fbpx

MAGAZONE – 002

MAGAZONE 2

    MAGAZONE *002
    The latest addition to Kepsir Project X Mediaktif programs: Magazone is magazine online, a information sharing session about activities or things happening in local collective and other in the world.

      _____

      ROMA – DEADLY SYMPHONY

      • [accordion]
        • “Evaluasi Sebelum Kembali Ke Belantika Musik Underground”
          •  002 ROMA DEADLY

            Underground merupakan salah satu music manca negara yang digemari sebagian anak muda di Indonesia khusunya pada era 1990-an.
            Tapi setelah musik ini mendapat kecaman publik pada kisaran tahun 1996 sebagai musik yang di anggap aliran sesat dan menjerumus pada anarkisme, aliran musik ini jarang di minati orang Indonesia.

            Namun beberapa tahun belakangan ini, Kota Metro Lampung, sedang dihebohkan dengan bangkitnya scene underground yang sempat redup beberapa tahun belakangan ini, di antaranya Paint In Black (Heavy Metal), yang sudah seringkali meramaikan panggung-panggung di Lampung. Lalu berikutnya muncul FREEDOM (Hardcore), yang baru saja merilis Mini Album perdananya dengan tema Hardcore Is Back beberapa waktu lalu. Masih banyak lagi band-band underground Lampung yang sedang mempersiapkan amunisinya masing-masing di tahun ini.

            Namun dibalik scene underground di Kota Metro Lampung, pecinta underground di Kota Metro merasa kehilangan dengan band underground Deadly Symphony, band yang kerap di temui di setiap gigs maupun acara besar di Kota Metro saat itu.

            Deadly Symphony yang sudah hampir 7 tahun melalang buana di skena musik underground ini pun cukup berperan dalam perkembangan musik underground di Kota Metro pada masanya.

            Band bergenre Melodic Death Metal ini dikabarkan “Mati Suri” setelah 2 personil mereka yang memutuskan hengkang dan bergabung bersama Paint In Black, lalu kemudian Dimex (vocal) yang sekarang bergabung bersama FREEDOM.

            Roma, sang frontman yang sekaligus guitaris Deadly Symphony menuturkan:
            “Untuk saat ini Deadly Symphony masih tetap ada, hanya saja kami sedang ingin evaluasi dan berbenah sebelum kembali ke scene underground. Jika ada yang bilang kamu sedang mati suri, itu memang benar. Sebenernya di tahun kemarin sih kami sudah menyiapkan 5 materi lagu yang sudah siap record, namun karena di tahun 2017 kemarin kami harus menerima keputusan pahit karena ditinggalkan 2 personil kami. Jadi ya mau gak mau materi yang sudah siap reecord itupun tertunda, haha.” – Roma (gitaris DS)

            Dengan 3 personil yang tersisa, dalam waktu yang belum bisa ditentukan mereka tetap optimis untuk bisa kembali meramaikan musik underground di Kota Metro, Lampung, lebih luasnya di Indonesia, dengan tetap mempertahankan Melodic Death Metal namun dengan konsep baru.

            “Kami masih optimis untuk kembali ke scene underground, di balik kesibukan kami berbenah dan masih mencari untuk pengganti 2 personil kami. Karena bukan hal mudah mencari personil baru dengan karakter dan selera musik yang cocok dengan konsep Deadly Symphony. Jujur saat ini kami masih merasa kehilang mereka berdua. Selama saya mendirikan Deadl Symphony, formasi tersebutlah yang terbaik selama perjalanan kami. Tapi karena ini bukan pertama kalinya kami ditinggalkan personil, ya jadi kami tetap ambil sisi positifnya aja, hehe…
            Kami juga masih berhubungan baik dengan mereka, bahkan disetiap mereka manggung, saya sering ikut mereka. Dan justru saat ini saya merasa bangga dengan mereka, karena 2 personil asal Deadly Symphony sudah mampu membawa nama harum scene underground di Lampung, khususnya Kota Metro. Intinya, saya selalu support mereka bersama bandnya sekarang.”
            – Roma DS

            Dalam selah perbincangan, sang gitaris ini juga menuturkan rasa terimakasihnya kepada 2 mantan personil Deadly Symphony karena sudah bekerja keras untuk perkembangan scene underground di Lampung terutama Kota Metro bersama Deadly Symphony.

            Roma DS, sang gitaris Deadly Symphony ini meminta doa dan dukungan teman-teman agar Deadly Symphony secepatnya kembali ikut meramaikan scene musik underground.

            “Untuk teman-teman di Lampung, khususnya Kota Metro, jujur kami rindu suasana panggung, tapi memang saat ini kami, Deadly Symphony, masih dalam posisi stuck. Mohon doa dan dukungannya, semoga kami secepatnya bisa ikut meramaikan scene underground di Lampung. Secepatnya kami akan kembali, tunggu kami di area moshpit ya!!! haha…” – Roma DS

            (redaksi mediaktif)

        PICTJOE – PNC

        • [accordion]
          • “Semua Genre Musik Pasti Ada Keistimewaanya!”
            •  002 PICTJOE

              Banyak dari kita mengetahui genre musik, salah satunya Pop Punk atau biasa disebut Melodic Punk. Kebanyakan orang pasti sudah kenal dengan genre musik ini, genre yang mulai di kenal di pertengahan era 90an.

              Dalam peta Melodic Punk di Indonesia, kita punya sejarah yang unik. Lawatan Green Day di tahun 1996 menyaksikan gelombang masif dari banyak band Punk Rock dan Pop Punk atau Melodic Punk di Indonesia.

              Salah satunya ialah Pagi Nan Cerah, Band yang dinaungi 5 anak muda ini sudah melalang buana di belantika musik Pop Punk atau Melodic Punk di era 2000an khususnya Lampung.

              Berbicara soal Pagi Nan Cerah, siapa yang tak kenal dengan Joe Ramadhoni atau biasa disapa Joe, pria asal Bandar Lampung ini merupakan Vokalis dan sekaligus menjadi salah satu Frontman dari Band Pagi Nan Cerah.

              Sang Vokalis ini menuturkan bahwa awal mula kenal dengan genre musik seperti Pop Punk atau Melodic Punk saat ia sedang duduk dibangku SMP, dan ketika SMA Joe mulai tertarik dan terjun di genre Pop Punk atau Melodic Punk.

              “Awal mula gue ke Pop Punk /Melodic Punk itu dulu gue denger Blink182, New Found Glory, Descendents, NOFX dan banyak lainnya. Nah dari situ menurut gue sih keistimewaannya Pop Punk /Melodic Punk itu lebih energik disetiap lagunya. Tapi bukan berarti gue gak suka dengan genre lainnya, Haha… Gue suka denger semua genre gak hanya Pop Punk /Melodic Punk aja, sebab menurut gue semua genre musik pasti ada keistimewaannya senidiri.” – Joe.

              Joe juga menuturkan bahwa sudah banyak perkembangan genre musik di era 2000an dengan era yang sekarang.

              “Kalo sekarang sih lebih banyak paduan genre musiknya tanpa ngilangin unsur yang ada yang kemudian jadi karakter atau ciri khas si band, dan itu jelas keliatan. Kalo untuk perbedaan Pop Punk /Melodic Punk dulu sama sekarang buat di Bandar Lampung, gue kurang begitu paham karena memang di jaman ini gue bisa dibilang belum masuk keranah musik Underground. Tapi menurut yang gue denger musik Pop Punk /Melodic Punk dulu belum bisa diterima di Bandar Lampung. Duluuu… Gue juga kurang paham alasannya kenapa, mungkin mereka anggap gak ada bedanya dengan musik alternatif yang ada di jamannya pada waktu itu, hehe… Dan untuk sekarang ini, kalo yang gue liat musik Pop Punk /Melodic Punk di Lampung itu udah bisa di bilang banyak banget, cuma mungkin karena gigs udah kurang atau malah gak eksis lagi, satu persatu band juga pada ilang.” – Joe.

              Menurut Joe, untuk menjaga eksistensi di genre Pop Punk atau genre manapun kuncinya adalah terus berkarya. Namun disisi lain rasa solid anatara personil band juga sangat penting, loyalitas masing-masing personil band tersebut juga harus kuat agar eksistensi tetap terjaga.

              Joe juga mengklaim bahwa dirinya masih dan akan tetap setia dengan  Pop Punk /Melodic Punk untuk kedepannya. Aamiinn…

              “Mungkin sih 10 – 20 th kedepan gue tetep setia sama genre ini, tapi ya harus tetep eksplor sih. Karena kalo menurut gue; kalo kita gak eksplor dan nyoba masukin unsur genre lain nanti jadi agak sedikit bosen juga, sampe ketemu tuh karakter yang kuat yang jadi ciri khas si band. Entah itu dari instrumennya atau yang lainnya. Jadi kalo menurut gue jangan terpaku sama genre yang kita usung aja, gak ada salahnya campur sana sini selama itu tetep asik dan gak ngerusak Rootsnya. Kalo si band gak ada karakternya orang juga males buat denger, sebab gak ada bedanya sama yang udah ada, hehehe. Di band gue yang sekarang (Pagi Nan Cerah) gue ngerasa belum juga punya karakter, itu masih dalam pencarian, hahaha, intinya tetep ‘Ngulik’ haha!” – Joe.

              (redaksi : mediaktif)

        HARAM PROJECT

        • [accordion]
          • Terbentuk Dari Mereka Yang Siap Berjuang, Bukan Dari Mereka Yang Tak Tau Arah Pulang
            • haram

              H
              aram Project, sebuah band project inisiatif untuk menghadirkan momok baru yang bisa membentuk pergerakan dari para musisi dan pekerja seni untuk bisa Produktif dan Selektif dalam berkarya, lewat lirik serta instrumen yang akan di sajikan Haram Project akan memperjuangkannya.

              Band yang terbentuk sejak tahun 2016, dari mereka yang siap untuk berjuang, dan bukan mereka yang tak tau arah pulang.

              “Haram Project, awalnya tercetus ide dari gw (Jimbo) yang saat ini mengisi lini Vokal dan Gitar, dan Alex yang mengisi lini Vokal. Dan pada akhirnya, saat itu kami (Jimbo & Alex) ketemu sama si Bayu dan Ketel yang saat itu lagi……. Ngamen ! hahaha, Becanda broo haha. Yah jadi garis besarnya setelah pertemuan dengan Bayu dan Ketel itu, kami ngerasa mereka (Bayu dan Ketel) masih pengen bermusik dan berkecimpung di dunia permusikan. Dan dari situlah awal perjalanan kami”. ucap Jimbo

              Haram Project ini merupakan hasil besutan dari personil band – band yang pernah mewarnai skena musik di Lampung pada masanya.
              Di antaranya Jimbo yang saat ini masih menjadi bagian dari UncleFreak, kemudian Alex dan Bayu dari Yukitasenyum, dan terakhir Ketel yang berasal dari Pertigaan.

              Band bergenre Jamaican Musik atau sering di sebut dengan Ragga Muffin ini berencana akan segera merilis singgle terbaru mereka dalam waktu dekat. Single yang di kabarkan akan mulai masuk studio recording pada akhir bulan Januari ini menceritakan tentang Pesan Untuk Teman.

              Dalam proses pembuatan isi lirik single tersebut melibatkan Jimbo dan Alex.
              “Kalo soal lirik kami menceritakan tentang sebuah Pesan Untuk Teman gitu. Bukan SMS loh tapi, haha. Sebenernya sederhana sih, jadi seperti ajakan ke teman yang intinya ketika bareng temen – temen kita itu bakal lebih kuat dan kokoh tegak berdiri untuk melakukan hal apa aja. Biar gak penasaran, untuk lebih jelas nya pantengin Haram Project terus deh, secepatnya kami selesaikan single kami. Mohon do’a dan supportnya aja. Hehe”. ujar Jimbo

              Untuk kalian pecinta genre garapan Haram Project ini, terus ikuti perjalanan mereka dan nantikan single terbaru mereka di tahun 2018 ini.

              (redaksi : mediaktif)

        FATMAN

        • [accordion]
          • Lama Tak Terdengar Kini Muncul Dengan Merilis Video Klip Baru
            • FATMAN

              Salah satu band asal kota Bandar Lampung bernama Fatman merilis sebuah video klip berjudul “You and Me”, berkolaborasi dengan seorang wanita bernama Nia. Lagu tersebut merupakan salah satu single dari album mereka, Am I In Wrong Generation? yang dirilis pada tahun 2016. Ini adalah video klip yang kedua dari Fatman, setelah sebelumnya meluncurkan video klip pertama mereka, “Santai Sejenak” yang dirilis di tahun 2017 tak lama setelah launching album Am I In Wrong Generation?

              Band yang mengusung aliran musik punk rock ini berdiri pada 2 Februari 2009. Fatman digawangi oleh Luthfi Satria (vokal & gitar), Dwi Prakoso (bass & vokal), dan Adam Aldiano (drum). Trio ini muncul dan memberi semangat untuk kawan-kawan yang bergerak di ranah musik independen, khususnya di kota Bandar Lampung.

              Ada yang menarik di penggarapan video klip ini. Kali ini, Fatman mencoba bereksperimen dalam pembuatan konsep video musik dengan sentuhan nuansa melankolis. Video klip tersebut menceritakan seorang jurnalis yang secara tidak langsung teringat masa lalunya, menikmati sekelebat ingatan yang mempengaruhi  realitas kehidupannya tentang romantisme kepada seorang wanita kala duduk di bangku SMA.

              Video klip ini disutradarai langsung oleh sang vokalis, Lutfhfi dan dibantu oleh rumah produksi lokal bernama Manasuka Film. Rumah produksi ini terlibat secara lengkap, dari mulai pengambilan gambar yang dilakukan oleh M. Ilham Hambali dan Dhefilu Hatang, hingga proses editing yang dilakukan oleh M. Ilham Hambali. Manasuka Film sendiri adalah rumah produksi kolektif yang digagas oleh Lutfhi Satria.

              Dalam penggarapan video klip ini, Fatman juga dibantu oleh beberapa sahabat mereka yang ikut serta dalam pengambilan gambar. Video klip dari “You And Me Ft. Nia” sudah bisa dinikmati di kanal YouTube milik Manasuka Film. (luth)

              __

        (Edt : Mr. Keps)

        [full_width]

          Previous Article

          Error System : Tahun Ini Siap Luncurkan Mini Album Bertajuk "Teluh"

          Next Article

          6 Sampul Album Musik Langka - Karya Andy Warhol, Robert Frank, Basquiat dan Masih Banyak Lagi

          MORE KEPS