fbpx

KOES BERSAUDARA; KOES PLUS DAN MISI HIDDEN TANAH AIR.

PICT POST NEW 2018 BOTROK


Mungkin masih banyak yang belum kita tidak ketahui mengapa mereka Koes Bersaudara bisa masuk penjara di rezim Presiden Soekarno pada saat itu. Dari berbagai sumber buku dan penulis serta pengamat musik nasional banyak yang membedah kasus ini hingga lapis permukaan masyarakat sampai para penikmat Koes Plus (pada kala itu masih bernama Koes Bersaudara).

Bermula dari fatwa seorang Presiden Soekarno bahwa rakyat Indonesia harus anti musik NGAK NGIK NGOK (kata lain anti music Rock and Roll).  Musik – musik yang berasal dari luar harus enyah dari daratan bumi Indonesia yang tak lain adalah kepentingan politik Negara Presiden Soekarno yang tak mau kalau bangsa dan rakyat Indonesia masih terpengaruh dari negara – negara yang pernah menjajah tanah air kita.

Seperti kutipan pidato Bung Karno pada saat HUT GMNI 1965 :

JANGAN SEPERTI KAWAN – KAWANMU KOES BERSAUDARA. MASIH BANYAK LAGU INDONESIA, KENAPA MESTI ELVIS-ELVISAN, BER-NGAK-NGIK-NGOK. 

IMG 20180801 161814

Kutipan ini berasal dari Djon Koeswoyo, putra tertua dari Tonny Koeswoyo, di ambil dari buku Kisah dari Hati KOES PLUS.

Lalu apa hubunganya dengan Koes Bersaudara (Koes Plus) dengan rezim itu?

Tentu jelas saling berhubungan. Sang pemilik rezim menolak akan musik demikian sedangkan musik-musik Koes Bersaudara menganut aliran rock and roll yang ter-influence dari band besar asal Liverpool Inggris, yakni The Beatles dan penyanyi solo rock and roll nyentrik Elvis Persey.

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah kapan dan alasan kenapa Koes Bersaudara dipenjarakan pada rezim Bung Karno? Koes Bersaudara masuk penjara di rezim Bung Karno pada tanggal 29 Juni 1965 Glodok dibilangan Jakarta pusat. Masyarakat dan media bertanya mengapa mereka harus masuk bui tanpa alasan?

Disinilah jawaban kenapa mereka harus masuk penjara glodok di tahun 1965 ? Para personil Koes Bersaudara; Tonny Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, Yok Koeswoyo dan Yon Koeswoyo, rupanya adalah mereka menjadi salah satu misi Negara yang dibentuk oleh Bung Karno melalui utusan Kolonel Laut Koesno, seorang perwira dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) sebagai bagian misi intelegent Negara untuk memata-matai Malaysia yang antipati terhadap tanah air kita.

ADVERTISEMENT-


Misi yang sengaja dibuat oleh Bung Karno memanfaatkan popularitas Koes Bersaudara di Negeri Jiran Malaysia yang dari awal Indonesia tidak setuju dibentuknya Negara Malaysia bentukan inggris (dulu bernama Malaya). Skenario yang dibuat oleh Bung Karno memang benar-benar hanyaKoes Bersaudara dan Bung Karno yang tahu. Dibuatnya polemik seakan – akan Bung Karno dan rakyat Indonesia sangat benci dengan Koes Bersaudara dengan memberi kesan setelah keluar nanti Koes Bersaudara akan hijrah dari tanah air ke Malaysia lalu diterima oleh pemerintah dan rakyat Malaysia
sehingga praktis Koes Bersaudara mudah mengamati politik negeri Malaysia.

Singkatnya pada tanggal 24 Juni 1965, pada saat Koes Bersaudara diundang pesta di kediaman bapak Kolonel Laut Koesno di Jl. Djati Petamburan II A , saat pesta yang berjalan meriah itu tiba-tiba saja kerumunan masyarakat berteriak “Ganyang nikolem dan ganyang ngak ngik ngok. lagu-lagu the beatles dan barat popular yang memang dilarang pada rezim pemerintahan Bung Karno.”

Dan pada tanggal 29 Juni para personil Koes Bersaudara akhir nya harus mendekam di tahanan kejaksaan di jalan Gajah Mada sebelum mereka di pindahkan ke penjara Glodok. Koes Bersaudara pada waktu itu memang dirancang sedemikian rupa sebagai korban karena membawakan lagu-lagu The Beatles. Ketidak-tahuan Koes Bersaudara membuat Tony Koeswoyo, kakak mereka sekaligus Leader di Koes Bersaudara merasa dikorbankan dan melampiaskan kekecewaannya dalam album To The So Called The Gulties yang mengisahkan pengalaman mereka di penjara (kutipan dari buku Kisah Dari Hati KOES PLUS).

Itimidasi didalam penjara pun tak luput mereka rasakan saat baru memasuki penjara glodok. Sambutan pekikan ketika mereka memasuki lorong – lorong sel, terikaan; tahanan baru…. tahanan baru… membuat suasan bagi para personil  Koes Bersaudara amat sangat mencekam kala itu, akan tetapi dalam suasana yang sama mereka dikejutkan sosok seseorang yang sudah lama dikenal Yok Koeswoyo, seorang preman wilayah pasar mayestik di bilangan kebayoran baru yang bernama Bambang Sembuto.

“Hee… Biarkan mereka masuk, itu teman-temanku dari  Koes Bersaudara” – kompas, 13 oktober 2004.

Teriakan koor penghuni lapas pun berubah “hidup  Koes Bersaudara…  Koes Bersaudara… hidup Koes Bersaudara…” suara yang kedengaranya lebih merdu daripada sambutan penonton pada saat  Koes Bersaudara manggung.

Suasana mencekam pun mereka rasakan kembali menjelang mereka keluar dari lapas glodok, mereka merasakan suasana mencekam “kala itu terjadi perkelahian massal antara dua kelompok etnis tertentu di penjara glodok. Amat sangat mengerikan mereka melihat tubuh korban lawan itu dipotong-potong dan cipratan darahnya membasahi dinding – dinding penjara.“ – sumber laman kompas 13 oktober 2014.

Pada 29 september 1965 mereka dibebaskan begitu saja dimalam hari,  Koes Bersaudara pun terheran-heran pada saat mereka keluar dari penjara Glodok dan mereka melihat banyaknya kendaraan lapis baja yang berhulu hilir di jalan raya ibu kota. Mereka pun tidak menegtahui kalau dini harinya Indonesia mengalami masa sejarah yang amat kelam. Jika tidak terjadi peristiwa G30S (gerakan 30 september 1965) mereka  Koes Bersaudara hampir pasti dikirim ke Malaysia dalam melaksanakan misi Negara, dan misi ini pun gagal di jalankan sehubungan dilengserkanya Presiden Soekarno dari jabatannya.

Epilog dalam tulisan ini saya tulis dari berbagai sumber buku dan narasumber bahwa Koes Bersaudara bukan hanya sebuah band melainkan mereka TONY, NOMO, YON, dan YOK KOESWOYO bagi saya mereka lebih dari itu lebih dari sosok band idola yang menginspirasi di blantika musik nasional, menurut saya mereka adalah Pahlawan Indonesia yang rela mengorbankan jiwa raga nya untuk masuk dalam misi Negara.

Memang mereka tidak berjuang dengan harus perang yang bermandikan darah seperti para pejuang nasional lain nya, bagi saya Koes Bersaudara adalah pahlawan musik sekaligus pahlawan nasional asal Tuban Jawa timur yang gigih yang mungkin tidak akan pernah dialami dengan band – band masa kini yang rela mengorbankan jiwa dan raga nya untuk tanah air.
Dengan Koes Plus (Tonny, Yon, Yok, Kasmurry) pun di era orde baru keperintahan Soeharto mereka melanjutkan misi untuk mengintai Timor Leste yang pada saat itu Presiden Soeharto ingin mengetahui mana saja masyarakat Timor Leste yang pro dengan tanah air dan Protugis di tahun 1974 sebelum mereka lepas dari tanah air dan memerdekakan diri di tahun 1999 silam.

Wajar atau berlebihankah kalau Koes Bersaudara atau Koes Plus saya anggap sebagai pahlawan nasional?


POST AUTHOR BOTROK

Koe koe konco mumet. Raeneng aku koe mumet. Eneng aku sandiwara kelabu. Utamakan silaturahmi DOOOR TU DOOOR.
Instagram


[right-side]

Previous Article

Kolektif Teman Djajan Buka Workshop Seni Cukil. Ikutan Yuk!

Next Article

Pertengkaran antara Seringai dengan Iko Uwais di "Adrenaline Merusuh"

MORE KEPS
af6ba8193317d0b0e36c30b3657a13eb
Read More

Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

Sampai sampai Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ' potensi tinggi penyalah gunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini '. dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap.
image
Read More

Dramaturgi Kehidupan Media Massa.

Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton.
filosofi kecoa
Read More

Filosofi Kecoa

Kita boleh saja dibenci, kita boleh saja down, kita boleh saja mengalami depresi, kita boleh saja terjungkal dan terhempas keras. Tetapi, apakah semua hal tersebut kita diamkan begitu saja? Tidak! Kita harus meniru apa yang dilakukan oleh kecoa ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Jika kita hanya diam dan tak mampu berjuang, semestinya kita malu terhadap makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan tersebut.

Long Live The Scene!

Mengatasnamakan diri sebagai pencinta musik pastinya akan menuai konsekuensi dan beban tersendiri. Saat semua nya bersandar pada teknologi…