fbpx
image

Dramaturgi Kehidupan Media Massa.

Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton.

Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton.

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba membongkar sebuah teori yang dikemukakan oleh seorang Sosiolog terkenal, Erving Goffman. Dalam bukunya yang berjudul “The Presentation of Self in Everyday Life”, Goffman menjelaskan bahwa dalam kehidupan manusia yang terjadi di atas muka bumi ini adalah sebuah panggung teater (pentas drama), yang diperankan oleh manusia. Dalam pentas tersebut terdapat aktor/aktris yang sedang bermain peran satu sama lain. Dijelaskan juga, peran-peran yang dimainkan tersebut memiliki “kesepakatan” bersama. Kesepakatan tersebut memiliki peran-peran yang disepakati dan juga yang tidak disepakati. Dari “kesepakatan” itu pula, peran-peran harus menampilkan yang terbaik agar dapat selalu bertahan/dipertahankan di lingkungan ia berada.

image
Drama William Shakespeare
(Sumber : Wikipedia)

Teori Dramaturgi Erving Goffman.

Dalam suatu pertunjukan (pentas drama/panggung teater), memiliki karakter-karakter yang dipakai untuk menjalankan suatu cerita, sehingga penonton dapat mengikuti dan menilai suatu pertunjukan itu sampai pentas selesai disajikan.

Dalam bukunya, Goffman menjelaskan bahwa manusia memiliki 3 panggung sekaligus, yaitu Front StageBack Stage, dan Off Stage (beberapa literatur lain menyebutnya Outside Stage). Apakah itu? 

Front Stage adalah wilayah yang ditampilkan di depan, kepada masyarakat lain yang ada di lingkungannya, yang memungkinkan individu menampilkan karakter yang bergaya dan menampilkan hal formalnya. Mereka seperti memainkan peran yang akan dilihat langsung oleh banyak orang (society).
Sedangkan Back Stage adalah, tempat yang digunakan untuk mempersiapkan/membentuk karakter yang akan ditampilkan di front stage.
Lalu apa itu Off Stage? Adalah suatu tempat dimana individu tersebut menampilkan karakter asli dari dirinya sendiri.

Di dalam Front Stage sendiri dibagi menjadi 2 karakter, yaitu Appearance dan Manner. Appearance adalah menampilkan “Status Sosial”, seperti harta kekayaan dan barang apa saja yang dipakai karakter tersebut. Manner menampilkan peran yang akan dimainkan oleh individu tersebut, contohnya seperti ramah, pintar, suka musik, politikus, bijaksana, dan lain-lain. Di Front Stage pula orang-orang akan berlomba menampilkan pencitraan yang paling baik dari dirinya.

Di Back Stage, terdapat Management Impression yang di lakukan oleh aktor/aktris tersebut. Agar penonton yakin dengan apa yang di lakukan olehnya di Front Stage dan tidak mengetahui karakter asli dari dirinya.
Dan di Off Stage, adalah tempat terjadinya Interpersonal Dialogue.

the presentation of self in everyday life book
“The Presentation of Self in Everyday Life” (Sumber : Pinterest)

Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini, sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Dramaturgis dianggap masuk ke dalam perspektif objektif karena teori ini cenderung melihat manusia sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun pada awal ingin memasuki peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subjektif/memilih, namun pada saat menjalankan peran tersebut manusia berlaku objektif, natural, mengikuti alur. Proses subjektif akan beralih menjadi objektif saat ia menjalani peran yang dipilihnya tersebut.

 

Kritik Terhadap Dramaturgi Erving Goffman.

Kali ini, kita akan melihat dramaturgi Goffman, apakah masih relevan di zaman kontemporer ini ataukah tidak?

Zaman sosial media, zaman dimana privasi sudahlah mati. Sekarang, semua orang dapat mengetahui privasi satu sama lain. Semua orang akan dapat menilai karakter orang lain dari akun sosial media seperti Instagram, Twitter dan Facebook-nya masing-masing. Bahkan orang-orang dapat menilai karakter seseorang lewat apa yang ia suka, apa yang ia baca, musik apa yang ia dengar, dan film-film apa yang ia suka?

Contoh, misalkan saya menuliskan rahasia saya di twitter, lalu tiba-tiba hal tersebut viral dan di lihat oleh ribuan orang? Lalu bagaimana jika ada seorang wanita yang membuat pernyataan pahit dengan kekasihnya, lalu menangis dengan keras dan meng-upload videonya ke dalam instagram?
Bukankah ada tumpang tindih di situ? Dimana yang seharusnya hal tersebut adalah ranah Off Stage atau ranah Back Stage, hal tersebut malah menjadi  ranah Front Stage, dikarenakan orang-orang dapat mencari tahu apakah hal yang menyebabkan hal pahit yang diderita wanita tersebut? 

Hal-hal tersebutlah yang memunculkan pertanyaan. Apakah teori ini masih relevan di zaman kontemporer seperti sekarang ini? Yang mana terjadi peleburan antara Front Stage, Back Stage dan Off Stage? Yang seolah-olah dimana panggung yang awalnya tersekat-sekat, tiba-tiba berubah menjadi satu panggung tanpa jendela pembatas di dalamnya? Bagaimana menurut anda? Apakah teori Goffman sudah irrelevant untuk saat ini?

Erving Goffman
Erving Goffman (Sumber : Wikipedia)

Perspektif Pendekatan Teori Dramaturgi Goffman di Zaman Sosial Media

Setiap orang mungkin memiliki harapan untuk bisa menjadi sosok impian. Sosok impian yang bisa saja berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri karena melihat-lihat kondisi sekitarnya, atau berdasarkan konstruksi pribadi. Berdasarkan figur impiannya tersebut, setiap individu akan menata dirinya dengan berbagai cara. Baik itu dari cara berbicara, pemilihan kata-kata, cara berpakaian, peralatan teknologi yang dimiliki, teman atau kelompok yang dipilih, kegiatan yang diikuti, dan tempat makan/minum yang dipilih.

Bagi seorang anak muda yang sangat memimpikan untuk menjadi seperti sosok artis tertentu, maka dia akan menata dirinya baik itu pakaian, kata-kata, dan berbagai elemen untuk mencapai figur tersebut.

Bagi seorang yang ingin menampilkan diri sebagai seorang yang bijaksana, maka tentulah dia akan menata dirinya sesuai dengan sosok yang bijaksana, dan mengeluarkan kata kata bijak dari hasil pemikirannya atau kutipan yang diambil olehnya. Singkatnya, hampir semua wadah bisa dipakai oleh setiap individu untuk melakukan penataan terhadap dirinya. Dengan demikian, ketika media sosial hadir, maka media sosial pun bisa digunakan sebagai wadah untuk melakukan penataan diri.

Fenomena presentasi diri ini akan menjadi perhatian bagi khalayak ramai. Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton. Para aktor (pengguna sosial media) akan berhati-hati dalam melakukan aktingnya di atas panggung. Terlihat jelas bahwa media sosial memberikan ruang khusus yang seluas-luasnya kepada pengguna untuk berkreasi sesuai keinginannya, khususnya dalam hal presentasi diri.

Di sini kita tersadar, dengan adanya perkembangan teknologi memungkinkan pergeseran atau bahkan perluasan dalam panggung teater tersebut. Dan di sini pula saya akan memberikan perspektif berbeda agar dapat menilai apakah teori ini masih relevan atau tidak.

Pada era ini, audience Front Stage menjadi lebih luas dari sebelumnya. Satu interaksi di dunia nyata dan satu lagi interaksi di dunia fiksi seperti sosial media. Ya, manusia sudah menjalankan realitias fiksi dan realitas fakta secara bersamaan. Lalu bagaimana dengan seorang wanita yang meng-upload kesedihannya di media sosial? Bukankah itu ranah Off Stage atau Back Stage? Jika kita telaah lebih dalam, kesedihan yang di-upload di media sosial itu adalah kesengajaan (dilakukan dengan sadar) oleh si wanita untuk dijadikan santapan publik. Jadi si wanita tersebut memberi lampu hijau agar Off Stage-nya ditampilkan di Front Stage. Dia menjual kesedihannya itu agar menciptakan karakter yang melankolis ke hadapan penonton.

Lalu bagaimana dengan Back Stage dan Off Stage di zaman sosial media saat ini? Back Stage dicontohkan, saat dimana orang tersebut melakukan manajemen impresi, me-manage apa saja yang akan ditampilkannya ke media sosial. Seperti contoh kasus di atas, adanya “meja editorial” dimana tempat menimbang apakah kesedihannya itu akan dijadikan asupan publik atau tidak. Sedangkan Off Stage, adanya dialog atau rahasia lain dari si wanita yang menurutnya tidak pantas untuk dijadikan santapan publik.

Contoh lain yang lebih sederhana adalah seperti ini. Saya memiliki akun instagram dan twitter dengan username Sekaratmelarat. Di Front Stage saya men-share apa yang menurut saya dapat menunjang karakter saya di Front Stage. Mulai dari memilih foto-foto yang menurut saya baik dan dapat di terima oleh masyarakat luas, men-tweet kata-kata lucu, atau sekedar memberi opini terhadap suatu kejadian yang sedang terjadi. Hal-hal tersebut dapat membuat orang lain menilai karakter Sekaratmelarat di depan panggung, dan menebak karakter apa yang sedang ia jalankan. Di sini pula tempat Sekaratmelarat menjual impresinya ke orang lain.

Sedangkan di ranah Back Stage, Sekaratmelarat menimbang hal-hal apa sajakah yang akan menyinggung perasaan orang lain, serta etis atau tidaknya suatu foto tersebut di-share ke khalayak ramai. Sedangkan di Off Stage, Sekaratmelarat sudahlah mati. Saya menjalankan realitas saya yang sesungguhnya, jauh dari manajemen impresi yang saya lakukan di Back Stage maupun berjualan impresi di Front Stage. Saya seutuhnya menjadi diri saya sendiri, dan menutup rapat-rapat rahasia-rahasia saya sendiri.

Penutup

Pada akhir tulisan ini, kita dapat menilai bersama-sama, apakah teori Goffman ini masih relevan atau tidak di zaman sosial media ini. Kita dapat belajar dari Dramaturgi ini, bahwa kehidupan ini hanyalah panggung sandiwara yang sangat luas. Kita juga mau tidak mau harus sepakat bahwa inilah kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa kebohongan-kebohongan pahit itu dibungkus menjadi fakta-fakta yang baru, dan akan terus dipertahankan sampai pentas individu itu usai (kematian).

Akhir kata, saya jadi teringat dengan sebuah kutipan “Setiap Orang Adalah Panggung dan Setiap Orang Adalah Aktor”. Kutipan ini saya yakini adalah sebuah kata-kata yang dirangkai dengan perenungan yang sangat dalam, yang melihat kehidupan manusia dari berbagai sudut pandang, dan memiliki sejarah yang panjang dalam berbagai liku kehidupan. Tetapi, saya sangat heran, lama-kelamaan kata-kata ini menjadi tanpa makna sama sekali dan menjadi kutipan-kutipan receh yang dikeluarkan untuk menjadi alat agar terlihat bijaksana.

Terima Kasih.

(Ditulis oleh Safero Ardiwinata) 

Previous Article
klub sumur adalah alternative/free space

Kompilasi Serendipity Untuk Eksistensi Sebuah Skena

Next Article
Footnote_THE-SIGIT_Season-01_6

Musim perdana serial dokumenter Footnote: The SIGIT tayang 2 Oktober 2020!

MORE KEPS
af6ba8193317d0b0e36c30b3657a13eb
Read More

Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

Sampai sampai Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ' potensi tinggi penyalah gunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini '. dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap.
filosofi kecoa
Read More

Filosofi Kecoa

Kita boleh saja dibenci, kita boleh saja down, kita boleh saja mengalami depresi, kita boleh saja terjungkal dan terhempas keras. Tetapi, apakah semua hal tersebut kita diamkan begitu saja? Tidak! Kita harus meniru apa yang dilakukan oleh kecoa ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Jika kita hanya diam dan tak mampu berjuang, semestinya kita malu terhadap makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan tersebut.

Long Live The Scene!

Mengatasnamakan diri sebagai pencinta musik pastinya akan menuai konsekuensi dan beban tersendiri. Saat semua nya bersandar pada teknologi…