fbpx

Sushi Bugil – Perkara Seni atau Semata-mata Seks?

1508562493669 1

Sesungguhnya makan sushi yang dihamparkan di atas tubuh seorang model bugil bukanlah pengalaman seksual. Itu adalah pengelaman seni seseni-seninya.

Jika duduk diam selama dua jam terdengar sulit, bayangkan melakukannya sambil telanjang dan ditutupi sushi. Sebagai model nyotaimori (atau, jika kamu seorang pria, nantaimori), ini adalah sebuah pekerjaan.

Bahasa Jepang sehari-hari menyebutnya “sushi telanjang”. Cara makan sushi yang satu ini memiliki asal-usul yang agak misterius—katanya dimulai sejak zaman rumah geisha di negara feodal Jepang. Sebagian lainnya mengatakan bahwa hal itu menjadi populer sebagai bentuk hiburan bagi kelompok kejahatan terorganisir. Apapun itu, sushi yang satu ini telah merambah ke Amerika Serikat sejak 1990-an, sekitar satu dekade setelah ‘sushi normal’ melintasi Pasifik.

Karena asal-usulnya yang kurang jelas, nyotaimori memiliki beberapa asosiasi seksi yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya. Pertama-tama, sembari modelnya telanjang, biasanya mereka tidak boleh disentuh. Kedua kamu tidak mungkin keracunan makanan bahkan pun ketika kamu makan sushi yang tersentuh langsung oleh kulit seseorang. Biasanya, sushi diletakkan di atas daun pisang atau alas lainnya. Tapi kalau ada pelanggan meminta makanan disajikan langsung di atas kulit, biasanya si restoran akan melakukan tes hepatitis dulu kepada model mereka.

“Di sini, di Amerika Serikat, orang mencoba untuk membuatnya menjadi pengalaman yang luar biasa,” kata Mark Scharaga, pemilik dan koki perusahaan katering nyotaimori. “Kami mencoba untuk mengambil sesuatu dari masa lalu yang kotor, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih elegan dan khas.”

Meskipun teman-teman Scharaga sering memperkenalkannya sebagai “Raja Sushi Naked” di awal bisnisnya, dia mengatakan bahwa dia mengganti namanya menjadi Nyotaimori Experience untuk menjauh dari “kerumunan jelata.” Dia menambahkan, “saya berfokus pada orang-orang yang peduli dengan masakan dan kualitas sushi.”

Sepertinya wanita telanjang terbaring di bawahnya akan mengalihkan fokus dari sushi buatannya. Tapi Scharaga melihat model itu sebagai bagian dari estetika, bukan main course itu sendiri. “Kami tidak menjual seks, kami menjual pengalaman dengan wanita atau pria cakep,” klaimnya.

Dan ada beberapa tantangan saat bekerja dengan manusia dibandingkan dengan, katakanlah, piring. “Ada berbagai kurva dan kontur yang harus dikelola agar presentasinya sesuai dengan keinginan Anda,” kata Scharaga. Akibatnya, model nyotaimori cenderung memiliki tubuh yang lebih kuat karena kebutuhan – untuk menjaga agar sushi tidak menggelinding dan naik ke lantai. Bahkan tindakan bernafas adalah variabel yang harus dinegosiasikan. Hal terakhir yang Anda inginkan adalah model bersin.

Meski kebanyakan orang masih belum mengalami nyotaimori secara langsung, hal ini telah menjadi budaya populer. Pada tahun 1991 sushi telanjang disebutkan di Showdown di Little Tokyo. Contoh penting lainnya dalam beberapa tahun terakhir adalah ketika Samantha meliput dirinya dalam sushi dan menunggu kekasihnya di film Sex and the City 2008. (Kayaknya dia tidak mengikuti praktik keamanan dan penanganan makanan yang tepat.) Seni nyotaimori masih tampak seperti khayalan orang kaya yang misterius dan tak terjangkau.

Scharaga tidak mau memberi tahy harga persisnya tapi mengatakan, “Kami pernah kedatangan orang yang bertanya dan berpikir pengalaman itu seharga $ 600-700, tapi mereka salah.” Selain biaya sushinya, yang dia dapatkan dengan cara ramah lingkungan dan harus membeli beberapa jam sebelum acara, dia harus membayar tenaga kerjanya dan, tentu saja, model sushi itu sendiri.

Beberapa pengkritik nyotaimori melihatnya sebagai bentuk objektivitas yang tidak diinginkan. “Ini tidak manusiawi untuk diperlakukan sebagai piring,” kata seorang kritikus kepada The Seattle Times. Scharaga telah mendengar keluhan serupa. Dia menegaskan, bagaimanapun, bahwa modelnya diperlakukan dengan hormat (dia juga menawarkan pilihan model pria untuk mereka yang menginginkannya) dan bahwa tidak pernah ada sentuhan yang tidak tepat selama acara makan.

“Sesuatu yang saya pelajari sejak dini adalah menyertakan sebuah klausul bahwa kita dapat menarik layanan kita dari hal-hal yang tidak terkendali,” kata Scharaga. Jika seorang model mengatakan kepadanya bahwa dia tidak nyaman, acara makan akan berakhir.

Model telanjang perempuan bisa dilihat sebagai pekerja seks yang dimuliakan bagi sebagian orang, tapi untuk nyotaimori Emma Jade, aspek seksualnya tergolong sekunder. “Saya mengerti,” katanya. “Saya di sini dan saya telanjang tapi makanannya mengagumkan dan itu seni.” Meskipun pekerjaan itu mudah baginya, setelah melewati kecemasan saat pertama kali, Jade menyukai fakta bahwa pengalaman dia dengan pelanggannya selalu berbeda.

Ketika dia pertama kali dihubungi untuk menjadi model sushi (dia utamanya melakukan itu untuk Nyotaimori Experience) dia cukup baru dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelanjangan. “Sampai batas tertentu, saya melihatnya sebagai cara bagi saya untuk memperluas pengalaman dan cara untuk merasa lebih nyaman dengan tubuh saya.”

Sekarang, katanya, kepercayaan dirinya telah meningkat secara drastis. Dan meskipun pada awalnya teman-temannya menganggap pekerjaannya aneh, mereka akhirnya melihatnya sebagai pekerjaan yang dia lakukan. “Ibuku juga tahu,” kata Jade, menambahkan bahwa ibunya sering memberi komentar pada foto nyotaimorinya, “Itu putriku!”

Meski Jade mengatakan bahwa beberapa orang pasti fokus pada ketelanjangan di depan mereka, “orang lain seperti, ‘Anda terlihat cantik dan makanan ini terlihat cantik—biarkan saya menghargainya.'” Itulah jenis tamu yang paling dia sukai.

Nyotaimori membawa perpaduan makanan dan sensualitas ke titik ekstrem, tapi hal ini bukan yang pertama. Lihat saja petak makanan yang dianggap afrodisiak atau ide kencan populer yaitu pergi makan malam. Berbagi makanan dengan orang lain selalu intim, terlepas apakah kita mengenakan pakaian atau tidak.

__
Oleh Tove Danovich
Foto. Jiro Dreams of Sushi via Magnolia Pictures

Previous Article

Roosevelt! Rekomendasi Soundtrack Musim Panas

Next Article

Interview: Geliat Musik Punk Rock di Lampung bersama Luthfi Fatman

MORE KEPS