fbpx

Sepanjang Dekade 90-an, Bisa Dibilang Islam adalah Agama Resmi Hip-hop Pada Waktu Itu.

Brother Ali Kepsir

Pada sepanjang dekade 90-an, bisa dibilanglah kalo Islam tuh agama resmi hip-hop pada waktu itu, dimana banyak warga AS yang jadi mualaf berkat dari lirik-lirik para rapper. 

Ada sejarah Islam yang tersembunyi didalam hip-hop. Beragama ekspresi keislaman berakar dalam hip-hop, baik di era awal atau pada masa keemasannya. Sayanggg, kebanyakan hiphop head gak bisa ngebaca kode-kode yang tersembunyi ini. Okeh, beberapa orang yang udah pernah ngeliat bagian belakang jaketnya si Rakim di sampul album legendaris Follow the Leader dan bisa paham sama apa yang tertera di atasnya? Gak banyak yang tau juga sih pastinya, apalagi mereka yang ngerasa paham banget sama sejarah hip-hop. ~ hehe

Pada paruh pertama tahun 1990-an, Islam pernah jadi agama bagi para hip-hop. Bahkan nih, si Jay-Z yang masih belia waktu itu pernah nongol di beberapa video bareng sama para anggota kelompok Nubian Islamic Hebrew movement, Brooklyn. Pada sisi lain, hip-hop jadi kanal Islam yang mencapai generasi anak muda di pada masa itu. Terjadi di tahun-tahun yang ditandain sama mencuatnya ketertarikan sama Islam sebagai agama yang ngebawa pesan-pesan tentang keadilan sosial, pemberdayaan diri dan perlawanan terhadap supremasi kulit putih. Didalam konteks ini-lah, Spike Lee merilis biopic Malcom X dan juga si Louis Farahan mimpin jutaan kaum kulit hitam didalam sebuah unjuk rasa yang di kasih nama Million Man March menuju Washington. Atas jasa-jasa dan juga inspirasi yang mereka tularkan ini, Malcom X dan Louis Farakhan didampuk jadi santo sang pelindung hip-hop. Nama mereka jadi abadi gitu didalam rima-rima hip-hop. Entah berapa kali suara mereka udah di-sample kedalam sejarah panjang hip-hop di Negeri Paman Sam Amerika Serikat.

Brother Ali 

Brother Ali nerusin tradisi keislaman kedalam hip-hop seperti ini: Ia lahir pada tahun 1977 dan ngedapetin hidayah Islam di tahun 1993. Lirik-lirik dari Rakim dan Public Enemy -lah yang pertama kali meletupkan ketertarikan si Brother Ali sama Al-Qur’an. Ali jadi muallaf di umur 15 tahun dengan bimbingan Warith Deen Mohammed.

Brother Ali juga pernah jadi saksi kejayaan dan juga kemunduran hip-hop “politis” atau “conscious rap” yang nge-wujud didalam dua cara :

  1. Musisi jenius karismatik yang liriknya butut gak ada isi.
  2. Penulis lirik sekaligus pemikir dan aktivis tapi musik-nya payah.

Brother Ali gak pilih kasih. Dia mencintai dan menyukain kedua jenis musisi hip-hop manapun spektrum politiknya. Walaupun demikian, didalam karya-karyanya, Brother Ali gak pernah kesulitan untuk milih antara seni dan kesadaran sosial. Mungkin karena dia terlalu jago di kedua sisi tersebut.

 “Mourning in America”, adalah salah satu lagu dari album terbarunya Brother Ali, dengan membawa semangat hip-hop politis yang ditemuin sama Ali. Dengan sample suara Malcolm X di awal lagu-nya, lagu itu mengutuk terorisme dengan sebutan “perang orang kecil” dan peperangan yang terjadi sebagai “terorisme kaum tajir”. Mourning in America and Dreaming of Colour, sebagai judul album itu, menawarkan hasil pemikiran yang mendalam dari Brother Ali terhadap kondisi ke-kinian di Amerika Serikat. Album itu ngomongin tentang kemiskinan, prasangka dan juga lanskap pasca-rasial. Sang Rapper ini juga nerusin tradisi hip-hop yang menyuarakan keadilan, kebebasan dan kesetaraan buat mengeyahkan homofobia dari kultur hip-hop itu sendiri.

Menyangkut hal yang terakhir ini, Brother Ali bahkan ngaku bersalah atas ujaran-ujaran homofobik-nya di masa lalu yang ada didalam salah satu liriknya “I haven’t always been on the right side of that battle,” . Malah, didalam lagu “Say Amen”, Brother Ali gak segan-segan mencecar MC homofobik. “Fuck ‘No Homo, You a no-homeownin’ old grown/ unsigned chump, month behind on your car loan.”

Pernah pada waktu di salah satu konsernya, ada penonton yang meneriakan “menangis seperti perempuan,” dan Brother Ali langsung mengoreksi perkataan fans-nya itu. “Coba sekali-kali kalian lihat seorang ibu yang sedang melahirkan, kalian gak akan bisa untuk menggunakan kata-kata itu lagi, apalagi menggangap seorang perempuan itu lemah.” Gak beberapa lama kemudian, dia ngehentiin pertunjukannya sebentar untuk ngasih wejangan. “Maaf ya, kalian mungkin membayar untuk nonton ini, tapi beberapa dari kita sudah terlalu diistimewakan sejak lahir.” – ujarnya.

“Rasulullah itu pria yang gampang mencucurkan air mata,” – ujarnya. “Beliau menangisi anak-anak, budak, orang lanjut usia dan kaum papa.”

Baik ketika di atas panggung atau didalam albumnya, Brother Ali dan juga serenteng rapper yang dia undang mengoplos amarah dan juga rasa welas asih. Beberapa tahun lalu, Brother Ali menyulut kontroversi dengan lagunya yang berjudul “Uncle Sam Goddamn.” Tapi didalam lagu “Letter to My Countrymen”, dia malah nyatain cintanya kepada Amerika Serikat. Tentu aja, Amerika yang dicintai Brother Ali itu bukanlah tanah Amerika yang historis, melainkan sekumpulan janji tentang masa depan yang menjanjikan “I want to make this country what it says it is.” Lagu ini juga dipungkasin sama sebuah ujaran bijak dari Dr. Cornel West: “You want to be a person with integrity who leaves a mark on the world.”

“I think the struggle to be free is our inheritance,” kata Brother Ali di lirik lagu “Letter to My Countrymen”. Ini sejatinya adalah sebuah perjuangan yang dia temuin di dalam hip-hop dan sejarah Islam yang tersembunyi di dalamnya. “Dunia ini sudah kelewat aneh, kenapa aku harus repot-repot memikirkan tetek bengek ras setiap saat? Dunia yang aneh ini nyatanya udah bikin aku jadi aneh juga.”

Michael Muhammad Knight – penulis buku yang di antaranya adalah : The Five Percenters: Islam, Hip-Hop, and the Gods of New York dan Why I Am a Five Percenter

Previous Article

Panduan Mengenal Seni Fotografi Format Analog untuk Pemula

Next Article

Sampah Visual dan ke-Goblokan Yang Haqiqi

MORE KEPS
EP Tiga Puluh
Read More

TIGA PULUH, Mini Album ASHARENO, Gambaran Problematika Para ‘30ers.

Seluruh proses kreatif EP Tiga Puluh ini dikerjakan oleh Ashareno dengan bantuan beberapa rekannya. Lirik & lagu ditulis sendiri oleh Ashareno, kecuali untuk lagu Tak Bisa Lupakan yang ditulis oleh Aulia Nurfebrilianti yang mana adalah adik kandung dari Ashareno. Untuk urusan aransemen musik ia dibantu oleh Pandu Prayoga dari Cheery Trees dan Agung Dwi Saputra dari D'Ningrat. Proses perekaman album dilakukan seluruhnya di Lantai Dua Music Production. Sementara untuk pengerjaan mixing & mastering digarap di E-Music Id oleh Vino Mareza.