fbpx

Panduan: Film Musikal Modern Yang Kudu Lu Tonton

CRY BABY

Walaupun nyetak rekor sebagai penerima nominasi Oscar yang paling banyak sepanjang masa, La La Land jadi bahan perdebatan di antara para kritikus film dengan para fans beratnya. Sebagian kritikus ngehujat film La La Land sang peraih 14 nominasi Oscar tahun 2017 ini, sementara, para pemujanya gak terima kalo film kesayangan mereka diberengus sama kritikus.

Dari semua genre film kategori musikal, rasanya gak banyak yang bisa nandingin kemampuan untuk memecah belah pendapat penonton. Ngedenger nama genre film ini aja udah cukup buat bikin perut beberapa penggemar film jenis kayak gini ngelilit, kayak baru minum susu basi, mules.

Buat kelompok yang kontra, musikal itu cuma genre usang yang berulang kali berusaha dibangkitin sama para filmmaker yang cuma doyan bernostalgia. Kualitasnya? Buat para penonton yang anti-musikal tentu saja sampah. La La Land adalah kasus termutakhir, review jelek yang nyerang film ini bertebaran di dunia Internet. Tapi, setelah berhasil menggondol banyak penghargaan di gelaran Golden Globe dan ngumpulin 14 nominasi Oscar 2017, muncullah beberapa pertanyaan yang penting: apa mungkin film musikal kontemporer bakalan kembali disukai di masa depan? Bisa gak film musikal tentang kisah cinta yang mengharukan mengubah pandangan kaum yang dari dulu ogah buat nonton film musikal? Jawabannya, mungkin tidak.
Seenggaknya, La La Land punya peran penting yang wajib kudu kita apresiasi. Film arahannya si Damien Chazelle itu bisa memancing penonton film generasi baru, yang mungkin awalnya gak terlalu fanatik sama hal pro/kontra nya di genre musikal.

ADVERTISEMENT-

Tapi, jangan cuma berenti di La La Land aja. Karena berikut ini kita mau ngasih panduan enam film musikal kontemporer yang munurut kita berkualitas dan pantes buat lu nonton. Semoga aja lu juga suka!

1. Cry-Baby

Kalau John Waters jadi sutradara Grease, barangkali hasilnya bakal seperti ini. Bersetting di Baltimor di dekade 50an, Cry-Baby menelusuri rivalitas antara “drapes” (montir pemakai jaket sport) dan “squares” (hipster pemakai kemeja button up. Johnny memerankan sosok Wade “Cry-Baby” Walker, pemimpin kelompok pertama. Ketika salah satu anggota Drapes jatuh cinta pada anggota Squares. Ceritanya langsung mirip dengan kisah cinta Danny Zuko and Sandra Dee dalam Grease. Bedanya, Waters punya pola pikir yang ribet. Jadi, jelas ini adalah film musikal anak muda kacangan. Coba deh bayangkan: gambar close up muka Johny Depp, setitik air mata terus membasahi pipinya. Tambah juga suara narator yang mengucapkan line standar ini: “He’s been hurt. He’s been mistreated. He’s been misunderstood. He’s Cry-Baby Walker.” Kentara sekali kalau ini adalah film emo rockabilly Johny Depp lengkap dengan rambut Johny Depp yang disisir kebelakang ala musisi rockabilly dan rahangnya yang rapi seakan baru dipahat. Johny Depp juga mencuri perhatian dengan menyanyikan nomor-nomor klasik seperti High School Hellcats dan Teardrops are Falling. Dan, oh iya, apa saya sudah bilang kalau Iggy Pop berperan jadi paman Walkers yang redneck? Yang kayak gini engga bakal ada di Grease.

2. 8 Women

Ketika François Ozon membesut film sepenuhnya memakai pemeran perempuan—yang dibintangi oleh Catherine Deneuve, Isabelle Huppert, dan Emmanuelle Béart—hasilnya adalah komedi gelap penuh gaya. Alkisah, delapan perempuan terjebak dalam sebuah sebuah rumah kecil karena badai. Delapan perempuan ini lantas dikagetkan dengan tewasnya kepala keluarga pemilik cottage tersebut. Masing-masing dari mereka segera tertuduh sebagai pembunuh. Sepintas, jalur ceritanya mirip dengan kisah-kisah dalam game misteri. Namun, sejatinya, 8 Women adalah penghormatan untuk melodrama dekade 50-an yang dibuat oleh Douglas Sirk, dengan sedikit penggambaran yang hangat tentang sebuah keluarga hanya berisi perempuan dan para pekerjanya. Ozon sangat memahami semua formula klise dari film musikal. Sehingga dia tak ragu memasukkan segala sesuatu yang kelihatannya engga banget. 8 Women adalah Dial M For Murder yang dibenturkan dengan Cabaret. Keren.

3. Chi-Raq

Dengan kualitas gambar yang sekilas hampir setara dengan video musik MTV, Chi-Raq rupanya menjadi film musikal yang amat politis, bersetting di Kota Chicago. Memang sih, film ini belum bisa disandingkan dengan karya-karya lain yang masuk dalam daftar ini. Cerita Chi-Raq diadaptasi dari drama kuno Yunani Lysistrata, berkisah tentang aksi mogok melayani seks yang dilakukan sekelompok istri pemberani. Jargon film ini: NO PEACE, NO PIECE. Bagaimanapun, film ini tak sekadar karya politis yang berani tapi jatuhnya kering. Warna ungu dan oranye banyak digunakan sepanjang durasi mewakili bermacam grup dan geng dalam film ini. Chi-Raq menjadi semacam versi modern West Side Story. Lalu ada juga dialog yang muncul sangat alamiah bagaikan rima-rima musik rap. Orang bilang aktor musikal terbaik sepanjang masa adalah Gene Kelly dengan suaranya yang melengking merdu ceria. Bah! Kalau Samuel L. Jackson bisa merapal puisi jalanan macam “Stop the murder madness or there will be no more pole” di film musikal, kami jelas memilih yang belakangan.

4. Guy and Madeline on a Park Bench

Damien Chazelle naik daun berkat Whiplash. Film drama perjuangan seorang musisi muda yang ingin menjadi drummer jazz sejati di bawah bimbingan guru musik superngehek dan jahat. Damien ternyata sejak awal sudah menyadari takdirnya adalah membuat film-film seputar musik. Debut sejatinya sebagai sutradara adalah menggarap film musikal hitam-putih berjudul  Guy and Madeline on a Park Bench. Film ini diambil dengan menggunakan kamera 16mm. Hasil akhirnya terkesan kasar, malah mungkin terlalu lo-fi untuk sebuah film musikal. Bagaimanapun, ini adalah film yang menggunakan aktor amatir dan mengandalkan dialog penuh improvisasi.

ADVERTISEMENT-

Guy and Madeline on a Park Bench bercerita tentang kisah cinta tragis antara Guy, seorang peniup terompet jazz dengan Madeline, mahasiswi S2 yang introvert. Cinta mereka kandas ketika film baru mulai. Guy kemudian mulai jalan dengan perempuan lain, sementara Madeline pindah ke kota berbeda, memulai hidup baru. Belakangan, Guy merasa kalau dialah yang jadi biang keladi putusnya cinta mereka. Dia mencoba kembali mencari Madeline.

5. School Daze

Ilham film ini didasarkan pada, salah satunya, masa-masa awal sutradara Spike Lee menjadi mahasiswa S1 di Morehouse College, Kota Atlanta. School Daze adalah skomedi kocak tentang perseteruan perkumpulan mahasiswa dan perkumpulan mahasiswi di sebuah universitas mayoritas kulit hitam. Tentu saja, ada banyak lagu di film ini. Lee memparodikan proses inisiasi masuk perkumpulan mahasiswa (kalau di Indonesia OSPEK lah ya). Lee sendiri berperan sebagai seorang maba yang dijuluki “gammite”. Dia berjuang melewati masa inisiasi itu. Sosok yang diperankan Lee dikisahkan masih perjaka dan persyaratan masuk perkumpulan mahasiswa adalah harus sudah pernah gituan. Beratnya jadi maba di film ini masih harus ditambah berbagai “siksaan” lain, semisal dirantai seperti anjing, ditutup matanya, dan dipaksa memegang pisang berlendir di toilet. Momen musikal paling keren di film ini terjadi ketika dua grup mahasiswi berhadapan di salon kecantikan dan bicara—lebih tepatnya nyanyi sih—tentang segala hal yang berhubungan dengan rambut. School Daze adalah salah satu film musikal paling ngehek sepanjang sejarah.

6. Dancer in the Dark

Ini mungkin film musikal tergelap sepanjang masa, yang sebenarnya tak mengagetkan karena sutradaranya adlaah Lars von Trier. Siapa Lars? Itu loh, om-om yang bikin Antichrist. Dalam   Dancer In The Dark, sutradara gendeng ini memberi Björk peran sebagai pekerja pabrik, yang mati-matian menabung demi biaya operasi mata anaknya. Tentu saja, seperti film-film Lars von Trier lainnya, semua upaya protagonis tak berjalan lancar. Ketika sosok yang diperankan Björk akhirnya dipecat, dia pulang ke rumah dan menemukan tabungannya hilang tak berbekas. Film ini memang bikin trenyuh. Menonton Dancer In The Dark sama rasanya seperti nonton film realisme sosial Italia era 50-an yang diiringi lagu. Adapun lagu-lagu dalam film ini seringkali muncul ketika karakter Björk melamun. Misalnya ketika dia merindukan jalan keluar dari hidupnya yang nelangsa. Paduan realisme yang keras dan lagu-lagu yang imajinatif sekilas bukan campuran resep yang pas. Nyatanya, di tangan Lars von Trier, oplosan ini menghasilkan tontonan yang bikin bulu kuduk merinding.

_

Source : i-D
[Oliver Lunn]

[left-side]

Previous Article

Mengenang Album Musik Noise yang Paling Jelek dan Mengerikan Dalam Sejarah

Next Article

6 Film Keren yang Bakalan Tayang di Bulan Juli, Siapa Tau Kalian Mau Nonton

MORE KEPS