fbpx

DARURAT AGRARI DI NEGERI AGRARIS

DKi Wi2UQAAF0iz

Dalam sebuah buku catatan aku pernah menulis sebuah kalimat semacam ini :

“Lahan mereka di semen, di bangun gedung tinggi.
Sawah rata dengan aspal, jadi jalan dan jembatan.
Lumbung mereka hilang diganti pabrik-pabrik asing.
Semua dirampas,atas nama pembangunan.”

Artikel ini aku tulis akibat kekhawatiranku mengenai berkurangnya sawah-sawah di sekitar lingkungan kita hingga kasus dimana sawah beralih fungsi menjadi pabrik. Ketika kebutuhan pokok semakin mahal justru sawah dan ladang semakin berkurang.

Terlebih lagi sebuah pernyataan Thomas Malthus yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia tidak diimbangi oleh persediaan ketersediaan pangan. Menurut anggapan Malthus pertumbuhan manusia akan sejalan dengan deret ukur, sedangkan ketersediaan pangan sejalan dengan deret hitung, sehingga pada suatu masa akan terjadi kelangkaan pangan. Setidaknya seperti itulah kegelisahanku saat ini.

Apakah kita pernah berpikir, berapa banyak sawah dan lahan di Indonesia yang hilang dalam setiap tahunnya. Setidaknya menurut data yang saya peroleh terdapat sebanyak 50.000 hingga 100.000 hektare lahan sawah yang hilang setiap tahunnya, akibat beralih fungsi atau tidak lagi digarap oleh para petani.

Tentu terlalu banyak memang membahas kasus agraria di negeri agraris ini, tanah di negeri tak selamanya menyejahterekan rakyatnya terkadang tanahnya justru mnyiksa bahkan sampai membunuh rayatnya sendiri. Terlebih lagi yang membuat lebih menyedihkan banyak sekali oknum dalam hal ini “lembaga pemerintah” atau pemilik modal “perusahaan” mengeksploitasi rakyat dengan sewenang-wenang demi kepentingan mereka sendiri.

Menurut data yang dihimpun oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat jumlah konflik agraria sepanjang tahun 2016 saja terdapat sedikitnya terjadi 450 konflik agraria dengan luasan wilayah 1.265.027 hektar dan melibatkan 86.745 KK yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia. Sedangkan menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyebutkan secara keseluruhan masih terdapat 8000 kasus konflik pertanahan yang belum terselesaikan.

Dalam konflik dan kasus mengenai agraria ini tidak bisa kita anggap remeh atau dipandang sebelah mata. Akibat berlarut-larutnya masalah ini tekadang terjadi tindakan-tindakan represif terhadap para korban. Terdapat begitu banyak diskriminasi dan kejahatan HAM terhadap korban dalam konflik ini. Selain itu terdapat pula kasus kekerasan bahkan terdapat korban tewas.

Tentu kita masih mengingat bagaimana peristiwa pembunuhan sadis terhadap Salim Kancil seorang warga yang menolak tambang pasir di Kabupaten Lumajang. Dalam kejadian tersebut Salim Kancil mendapat begitu banyak penyiksaan dari diikat, disetrum, digergaji, dibacok dan akhirnya tumbang dikepruk kepalanya menggunakan batu. Peristiwa ini menggambarkan bahwa “Di Negeri Ini Nyawa Manusia Tak Semahal Tambang”.

Lalu di Jambi kasus Suku Anak Dalam yang sudah terusir dari tanahnya sejak 1987. Tetapi sampai sekarang konflik yang melilit mereka belum juga bisa terselesaikan. Selain itu di Tulang Bawang, Lampung terdapat dua petani (Pak Rajiman dan Sugianto) di kriminalisasi dengan tuduhan melakukan kerusuhan. Padahal mereka sedang memperjuangkan tanahnya yang dirampas atau diklaim oleh PT.BNIL .

Yang masih hangat ialah kasus warga Kulon Progo yang menolak proyek pembanguanan NYIA
(New Yogyakarta Internasional Airport) serta petani Pegununangan Kendeng Utara yang menolak pembangunan pabrik semen PT. Semen Indonesia yang membangun pabrik di sebuah daerah konservasi. Jelas hal ini melanggar AMDAL dan undang-undang mengenai daerah konservasi. Mereka telah melakukan berbagai macam aksi untuk menolak pembangunan semen dan yang terbaru mereka mengecor kaki mereka sebagai simbolis dipasung semen di depan Istana Negara.

Tentu kejadian seperti itu menjadi potret pilu kekerasan berbasis konflik agraria di Negara kita terhadap masyarakatnya sendiri dalam hal ini para petani miskin pedesaan menjadi korban ketamakan para pemilik modal dan tirani di dalam suatu pemerintahan.

Akan lebih baik apabila Negara bisa dengan cepat menyelesaikan konflik-konflik agraria antar masyarakat dengan perusahaan maupun dengan pemerintah. Tidak ada alasan terjadi kekerasan dan diskriminasi apapun karena kepentingan kelompok tertentu.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap wilayah memang memiliki karakteristik ekologi yang begitu beragam. Sehingga membangun sebuah peradaban baru sejatinya harus dengan adab yang memanusiakan dan tidak serta menghancurkan alam secara membabibuta. Tidak semua tempat cocok dibangun pabrik-pabrik atau gedung tinggi menjulang sampai ke langit. Banyak dari mereka hanya ingin menanam jadi tidak semestinya dihancurkan.

Sebuah antitesis memang, apabila Negara agraris lebih suka membangun pabrik dibandingkan mencetak sawah-sawah baru terlebih lagi tanpa memperhatikan ekologi di sekitarnya.

Jadi, masa depan seperti apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita. Apakah kita hanya mewariskan ribuan pabrik dengan gumpalan asap hitam yang menjulang di langit. Atau hanya bisa mewariskan ribuan kilometer jalanan aspal dan jutaan kendaraan yang berlalu-lalang setiap harinya. Tanpa pernah berpikir mewariskan ribuan pegunungan yang asri, sawah yang maha luas serta pohon-pohon yang dihinggapi burung.

Memang akan begitu banyak sekali orang yang memimpikan masa depan dimana dia bisa hidup di kota besar, menjadi pekerja kantoran dari pagi hingga petang, bergerak seperti mesin dan memanjakan hidupnya dengan segala macam fasilitas yang hanya ada di kota besar.

Aku bukan anti ataupun menolak sebuah modernisasi, melainkan aku mencoba begitu peduli dengan isu-isu lingkungan ini. Modernisasi bukan berarti meninggalkan dan menomorsekiankan lingkungan melainkan harus memperhatikan ekosistem di lingkungan tersebut. Seringkali aku mendengar pepatah lama yang bunyinya kira-kira seperti ini “yang dari alam akan kembali ke alam.”

Dari pepatah tersebut aku menangkap bahwa sejatinya jasmani manusia itu akan hancur dan kemudian akan menyatu dengan jiwa alam itu sendiri. Aku ingin di suatu masa melihat generasi setelah kita masih bisa menikmati keindahan alam warisan leluhurnya, menyanikan lagu-lagu keindahan surgawi, memakan buah segar, menanam dan bermain lumpur sampai kotor.

Semoga kita bisa mewariskan sifat-sifat kewarasan untuk menjaga dan merawat alam dan bukan ketamakan yang dapat mendorong kita mengeskplotasi kekayaan alam dengan begitu sadis.

(Dwi Surya Ananda)

Previous Article

Mulai Sekarang, Berhenti Bilang “Bikin Dulu, Baru Boleh Kritik”

Next Article

Sebetulnya Distorsi Gitar Gak Sengaja Mengubah Sejarah Musik Modern

MORE KEPS
af6ba8193317d0b0e36c30b3657a13eb
Read More

Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

Sampai sampai Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ' potensi tinggi penyalah gunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini '. dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap.
image
Read More

Dramaturgi Kehidupan Media Massa.

Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton.
filosofi kecoa
Read More

Filosofi Kecoa

Kita boleh saja dibenci, kita boleh saja down, kita boleh saja mengalami depresi, kita boleh saja terjungkal dan terhempas keras. Tetapi, apakah semua hal tersebut kita diamkan begitu saja? Tidak! Kita harus meniru apa yang dilakukan oleh kecoa ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Jika kita hanya diam dan tak mampu berjuang, semestinya kita malu terhadap makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan tersebut.