fbpx
prolog 240bpm ++

Menyimak Perbincangan Santai; Saya dan Aku Saat Makan Malam.

PROLOG 240BPM++ by: Bagas Oktariyan Ananta

Belakangan ini Saya sangat senang menanyakan kepadaku tentang hal-hal yang
bersifat masa depan serta perencanaan apa yang akan kubuat untuk langkah-langkah
kecil hidup yang kupilih di jalur lambat ini. Mungkin karena Saya paham betul; bahwa
mempunyai pikiran yang selalu bimbang adalah poin yang tepat untuk Saya memberi
keyakinan kepada Aku lewat pertanyaan-pertanyaan dan bukan menuntut untuk ini serta
itu.

Aku sedang pulang ke rumah dalam tahap produksi Film Dokumenter Tugas Akhirku
tentang Ranger Orgen Tunggal di Tulang Bawang Barat yang bernama Mirwan dengan
judul 240BPM++, perbincangan saat makan malam pun berada di seputar hal itu
beserta tetek-bengeknya. Disela-sela Aku menyuap nasi dengan lauk-pauk yang dibuat
oleh ibu selepas Maghrib, Saya mulai menanyaiku;

Saya : Orgen tunggal pertama kali Bagas yang ditonton langsung apasih?
Aku : Ya waktu kondangan pernikahan sama Mama waktu kecil itu, Aku lupa
namanya, tapi inget rasanya. Aku ingat rasanya pas kunyahanku lebih cepat dari
biasanya saat mendengar iringan musik remix orgen tunggal itu.
Saya : Gimana caranya bisa punya ketertarikan sama orgen tunggal?
Aku : Aku pikir jodoh bisa ada dimana aja kan dan memang dari kecil udah
disuguhin dengan musik remix orgen tunggal yang ada di acara pernikahan. Trus
Aku coba main ke acara orgen tunggal yang ada di deket rumah, trus jadi makin
suka dan deket. Trus Aku juga sering banget laper akan hal ensiklopedi musik
yang butuh dikasih makan, ibaratnya kalo Aku masak, ada rasa yang kurang ya
Aku olah lagi dan tambah dengan bahan lain.
Ya sebenernya kalo Aku kaya orang belajar masak ajasih, nyoba tambahin
garam kalau masih hambar, tambah air kalau keasinan, tambah gula kalau
kurang manis, tambah cabai kalau kurang pedas dan tambah-tambah lainnya
lagi kalau dirasa kurang.


Saya : Emang apa aja sih yang ada di dalam orgen tunggal sampai-sampai kamu
kekeuh memilih subjek si Ranger Mirwan?
Aku : Pertama, menurutku Mirwan adalah “teman makan” yang asik dan tidak pilih- pilih makanan walaupun ia tahu mana makanan yang enak dan kurang enak buatnya.
Kedua, Mirwan tau cara menyajikan makanan yang memuaskan, asik dan funky.
Baik itu menggunakan lalapan atau tidak yaaa…
Ketiga, tapi ya ini gak penting-penting banget sih hehehe. Aku kadang suka risih
sama orang yang terlalu meneriakkan dan mengglorifikasi tentang kebudayaan
lokal dan cinta sama hal-hal yang berbau kearifan lokal tapi kurang sensitif
melihat isu-isu atau hal-hal yang ada di sekitarnya, dalam konteks ini khususnya
di Lampung ya. Dari apa yang Aku lakukan ini Aku jadi bisa tau, ternyata
meleknya orang-orang ini tentang kesadaran akan hal-hal di lingkungan
sekitarnya dalam skala kecil belum dieksplorasi secara total, buktinya Aku cari
dan sama sekali gak menemukan referensi tulisan atau karya apapun itu tentang orgen tunggal dan hal yang ada di dalamnya, yang ketemu tuh malah berita- berita buruk tentang orgen tunggal; pemberhentian acara, kriminalitas, dan norma yang dianggap tidak baik. Padahal coba kita bayangkan, sejak kapan budaya ini menggelegar di tiap-tiap panggung pernikahan? Mungkin pertanyaan ini juga gak akan Aku temukan jawabannya, apalagi khususnya di Lampung.


Saya : Oh okey… Saya penasaran tentang bagaimana musik remix orgen tunggal ini
bisa ada di Lampung, bisa coba ceritakan ke Saya?
Aku : Sebenernya kalau kamu tanya ke Aku, Aku juga gatau pasti ya, tapi Aku bisa
kasih lewat sedikit ke-sok-tahu-anku sih yang otak-atik-gathuk atau cocoklogi aja,
tapi ini Aku yakini untuk diriku sendiri. Dari masuknya House Music ke Indonesia lewat klub-klub malam, masuknya genre ini menjadi penanda dimana musik Funky kota mulai lahir. Sekali lagi,
interpretasi dan cita rasa Nusantara mengambil alih. House Music bertransformasi menjadi ritme yang cepat dengan sekitar 160-220BPM, kita sebut dan beri nama sebagai Funky Kota. Nah, dari kepopuleran Funky Kota yang ada di Ibukota, masyarakat di Lampung yang ingin acara pernikahannya meriah menyadurnya dalam format yang memakai Keyboard sebagai instrumen utama dan memainkan tempo yang hampir sama dengan Funky Kota, alasan hanya
memakai Keyboard sebagai instrumen utama itu ya alasan ekonomis karena untuk
menanggap orkes musik akan memakan biaya yang mahal. Tapi bukan hanya
aspek musikal saja yang disadur, aspek tata panggung, tata rias penyanyi dan
busana pun disadur. Jadi menurutku, fenomena musik remix orgen tunggal di
Lampung ini adalah tahap ketiga penyaringan sebuah informasi lah, ya kaya
orang dapet fotokopi-an dari gurunya, terus ada orang yang fotokopi lagi dari
orang yang punya fotokopi-an itu. Ilmu, informasi dan detail tulisan dari guru
pertama tadi makin buram dan gak terbaca jelas, tapi gak cuma berenti disitu,
hal yang gak jelas tadi juga beradaptasi dengan lingkungan orang ketiga ini
tinggal supaya bisa diterima dengan lingkungan. Kalo diibaratin makanan tuh apa ya… Seblak kali ya? Dari terigu, jadi kerupuk mentah, dari hasil coba-coba
atau kesalahan ternyata kerupuk gak cuma enak di goreng, eeehhhh… direbus
juga enak hehehe
Nah menurutku lagi, Mirwan memang bukan penemu seblak, tapi dia tahu betul
seblak yang enak dan punya karakteristik itu yang kaya gimana…
Saya : Seperti apa budaya remix yang ada di sana sekarang?
Aku : Duhhh… apa lagi ya analoginya ya… hmmm… mungkin makanan dan lauk
pauk ini ya, Mamaku masak dengan resep yang diajarkan dari nenek yang
didapat dari nenek moyang. Sudah ada di luar kepala Mama, lalu dicampur
dengan cita rasa, kegemaran rasa, dari keluargaku. Mungkin begitu ya… enak,
funky, orang-orang suka, masif yaaaaaa tapi gatau juga sih, dari aku sih kaya
gitu.


Saya : Setelah masuk ke dalam dunia orgen tunggal, apa yang anda dapatkan?
Aku : Orgen tunggal kalo cuma dipandang sebagai lalapan yang hanya dilewatkan
ternyata masih kurang cukup buatku ya, Aku mau masuk dan mencicipi
bagaimana cara memasak di dalam orgen tunggal seperti bagaimana Mama
mengolah resep-resep makanan lalu diaplikasikan kedalam keluarga dan bisa
membuat olahan rasa yang disukai oleh tiap-tiap anggota keluarga. Terus dengan
fenomena orgen tunggal ini yang hanya dipandang sebagai hiburan dan ajang
mabuk-mabukan serta menyebabkan meningkatnya pemakaian narkoba,
kebijakan pemerintah dalam mengatasinya juga Aku pikir kurang efektif, karena
pelarangan orgen tunggal bukan cara yang tepat dalam mengatasi masalah
tersebut dan malah membuat stigma yang ada di masyarakat sekarang kalau
orgen tunggal itu jadi hal yang dikesampingkan dan tidak baik. Trus ya habis itu
Aku banyak menemukan diskursus di dalamnya seperti norma dan moral,
tentang hak cipta, dan masalah yang ada dalam internal diri Mirwan.
Saya : Daritadi Saya perhatikan anda menyamakan remix ini dengan makanan,
memang korelasi antara makanan dan musik remix orgen tunggal yang ada di
Lampung?
Aku : Kalau kita taruh dalam budaya dan cara orang Lampung dalam makan dan
kuliner, kita memang tau bahwa orang Lampung suka mencampur semua
makanan mereka dan dijadikan yang namanya Seruit, mulai dari elemen musikal
serta visual dari musik remix orgen tunggal yang ada di Lampung ini hematku
ialah hal tersebut, semuanya sudah jadi Seruit, tentunya kesukaan orang
Lampung ya hehehe. Hal-hal yang menjadikan stigma orgen ini jadi buruk pun
menurut Saya adalah sebuah lalapan, mereka tetap bisa makan makanan pokok
walaupun tak ada lalap (walaupun jika ada lalap akan terasa lebih sedap, tapi ya
entah bisa sedap atau malah merusak rasa makanan utama). Dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang untuk membatasi bahkan melarang pentas orgen, menurut Saya ya ambil saja lalapannya lah… jangan larang orang untuk makan makanan pokok. Dan jangan lupa minum air putih yang banyak untuk kesehatan hehehe

Saya : Emang apa yang membuat Mirwan bisa betah di orgen? Emang gak ada
pekerjaan lain?
Aku : Ada, berkebun, Mirwan menanam untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya,
sedangkan orgen tunggal hanya jadi penghasilan tambahan karena diramal oleh
Bapaknya, kata Bapak Mirwan orgen tunggal bukanlah hal yang menjadi
pekerjaan utama, jika Mirwan ingin keuangan stabil, ia harus berkebun,
wallahualam lah ya
Saya : Katanya Mirwan pemalu?
Aku : Iya.
Saya : Katanya Kamu juga pemalu?
Aku : Iya hehehe
Saya : Lucu ya… orang yang sama-sama pemalu ketemu untuk bikin film
dokumenter…
Aku : Hahaha, justru Aku malah menemukan sedikit dari diriku disitu, Aku tau mana
hal yang sensitif untuk Mirwan dan harus Aku jadikan pemahaman untuk
membangun karakter Mirwan. Jadi kayak Aku tau karakter sebuah makanan
karena Aku suka makanannya, trus Aku juga tau gimana dan waktu yang tepat
untuk menghidangkan makanan itu ke orang lain.
Saya : Oke, pertanyaan terakhir nih mas… Bagaimana pandangan anda tentang
remix orgen Lampung ini di tahun tahun mendatang?
Aku : Mungkin kalau selalu dibiarkan dan tidak ada atensi lebih, kasusnya akan sama
dengan saat Malaysia mengklaim bahwa rendang Padang adalah masakan khas
dari Malaysia hehehehe
Tapi ya gatau juga sih, kamu gamau nanya siapa jodohku kedepan aja apa?
Saya :………………………………………………..

Previous Article
images.jpeg

Membangun kota dari kacamata “Matinya Kepakaran”

MORE KEPS
EP Tiga Puluh
Read More

TIGA PULUH, Mini Album ASHARENO, Gambaran Problematika Para ‘30ers.

Seluruh proses kreatif EP Tiga Puluh ini dikerjakan oleh Ashareno dengan bantuan beberapa rekannya. Lirik & lagu ditulis sendiri oleh Ashareno, kecuali untuk lagu Tak Bisa Lupakan yang ditulis oleh Aulia Nurfebrilianti yang mana adalah adik kandung dari Ashareno. Untuk urusan aransemen musik ia dibantu oleh Pandu Prayoga dari Cheery Trees dan Agung Dwi Saputra dari D'Ningrat. Proses perekaman album dilakukan seluruhnya di Lantai Dua Music Production. Sementara untuk pengerjaan mixing & mastering digarap di E-Music Id oleh Vino Mareza.