu dan pikiran yang lebih luang untuk menjadi pengamat. Ini hal yang bisa dibilang seru, bila membahas uniknya hubungan antara musik dan komunitas itu sendiri. Semakin banyak event atau gigs yang ada, semakin banyak penikmat musik, semakin beragam komunitas yang ada. Ini yang menarik bagi saya, membahas komunitas itu sendiri. Maka bermunculan lah banyak pertanyaan di otak saya. Ada apa dengan trend komunitas ini? Siapa otak-otak jenius idealis yang mau ribet dengan hal-hal yang berhubungan dengan mempertahankan ke-eksis-an suatu komunitas? Apa yang mendasari mereka memutuskan unite dan membentuk suatu koloni, berusaha mengangkat pride dari musik kegemaran mereka? dan banyak lagi pertanyaan – pertanyaan yang kalo dijadikan soal, pasti akan dijawab dengan senang hati oleh kalian yang memang penikmat bahkan pelaku musik sejati.

Kembali lagi kepada istilah: musik adalah bahasa universal. Dimana seharusnya dibahasakan secara verbal menjadi alat yang kebetulan bersifat menyenangkan, dan manusiawi membuat kebahagiaan yang sederhana.

Saat bertemu dengan kata “komunitas”, secara tidak langsung mungkin ada anggapan bahwa hal tersebut bisa berubah bentuk, yang tadinya berbentuk lingkaran, akhirnya menjadi pengotakan. Komunitas, yang positif nya bisa menjadi suatu wadah untuk pengekspresian dan pencurahan kreatifitas kadang ternodai oleh ego masing-masing, yang kita sebut sebagai: pengekslusifan komunitas. Yang bisa kita yakini, semua itu tidak terlepas dari attitude masing-masing personal.

Oleh karena itu, menurut saya peranan suatu komunitas disini sangatlah penting. Mereka harus memikirkan bagaimana cara nya tetap berpegangan pada masing-masing roots, akan tetapi tidak harus saling meng-eksklusifkan diri. Perlu di garis bawahi, komunitas bukan lah ajang pengelompokan orang atau jenis musik tertentu, tapi wadah bagi para musisi,  penikmat bahkan pengamat musik itu sendiri.

Kesimpulannya, tulisan ini bukan suatu propaganda untuk membuat kita terpaku pada satu komunitas, akan tetapi sebagai bukti penghargaan pada semua scene yang ada. Harapannya, dengan ini kita secara jelas tidak berpihak pada satu komunitas saja, atau bahkan memandang sinis komunitas lain, tapi berusaha menghargai setiap usaha yang telah dibangun oleh setiap scene-nya.

LISTEN, RESPECT, BUILD!

2Q==

Warga sipil, hobi minum-minum, rutinitas merokok.
Instagram \ Twitter


kepsir.com 

Previous Article

Bersama Raye Shabrina, NOEU, Music Producer pendatang baru, merilis ‘Unaware’ sebagai single ke-2 di tahun ini!

Next Article

Dispencer, Grunge dari Medan merilis album keempat mereka dengan tajuk "4"

MORE KEPS
af6ba8193317d0b0e36c30b3657a13eb
Read More

Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

Sampai sampai Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ' potensi tinggi penyalah gunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini '. dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap.
image
Read More

Dramaturgi Kehidupan Media Massa.

Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton.
filosofi kecoa
Read More

Filosofi Kecoa

Kita boleh saja dibenci, kita boleh saja down, kita boleh saja mengalami depresi, kita boleh saja terjungkal dan terhempas keras. Tetapi, apakah semua hal tersebut kita diamkan begitu saja? Tidak! Kita harus meniru apa yang dilakukan oleh kecoa ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Jika kita hanya diam dan tak mampu berjuang, semestinya kita malu terhadap makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan tersebut.