fbpx

Column : JUKI (Jual Kisah) Seputar Gigs!

PICT POST COLUMN2

Gigs adalah tempat dimana bertemunya seluruh aspek dari berbagai scene/ komunitas/ kolektif, band dan personal yang saling berekspresi serta berapresiasi atas karya-karya yang ada. Bukan sekedar pertunjukan musik, gigs juga menjadi ajang reuni dan silaturahmi bagi pihak-pihak yang long time no see. Disana kita juga menemukan deretan lapak yang menyajikan berbagai macammerchandise. Pada gigs tertentu, terdapat pula pameran artwork atau semacam poster, dan sejenisnya. Dari semua varian keindahan tentang gigs tersebut, saya mencoba mengutarakan uneg-uneg, menguak kesalahan, mungkin juga kelucuan yang terjadi di gigs. Entah faktor internal maupun eksternal, saya coba kupas pada poin-poin di bawah ini.

Band-band yang Tidak Disiplin
Terdapat banyak kasus tentang ketidakdisiplinan band. Antara lain, ada sebuah band yang mendapat jatah tampil di awal acara, tetapi mereka sengaja datang terlambat, mencari waktu yang enak untuk tampil. Hal ini benar-benar menghambat jalannya sebuah gig. Bukan hanya yang tampil di awal, bagi semuanya saja. Mungkin bukan menjadi suatu masalah, jika band-band di urutan rundown berikutnya sudah siap dan mampu mengisi kekosongan ini. Jika tidak, waktu akan molor, dan band-band berikutnya terancam pemotongan durasi. Bahkan ada yang sampai batal tampil karena keterbatasan waktu. Merugikan yang lain bukan?

Organizer!
Kesalahan-kesalahan tidak hanya datang dari audience dan performers. Pihak-pihak penyelenggara sebuah gigs (sebut saja di sini sebagai organizer) juga punya beberapa poin-poin kesalahan. Dari hal-hal yang wajar dan mendasar, sampai yang berbau kelucuan. Pada umumnya, kesalahan yang biasa terjadi seperti kurangnya persiapan yang matang dari organizer. Sehingga banyak hal sepele yang terlupakan dan berjalan kurang maksimal. Entah itu sistem kepanitiaan dan pembagian tugas, venue, alat, sound, mungkin juga perijinan dan keamanan, sampai publikasi. Imbasnya, gigs menjadi berjalan tak sesuai dari yang diperkirakan. Di samping hal-hal tersebut, saya pernah mendengar dan melihat langsung kasus-kasus yang saya rasa lucu dari beberapa organizer gigs. Sebagai salah satu contoh, band teman saya pernah mendapat tawaran untuk berpartisipasi secara kolektif dalam sebuah gig. Okay, but that’s fuckin’ funny! Mengapa? Karena, katanya semakin besar dana kolektif yang diberikan, semakin besar pula ukuran logo/font band yang tertera dalam pamflet. No comment lah, cukup tertawa saja. Lalu, ada pula organizer yang terlalu profit-oriented. Sewajarnya, tidak perlu terlalu mengharapkan keuntungan finansial dari sebuah gig, toh dana yang terkumpul sebaiknya juga dikembalikan ke scene/komunitas/kolektif, demi kepentingan bersama. Atau mungkin digunakan untuk gigs berikutnya, bukan untuk konsumsi pribadi.

Sok Jagoan dan Kampungan
Ini yang biasa terjadi di sekitar kita. Hampir di setiap gigs, apapun genre musiknya, pasti ada saja adegan-adegan perkelahian, baik dalam skala kecil maupun besar. Faktor-faktor yang memicu perkelahian biasanya adalah tersenggol-nya sesorang ketika sedang ber-pogo/ mosh/ dance. Sebagian dari mereka lose control akibat terlalu terpengaruh minuman keras/ obat-obatan. So, drink responsibly! Selain itu, ada juga yang berkelahi atas dasar menyelesaikan masalah pribadi/ dendam lama dengan pihak lain di sebuah gigs. Orang-orang sok jagoan dan kampungan semacam itu benar-benar salah tempat.

Aparat KURUS (kurang terus)
Biasanya berlaku di gigs yang menggunakan ruang-ruang publik seperti gedung pertemuan, aula, dan semacamnya. Proses pengorganisasian gigs di tempat-tempat tersebut membutuhkan perijinan sewa tempat dan keamanan. Birokrasi semcam ini harus melalui pihak yang berwajib, pada umumnya kepolisian. Di kantor polisi ketika mengurus perijinan, kita sudah diharuskan memberikan uang dengan nominal tertentu. Tetapi, mengapa ketika gigs berlangsung beberapa personil polisi yang hadir untuk mengamankan jalannya acara terkadang masih meminta uang tambahan? Yang katanya buat beli pulsa atau rokok.

Sedikit atau banyak, pasti masih ada lagi kesalahan dan kelucuan seputar gigs yang belum tersampaikan oleh tulisan saya. Hanya sebatas uneg-uneg atas apa yang terjadi di sekitar kita, bukan bermaksud menggurui. Karena saya pribadi juga bukan manusia yang tak luput dari kesalahan. Dengan adanya poin-poin yang saya berikan di atas, saya berharap kita semua, tanpa terkecuali, mampu belajar dari kesalahan dan mengintrospeksi diri masing-masing.

#Panji Novirza

Previous Article

The Loving Alien - Box Set Album-albumnya David Bowie dari Tahun 80-an Bakalan Dirilis

Next Article

Open Registration - SUNDAY STREET JAMMINGS 2018!

MORE KEPS
af6ba8193317d0b0e36c30b3657a13eb
Read More

Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

Sampai sampai Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ' potensi tinggi penyalah gunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini '. dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap.
image
Read More

Dramaturgi Kehidupan Media Massa.

Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan setting-an yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus di mata penonton.
filosofi kecoa
Read More

Filosofi Kecoa

Kita boleh saja dibenci, kita boleh saja down, kita boleh saja mengalami depresi, kita boleh saja terjungkal dan terhempas keras. Tetapi, apakah semua hal tersebut kita diamkan begitu saja? Tidak! Kita harus meniru apa yang dilakukan oleh kecoa ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Jika kita hanya diam dan tak mampu berjuang, semestinya kita malu terhadap makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan tersebut.

Long Live The Scene!

Mengatasnamakan diri sebagai pencinta musik pastinya akan menuai konsekuensi dan beban tersendiri. Saat semua nya bersandar pada teknologi…