fbpx

Music Scoring, Horornya Musik dalam Film Horor

TheConjuring2

Cobalah untuk menonton film horor tanpa menghidupkan audionya. Sensasinya lain bukan?
Music scoring dan sinematografi dalam film horor memang satu paket tak terpisahkan dalam menciptakan rasa takut kepada penonton.

94 tahun silam, seorang komposer bernama Hans Erdmann berhasil membuat karya sutradara F.W. Murau berjudul Nosferatu: A Symphony of Horror menjadi lebih menyeramkan. Dengan dibalut orkestra muram, film ini mampu menghidupkan visual yang langsung menghantui mata dan telinga penonton.

Kepada Classic Art Films, kritikus film Roger Ebert bahkan mengatakan : “[Film] itu tidak menakut-nakuti kita, tetapi menghantui kita. Ia bukan menunjukkan bahwa vampir bisa muncul tiba-tiba dari bayang-bayang, tapi bahwa yang jahat bisa tumbuh di sana, dipelihara dalam kematian.”

Begitu juga dengan film Psycho (1960). Berkat kepiawaian komposer Bernard Herrmann meracik scoring musik, film itu berhasil menciptakan ketegangan. Dengan sengatan biola yang pilu, film itu serasa seperti merusak saraf penonton dan menciptakan ketakutan.

Namun yang tak kalah menarik adalah komposer film horor bernama Joseph Bishara. Berkat kepiawaiannya meracik musik, ia berhasil menjadikan beberapa film horor seperti Insidious (2011), The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2 (2016) menjadi suram, gelap, dan sangat menyeramkan.

Dalam beberapa proyeknya, Bishara sering menggabungkan unsur-unsur musik seperti musik klasik, punk serta kebisingan industri guna membuat music scoring yang khas.

Menurut ulasan dalam situs Film Music Media, Bishara juga sering menggabungkan banyak elemen suara mengerikan, seperti gema, reverb yang dapat menciptakan banyak rasa ketakutan. Musiknya dapat membuat pendengar seperti berada dalam neraka, menggelegar dengan vokal berteriak, dan seolah-olah menangisi kematian. Musiknya bekerja dengan sangat luar biasa.

Mengapa musik bisa menciptakan rasa takut?
Spencer Hickman, manajer dari Death Waltz Recording Company mengatakan: “Musik selalu membantu film horor untuk membangun suasana hati, membangun ketegangan dan suasana,” katanya kepada BBC.

Anggapan itu juga diperkuat penelitian Profesor Daniel Blumstein dari University of California. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, musik dalam film horor memang dapat menyadap ketakutan utama penonton.

“Pergeseran frekuensi tiba-tiba dikaitkan dengan adegan sedih dramatis. Kebisingan dikaitkan dengan kengerian dan ketakutan,” katanya seperti dikutip The Guardian.

Menurut Blumstein, selain berpadu dengan berbagai jenis aliran musik, film horor juga sering menggunakan suara sumbang dari hewan di alam liar. Komposer menggunakan suara tersebut untuk menggugah emosi dan menciptakan ketegangan dalam film mereka.

Untuk menguji pendapat itu, ia bersama tim peneliti lainnya memeriksa sekitar 30 detik dari 100 film, termasuk saat-saat terkenal seperti adegan mandi di film Psycho dan adegan eksekusi di film The Green Mile.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pembuat film memanipulasi suara untuk membuat analog nonlinier untuk memanipulasi respons emosional,” katanya.

Menurut penelitiannya, ada alasan biologis, suara disonan (suara yang bertabrakan) dan akord minor yang membuat penonton khawatir ketika menonton film horor.

Blumstein mengatakan akord minor dalam film Jaws karya sutradara Steven Spielberg juga diduga memicu perasaan menyeramkan dan ketegangan. Hal itu bisa dilihat pada trailer film Jaws, di detik ke 00:33 yang dapat menimbulkan suara kacau bernada tinggi.

Selain itu, Blumstein juga mengakui beberapa musik film horor menggunakan suara jeritan bayi marmut. Dalam jargon ilmiah, hal itu disebut dengan “suara nonlinier”. Hal tersebut ditemukan Blumstein pertama kali saat melakukan studi terhadap soundtrack film pada 2010, terutama dalam film The Shining (1980), yang menggunakan rekaman teriakan hewan.

Suara nonlinier seperti akord disonan, tangisan anak, jeritan bayi hewan dapat memicu respons biologis yang tertanam dalam pikiran dan menciptakan perasaan terancam.

Guna merancang penelitian itu, Blumstein juga bekerja sama dengan komposer musik film seperti Peter Kaye dan profesor komunikasi Greg Bryant untuk membuat sampel musik penelitian. Blumstein meminta peserta menilai segmen musik berdasarkan rangsangan emosional mereka dan jenis emosional.

Menurut Blumstein, peserta yang mendengarkan musik dengan unsur-unsur nonlinier lebih merangsang dan mudah menghubungkan emosi negatif seperti rasa takut. Ia juga menemukan bahwa musik yang tiba-tiba bervolume tinggi akan memprovokasi rangsangan emosional yang lebih besar daripada volume yang lebih rendah.

Penggunaan suara hewan juga ditemukan oleh Rowan Hooper dari New Scientist. Ia mengatakan musik dalam film Psycho terdengar seperti sengatan biola yang meniru suara hewan resah, suara itu juga dapat memicu ketakutan seolah seperti sedang dikejar oleh predator berbahaya yang memanipulasi rasa emosional seseorang.

Meskipun semua orang memiliki respons dasar terhadap rasa takut, namun para komposer musik film horor mampu menciptakan adrenalin pada penonton yang berbeda sehingga mampu menciptakan detak jantung yang kuat.

musikhoror

Dalam kasus berbeda, suara yang menciptakan rasa takut selalu bermain dalam kontras yang mengejutkan sehingga dapat menarik penonton ke dalam suasana, dan saat itulah otak akan diisi oleh perasaan takut.

Maestro musik horor Fabio Frizzi juga menjelaskan pentingnya memainkan volume dalam menciptakan musik horor.

“Jika Anda mengikuti suara keras dari awal sampai akhir, Anda tidak mengejutkan siapa pun. Anda harus menciptakan sesuatu yang menarik; pengalaman takut Anda benar-benar bisa menjadi momen manis. Anda juga mencoba untuk membuat sebuah melodi yang memanggil seluruh film,” katanya kepada BBC.

Tak cukup sampai disana, Fabio juga mengatakan seorang komposer harus seolah-olah menjadi seorang aktor yang terlibat dalam cerita. Misalnya dalam adegan mata yang dicungkil, seorang komposer harus benar-benar bisa merasakan suasana itu.

Musik memang sangat membantu menciptakan suasana dalam film, seperti kata seorang musisi, Jeff Tyzik kepada Deseret News: “Musik bisa berdiri tanpa film, tapi film ini tidak akan bertahan tanpa musik.”
___

  • [message]
    •  by  A.H.A
      • Artikel ini merupakan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya diatas. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan Kepsir Project.

Previous Article

Emosionalitas 'Atma', Single Pertama AlaskaEight

Next Article

Radio Friendly Siap Goyangkan Kepala di Launching Album Perdana - Learn From Reality

MORE KEPS
EP Tiga Puluh
Read More

TIGA PULUH, Mini Album ASHARENO, Gambaran Problematika Para ‘30ers.

Seluruh proses kreatif EP Tiga Puluh ini dikerjakan oleh Ashareno dengan bantuan beberapa rekannya. Lirik & lagu ditulis sendiri oleh Ashareno, kecuali untuk lagu Tak Bisa Lupakan yang ditulis oleh Aulia Nurfebrilianti yang mana adalah adik kandung dari Ashareno. Untuk urusan aransemen musik ia dibantu oleh Pandu Prayoga dari Cheery Trees dan Agung Dwi Saputra dari D'Ningrat. Proses perekaman album dilakukan seluruhnya di Lantai Dua Music Production. Sementara untuk pengerjaan mixing & mastering digarap di E-Music Id oleh Vino Mareza.