fbpx

Membangun kota dari kacamata “Matinya Kepakaran”

images.jpeg

Kita bukan berfikir kita sama pintarnya dengan orang lain, kita berfikir kitalah yang paling pintar. Dan kita benar-benar salah.

Tom Nichols, “Matinya Kapakaran”

Dari judul bukunya saja, buku ini sudah menantang orang banyak untuk tertarik membacanya. Siapa yang tidak, dengan judul buku “Matinya Kepakaran” atau buku aslinya “The Death Of Expertise“ dapat membuat orang yang melihatnya langsung bergeming apasih sebenarnya isi dari buku ini?

images.jpeg 2
The Death Of Expertise by Tom Nichols
Source : Google

Buku yang sudah banyak beredar di toko-toko buku komersil dan independen ini, sangat enak dibaca, mudah dipahami dan dapat membuat kita tertampar saat membacanya. Ya, jujur dengan sangat, buku ini sangat menampar saya dalam beraktivitas sehari-hari dan berkomunikasi dengan orang lain di lingkungan sekitar saya.

Saya harap, jika kalian membacanya, membacalah dengan kerendahan hati, karena Tom Nichols hanya menjelaskan fenomena yang sedang terjadi di negara Amerika Serikat. Jika kita ingin bersama-sama membangun kota kita tercinta ini. Buku ini menurut saya adalah langkah awal yang baik untuk kita bersama-sama melangkah dan berfikir. Mari kita bahas!

images.jpeg 1
Matinya Kepakaran Karya Tom Nichols
Penerbit KPG

Negeri Orang-Orang Sok Tahu

Bab 1 dari buku ini membahas tentang kumpulan orang-orang yang ada disuatu negara. Dengan sub judul “Negeri Orang-Orang Sok Tahu“ membuat saya saat membaca buku ini tergelitik dan merenung.

Menurut Tom Nichols, orang-orang sok tahu bisa menjelma menjadi siapa saja. Saya, kamu, kalian, orang tua kita, saudara, sahabat, teman-teman dekat bahkan, dosen atau guru kita. Kaya, atau miskin, tua, atau muda. Di sekolah, kampus, coffee shop, warkop, tidak luput dari orang-orang sok tahu akan suatu isu yang sebenarnya tidak mereka kuasai secara mendalam.

Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya seperti sosial media pun, banyak terjadi percakapan-percakapan antara awam vs awam. Sosial media, menjadi wadah pertukaran informasi yang tidak kredibel, maupun kredibel, kumpulan hoaks, konspirasi, dll.

Pertukaran informasi yang tidak bisa kita tahan ini, membuat kita terkadang merasa mual dengan informasi yang tersedia. Kita muak melihat keributan ideologi, agama, dan politik saat bangun di pagi hari. Lelah melihat debat-debat kusir mahasiswa kampus, dan dominasi keartisan yang membahas suatu isu yang sebenarnya kurang mereka pahami.

Menurut Tom Nichols, hal diatas dapat membuat demokrasi terancam. Masyarakat modern seperti sekarang ini, tidak bisa berfungsi tanpa pembagian kerja dan ketergantungan terhadap pakar, ahli, profesional dan kelompok intelektual.

“Tidak ada seorang pun yang ahli dalam segala bidang. Apa pun yang kita harap, kita terbelenggu oleh realitas waktu dan keterbatasan bakat yang tidak dapat kita bantah.“ -Tom Nichols. (Hal. 16-17)

Fenomena seperti ini juga sering terjadi di kota kita Bandar Lampung, dan mungkin juga terjadi di kota-kota atau kabupaten lain di provinsi Lampung. Banyak dari kita, termasuk saya mungkin merasa lebih tahu suatu isu yang sedang terjadi, mengkritisi hal-hal yang sedang viral, berteriak layaknya kita yang lebih tahu dari pada orang lain. Hal tersebut kita lakukan agar kita semua seolah-olah menjadi masyarakat yang “melek kebudayaan“

Jika kita ingin membangun kota kita ini, membangunlah dengan bekerja sama, mengisi kekosongan-kekosongan yang belum ada atau belum memiliki penerusnya. Membangun kota besar ini sendiri-sendiri menurut saya akan menghambat kemajuan, membuat kita semakin tertinggal dengan kota-kota lainnya. Ingat interkoneksi adalah ciri dari kemajuan itu sendiri.

“Memang pernah ada masa ketika tiap orang menebang pohon dan membangun rumahnya sendiri. Namun, cara itu bukan hanya tidak efisien, melainkan juga hanya menghasilkan perumahan yang sederhana. Kenyataannya adalah kita tidak dapat berfungsi tanpa mengakui batas pengetahuan orang lain dan percaya keahlian orang lain. Kadang-kadang kita menolak kesimpulan itu karena merendahkan rasa kemandirian dan otonomi kita.

Kita Ingin percaya bahwa kita mampu membuat berbagai macam keputusan, dan merasa kesal kepada orang yang mengoreksi kita atau menyalahkan kita, atau orang yang memberikan perintah menganai hal-hal yang tidak kita pahami. Reaksi alami manusia diantara individu ini berbahaya jika menjadi ciri bersama sejumlah masyarakat. “ Tom Nichols ( Hal 17-18).

Dongeng, Takhayul, dan Teori Konspirasi

Selanjutnya, kita masuk ke pembahasan yang seru dan juga mengelitik. Obrolan yang selalu digemari oleh banyak orang, pembahasan yang selalu menarik untuk di dengar, dari segi intrik, mistisme dan dramanya.

Banyak dari masyarakat yang masih mempercayai dongeng, takhayul dan teori konspirasi. Tidak hanya di pedesaan, kota juga mempunyai tempat tersendiri untuk teori-teori konspirasi dan takhayul. Saya tidak tau kenapa mereka mempercayainya, mungkin karena itu adalah ciri khas daerah tertentu, atau mempunyai manfaat yang belum bisa terjelaskan oleh sains.

Menurut Tom Nichols, dongeng dan cerita takhayul adalah contoh klasik bias konfirmasi dan argumen yang tidak bisa dibuktikan benar salahnya. Karena dongeng dan takhayul tidak bisa di buktikan secara saintifik kebenarannya. Dan juga kedua hal tersebut adalah cerita fiktif yang dibuat oleh masyarakat setempat untuk mendidik serta mempertebal kepercayaan kolektif yang sudah dibangun secara turun temurun. Dongeng dan cerita takhayul adalah bias konfirmasi yang sederhana.

Berbeda dengan teori konspirasi, yang sangatlah rumit, dibutuhkan orang yang cukup pintar untuk membangun teori konspirasi yang menarik. Teori konspirasi juga merupakan kegiatan intelektual yang menantang untuk mereka yang membuat, maupun yang menantangnya.

Mungkin hal tersebutlah yang membuat teori konspirasi dll. menjadi informasi yang banyak digemari oleh banyak orang. Kemampuan memahami kompleksitas masalah-masalah di dunia, terjawab dengan sangat ringkas tanpa adanya metode pembuktian ilmiah, statistik dan teori terpercaya.

Yang pasti menurut Tom Nichols ;

“Salah satu alasan kita semua menyukai kisah konspirasi adalah karena kisah itu memusakan hasrat heroik kita. Seorang individu pemberani melawan konspirasi besar, berperang melawan kekuatan yang akan mengalahkan manusia biasa adalah kisah yang sama tuanya dengan legenda kepahlawanan itu sendiri“

20210316 051354
The Conspiracy Chart
Source: Google

Perbincangan menarik ini selalu terjadi di ruang-ruang publik baik offline maupun online. Semburan informasi bagaikan semburan air yang menyembur kita, membuat kita kewalahan untuk menahannya. Informasi yang tidak kita ketahui sumber dan kredibilitasnya itu, membuat kita mau tidak mau menelannya mentah-mentah sekuat apapun kita menahannya.

Agar kita bisa memilah informasi yang kita telan, kita sebaiknya tidak langsung mempercayai apa yang kita ketahui dari orang-orang terdekat ataupun orang yang kita percayai saja, kita sebaiknya mencari kebenaran dari informasi tersebut atau bertanya kepada mereka yang lebih pakar lainnya tentang suatu isu dan informasi tertentu, agar kita terhindar dari bias konfirmasi. Lalu apa itu bias konfirmasi?

Bias Konfirmasi & Keabsahan data.

Bias konfirmasi adalah kecenderungan mencari informasi yang membenarkan apa yang kita percayai, menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai, dan menolak data yang menentang suatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran.

“Kita fokus ke data yang mengkonfirmasi ketakutan kita atau mendukung harapan kita” kata Tom Nichols.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita memang selalu terjebak dalam bias konfirmasi.  Dalam berkomunikasi dengan orang lain dan berkativitas sehari-hari, kita selalu berbicara dan melakukan apapun itu dengan basis ketahuan yang sudah kita miliki sebelumnya.

Jarang sekali kita, menelaah apa yang sudah kita tahu sebelumnya. Mengkritisi pemikiran yang kita sudah anggap rasional, dan bertanya apakah yang kita kerjaan sudah benar seutuhnya.

“Kita lebih dicengkram ketakutan irasional daripada optimisme irasional karena bias konfirmasi, dengan cara kerjanya yang demikian, merupakan sejenis mekanisme bertahan hidup“

“Otak anda tidak peduli tentang orang lain, yang menjalani, penerbangan atau kencan satu malam dengan selamat: mereka bukan anda. Pikiran anda, yang beroperasi dengan informasi yang terbatas, melakukan pekerjaan dengan berusaha meminimalisir risiko terhadap kelangsungan hidup anda, betapapun kecilnya. Ketika melawan bisa konfirmasi, kita berusaha mengkoreksi satu fungsi dasar dipikiran manusia.“ –Tom Nichols (Hal. 60-61)

Bias konfirmasi juga sering terjadi di kalangan intelektual, baik dosen maupun mahasiswa. Suatu hari ada debat panas antara dosen dan mahasiswanya. Dosen tersebut sedang menjelaskan bagaimana kapitalisme itu bisa tetap bertahan di zaman sekarang misalnya, sedangkan mahasiswa tersebut menolak karena menurutnya, komunisme dapat menyelamatkan dunia dari jahatnya para borjuis penguasa dunia saat ini.

Perdebatan yang seru ini mengundang antusiasme rekan-rekan mahasiswa lainnya. Seketika ruang kelas terbagi menjadi dua kubu, pro dosen dan pro kerabat mahasiswa. Disinilah bias konfirmasi mulai berlangsung, kekolotan dosen yang berfikir bahwa argumentasinya benar dan merasa dirinya matang memahami kondisi dunia, melawan ambisi anak muda yang masih menggebu-gebu untuk mengubah sistem dunia.

Perdebatan itu hanya akan menjadi perdebatan yang sangat-sangat melelahkan. Perdebatan itu hanya akan menjadi perdebatan kosong jika argumentasi yang mereka bangun hanya dengan sebatas gengsi menang atau kalah. Memang benar, kita hidup dalam ruang demokrasi, dimana semua orang dapat berpendapat, mengutarakan apa yang ada di isi otak kita. Semua orang kan berhak berpendapat katanya. Semua pendapat kan sama derajatnya dengan pendapat orang lain. Kenapa saya tidak boleh mengutarakan apa yang saya ketahui? Inikan negara demokrasi? Inilah yang membuat demokrasi itu menuju kedalam kehancuran. Argumentasi yang hanya berdasarkan informasi yang kita ketahui dari media sosial sehari-hari, argumentasi yang kita bangun dari mendengarkan celotehan orang lain yang tidak mendalami suatu keilmuanlah yang membuat demokrasi itu hancur. Dalam berpendapat diruang demokrasi, argumentasi yang berdasarkan prinsip dan data adalah tanda kesehatan intelektual, dan itu sifatnya vital bagi sebuah demokrasi. Jika tidak seperti itu, bagaimana kita dapat menimbang mana informasi yang benar-benar bagus dan mana yang hanya sebatas pendapat dan pengalaman subjektif di ruang informasi yang sangat-sangat banyak ini?

Kruger Effect & Kritik Terhadap Tom Nichols

Contoh kasus di atas tadi juga tidak luput dari pandangan Tom Nichols, fenomena mahasiswa menentang dosen, awam mendebat pakar, dan keingingan pakar untuk menjawab seluruh pertanyaan diluar bidangnya adalah ciri anti-intelektualisme. Hal ini bisa terjadi karena hari ini, akses terhadap informasi sangat mudah, belum lagi sistem yang dipakai adalah demokrasi. Juga akses terhadap pendidikan tinggi sangat mudah jika kita mempunyai modal yang cukup. Fenomena menentang dosen diatas menurut Tom Nichols dikarenakan mahasiswa saat ini kurang menghargai konsistensi dosen yang sudah mendalami pengetahuan tersebut selama bertahun-tahun. Mahasiswa itu mendebat dosen tersebut dikarenakan ia sudah mendapatkan informasi tentang keburukan kapitalisme yang baru ia dapatkan dari obrolan yang ia dengarkan dari orang yang menurutnya pintar tadi malam sebelum ia berangkat ke kampus pagi hari, atau dari penggalan-penggalan informasi yang tersebar di sosial media.

Fenomena ini sudah dijelaskan oleh Tom Nichols di bab 3 dengan sub judul “sebagai pelanggan, mahasiswa selalu benar”  Disaat pendidikan mulai diperjual belikan sebagai barang murah, yang semua orang bisa mengaksesnnya dengan mudah. Mahasiswa sebagai pelanggan, mulai merasa dirinya adalah raja. Komplen pelangan terhadap service yang ia dapat dari apa yang telah ia bayar sering terjadi di perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Disinilah ironisnya, disaat perguruan tinggi swasta maupun negeri sudah mulai putus asa dalam mendapatkan mahasiswa yang berkualitas, ia bersedia menerima mahasiswa yang paling tidak berkualitas hanya untuk mendapatkan sepeser uang. Kejadian ini tidak hanya terjadi di Amerika saja, tetapi sangat relate dengan apa yang terjadi di kota kita bahkan di kampus saya sendiri. Tidak hanya itu, fenomena mahasiswa dan awam tahu segala hal dan merasa dirinya lebih pintar dari dosen dan rekan-rekan sejawadnya di kampus itu juga sudah di teliti oleh David Dunning dan Justin Kruger peneliti dari Cornell University pada tahun 1999.

Secara singkat menurut mereka, mahasiswa dan awam mengalami Kruger Effect atau Efek Dunning-Kruger yaitu, bahwa semakin bodoh anda, semakin anda yakin bahwa anda sebenarnya tidak bodoh. Secara halus Dunning dan Kruger menyebut orang-orang seperti itu sebagai orang yang “tidak berkeahlian“ atau “tidak kompeten“ intinya “mereka bukan hanya salah dalam menyimpulkan dan membuat pilihan; inkompetensi juga merampas kemampuan mereka untuk menyadari kesalahan mereka sendiri“

images.jpeg
Kruger Effect
Source : Google

Tetapi, bukankah semua itu adalah konsekuensi dari demokrasi? Bukankah semua orang berhak menyuarakan apa yang ia ketahui? Kenapa ruang demokrasi seperti dibatas-batasi? Apakah ruang demokrasi hanya untuk mereka yang mengetahui informasi secara mendalam saja? Bukankah semua ini adalah konsekuensi dari kemudahan yang diberikan oleh teknologi dalam mengakses dan memproses informasi?

Apakah ini hanyalah sinisme elitis yang dibuat oleh Tom Nichols untuk mempertahankan wajah para kaum intelektual dari matinya kepakaran itu sendiri di zaman kemudahan mengakses informasi seperti saat ini? Lalu sekarang jika awam itu tidak boleh asal berpendapat seperti apa yang dikatakan Tom Nichols, bagaimana masyarakat awam bisa tahu jika sewaktu-waktu pakar membuat salah?

Pertanyaannya sekarang bagaimana jika pakar salah?

Ketika Pakar Salah & Penutup sebagai renungan.

Faktanya, pakar juga pernah melakukan kesalahan. Pakar juga kerap kali gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan penting. Pakar mengamati suatu fenomena atau memeriksa suatu masalah, mendapatkan suatu teori dan solusi lalu mengujinya. Kadang-kadang solusi tersebut benar & kadang-kadang solusi tersebut salah. Keinginan awam mengetahui seluruh kebenaran dan mendapatkan seluruh jawaban dari pakar, membuat pakar gatal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Padahal terkadang pakar sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diluar dari keahliannya. Ini yang dapat menyebabkan pakar salah. Hal ini yang terkadang dapat menyebabkan solusi yang diberikan oleh pakar salah sasaran dari apa yang diharapakan.

Disaat pakar mulai mencoba melebarkan keahliannya dari satu bidang ke bidang yang lainnya. Perebutan lintas keahlian yang dilakukan oleh pakar satu dengan pakar yang lainnya demi menjawab pertanyaan awam agar tidak terlihat bodoh didepan awam dalam menjelaskan kerumitan adalah suatu yang masih sering dilakukan oleh banyak pakar. Belum lagi disaat pakar melakukan penipuan data, disaat dia melakukan penelitian. Berbohong atas sertifikat kepakarannya dan memalsukan temuannya agar temuan tersebut harus sama dengan apa yang ia inginkan. Terdapat suatu penelitian dalam “Political Science’s Problem with Research Etichs” pada tahun 2015 yang meneliti bagaimana pakar melakukan pemalsuan dan bersifat curang, menjelaskan bahwa hampir 2 persen peneliti mengaku pernah melakukan kecurangan, pemalsuan dan modifikasi data setidaknya satu kali; 14 persen mengatakan pernah menyaksikan perilaku tersebut dilakukan oleh koleganya.

Sepertiga responden mengaku pernah mengabaikan temuan yang bertentangan dengan temuan mereka sendiri. Sementara 70 persen mengatakan pernah menyaksiskan perilaku tersebut dilakukan oleh koleganya.

Lalu kembali ke pertanyaannya, bagaimana jika pakar salah? Sebenarnya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pakar tidak sebanding dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh awam. Kesalahan yang biasanya dilakukan oleh pakar bisa menjadi pintu masuk baru bagi penelitian yang akan dilakukan oleh pakar selanjutnya. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pakar lebih terukur dibandingan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh selain pakar. Penelitian yang buruk sekalipun, tidak seburuk dengan kesalahan yang disengeja/tidak sengeja dilakukan oleh awam. Disinilah konsistensi dan pengalaman pakar teruji dibandingan awam dalam menjesalakan suatu fenomena. Jika pakar salah, resikonya tidaklah lebih buruk dibandingkan resiko yang dibuat oleh awam.

Akhirnya, disinilah terbentuknya jembatan antara pakar dan awam. Kepercayaan yang seharusnya dilakukan oleh awam, pengawasan yang dilakukan oleh awam terhadap pakar agar negara/kota tersebut tidak berubah menjadi teknokrasi, dan pakar mau mengakui kesalahan serta perilaku pakar dalam melakukan penelitianlah, yang akan menjadikan demokrasi itu menjadi sehat dan berjalan. Disinilah kita mulai harus merenung bersama-sama, jika kita menginginkan kemajuan di kota kita sekarang, jika kita merasa kota ini sudah saatnya untuk berkembang, kita tidak bisa luput dari peran pakar dalam melakukan kegiatan kita sehari-hari.

Demokrasi tidak akan berjalan sehat jika kita analogikan seperti pilot yang ingin mendaratkan pesawatnya disaat terjadi turbulensi. Kita seharusnya mempercayai pilot tersebut sebagai orang yang pakar dibidangnya untuk menyelamatkan pesawat agar terhindar dari kecelakaan. Bukannya malah melakukan diskusi dadakan apa yang seharusnya kita lakukan dengan pesawat yang sedang mengalami kesulitan tersebut bukan? Inilah saatnya kita sebagai awam dan masyarakat untuk mulai mengakui keahlian orang lain. Inilah saatnya kita mulai melihat apa-apa saja yang seharusnya tidak dilakukan untuk mempercepat kemajuan. Mempercayai orang-orang yang sudah mendalami apa yang ia dalami adalah kesehatan demokrasi. Demokrasi menjadi sehat jika kita mempercayai pakar.

Demokrasi tidak akan menjadi semraut jika kita detik ini mulai terbuka untuk mulai memberi tempat kepada pakar. Karena pakar adalah pembatas dari kesemrautan pertukaran informasi yang terjadi diruang publik hari ini. Sekian dari yang bisa saya sampaikan, mari kita mulai membangun kota ini dengan keahlian kita masing-masing. Kita bisa memposisikan diri kita sebagai awam dan juga sebagai pakar. Ada saatnya kita mendengar dan didengar. Kalau kata pepatah, tidak semua panggung harus kita yang menjadi bintangnya. Jadi sekarang mulailah berproses dengan keahlian kita masing-masing.

Semoga renungan yang lumayan panjang ini tidak menjadi sia-sia dan dapat membuka mata kita semua untuk mulai berfikir bersama. Terima Kasih.

Daftar Pustaka

Tom Nichols, The Death Of Expertise

Justin Kruger & David Dunning, “ Unskilled and Unaware of it: How Difficulties in Recognizing One’s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assesments, “ Journal of Personality and Social Psychology 77(6), Desember 1999 1121-1122.

Richard Van Noorden, “ Political Science’s Problem with Research Ethics, “ Nature daring 29 Juni 2015; Brian C Martison, Melissa S. Anderson, and Raymond de Vries, “ Scientist Behaving Badly,” Nature 435 ( 9 Juni 2005 ): 737-738.

Previous Article

Mengenal Feminisme, Etika Kepedulian, Dan Kritik Terhadapnya.

Next Article
prolog 240bpm ++

Menyimak Perbincangan Santai; Saya dan Aku Saat Makan Malam.

MORE KEPS
af6ba8193317d0b0e36c30b3657a13eb
Read More

Psychedelic, Culture, Sains dan Perlawanan

Sampai sampai Amerika Serikat juga membuat undang undang yang memasukan zat dan obat obatan psychedelic serta ganja dalam kategori obat obatan yang berbahaya level 1. Dengan anggapan mempunyai ' potensi tinggi penyalah gunaan dan tak ada penggunaan medis yang di terima saat ini '. dan saat itu pula pioner psychedelic Timothy Leary di tangkap.