fbpx

Lagu-lagu Akustik Paling Bikin Eneg Kuping Saking Seringnya Dinyanyikan

1503634838618 1

Kadang daftar lagu ngeselin begini perlu dibuat, supaya banyak orang selamat dari rasa muak.

 

editor : Devin Pacholik
Artikel ini pertama kali tayang di Noisey
 
Gitar akustik pertama kali ditemukan di abad pertengahan, kemungkinan oleh seorang ksatria brengsek yang ingin merusak pesta orang. Semenjak itu, sudah banyak lagu-lagu jelek yang dinyanyikan secara akustik dan mengundang semua orang bernyanyi bareng. Mulai dari “Blowin in the Wind”nya Bob Dylan, “Landslide”-nya Fleetwood Mac, hingga “Whiskey In The Jar” karya Metallica, semua generasi memiliki stok lagu buruk yang sayangnya cocok untuk dinyanyikan menggunakan gitar akustik. Bahkan generasi millennial yang lahir dalam teknologi dan musik EDM pun tidak lolos dari jebakan ini. Musik akustik tidak akan pernah mati.

Maka dari itulah kami menyiapkan daftar lagu-lagu yang sering banget dinyanyikan pakai gitar akustik, dan selalu sukses mengundang nyanyian massal orang-orang.
Berikut kriteria yang digunakan untuk menciptakan daftar ini:

* Bisa dimainkan secara akustik 
* Lagunya jelek tapi kamu bakal tetap nyanyi bareng juga 
* Lagu-lagu ini tidak akan mati karena nostalgia generasi millennial yang kelewat kuat.

Daftar ini terdiri dari lagu-lagu wajib karaoke, lagu camping api unggun, dan tentunya berbagai soundtrack coffee shop sudah tidak asing lagi. Kita semua hafal dengan lirik lagu-lagu ini, bersama dengan berbagai kutipan The Simpsons dan film Warkop.

14. Luis Fonsi ft. Daddy Yankee – “Despacito”
Ini lagu yang menjadi klasik dalam waktu singkat. Versi awal lagu ini, yang tidak menampilkan Justin Bieber, sebenarnya lebih mirip “Macarena” atau “La Bamba” era modern. “Despacito” tidak mendapat peringkat lebih tinggi karena lagunya sangat baru, tapi sudah pasti akan menginspirasi generasi baru anak muda sok-sokan bisa bahasa Spanyol. Judul lagu ini apabila diterjemahkan berarti “Perlahan” dan menceritakan tentang hubungan asmara yang seksual. Luis Fonsi sama Daddy Yankee memang penyair kelas atas ya.

13. Train – “Hey, Soul Sister”
“Hey, Soul Sister” merupakan apa yang terjadi apabila iklan deterjen laundry tiba-tiba bisa main gitar. Lagu ini mungkin kandidat utama lagu paling nyebelin namun juga catchy bukan main. Pokoknya lagu ini adalah puncak dari wabah musik “adult contemporer”. Ini lagu favoritnya siapa sih selain anggota Train sendiri? Emang ada? Tapi jangan salah, lagu kesukaan ibu-ibu arisan ini kabarnya sempat menjadi lagu yang diputar terbanyak di stasiun radio Australia. Ingin membuat anak-anak suburban langsung bernyanyi secara serentak? Putar lagu ini.

12. Jack Johnson – “Better Together”
Nama Jack Johnson memang sudah tidak pernah terdengar semenjak akhir 2000an, tapi jangan salah, dia masih populer lho. Bahkan anak emo paling galau sekalipun pasti sesekali mendengarkan lagunya. Masa iya mau sedih terus-terusan? Lagu “Better Together” yang empuk dan ritmik membuat kita membayangkan kehidupan anak surf, makan pancake pisang dan selalu cerita. Teknik gitar slap-picking dan personanya yang chill membuat kita selalu santai. Lucunya lagi, lagu “Better Together” yang kemungkinan juga disukai orang tuamu sekarang tidak lebih dari sekedar musik latar belakang yang diputar di supermarket-supermarket terdekat ketika kamu sedang sibuk berbelanja. Ya ngimpi sekali-sekali bolehlah.

11. Norah Jones – “Don’t Know Why”
Ini adalah lagu yang kita diam-diam ingin bisa nyanyikan tapi gak bisa karena ya kita bukan Norah Jones. “Don’t Know Why” itu kayak boss besar dalam genre musik akustik. Dengan lirik ‘dalem’ macam “My Heart is drenched in wine/ But you’ll be on my mind/ Forever,” dijamin mamah-mamah muda suburban akan langsung sing along. Malam open mic di kampus belum lengkap kalau lagu ini belum dibawakan dengan gitar akustik. Tapi jangan salah, untuk bisa memainkan lagu ini dengan gitar, kamu butuh skill yang mumpuni lho.

10. Sublime – “What I Got”
“What I Got” adalah lagu tema bagi mereka yang doyan ngebaks tapi gak nyantai. Ini lagu tema buat orang-orang yang dulu hobi skate. Ini lagu buat bung-bung yang doyan dansa-dansi sambil minum. Ya sebetulnya satu diskografi Sublime semua kayak begini sih. Vokalis Brad Nowell mengajarkan kita bahwa untuk punya hidup yang bahagia, kamu hanya butuh seekor anjing peliharaan dan rokok mariyuana. Kalau kamu berumur 20an dan sempat doyan surfing, atau pengen surfing, kemungkinan album Sublime rilisan 1996 bisa ditemukan di rak CDmu. Hell yeah.

9. Taylor Swift – “You Belong with Me”
Kalau kamu mencari soundtrack sempurna ketika sedang cemburu dan menginginkan pacar orang lain, sudah pasti Taylor Swift adalah jawabannya. Biarpun “You Belong with Me” aslinya tidak dimainkan secara akustik, lagu ini entah kenapa menjadi lagu wajib api unggun saat sedang camping. Ini adalah lagu yang bertanggung jawab membuat Kanye West bertindak seperti seorang idiot, biarpun mungkin ini bukan tugas yang sulit. Lupa? Lagu “You Belong with Me” mengalahkan “Single Ladies (Put A Ring on it)” milik Beyonce di MTV Video Music Awards 2009 untuk kategori Best Female Video, dan melahirkan frasa “Imma let you finish” ikonik Kanye, menghasilkan konflik selama bertahun-tahun antara penggemar Kanye, Beyhive, dan the Swifties. Warisan “You Belong with Me” akan selalu hidup dalam bentuk meme dan kisah pertengkaran-seleb hingga akhir zaman.

8. Shania Twain – “You’re Still the One”
Shania Twain adalah puncak dari kultur pop Kanada. Kalau kamu lupa, mari saya ingatkan. Twain sudah mencapai kesuksesan jauh sebelum Drake, Bieber dan The Weeknd terkenal. Ya memang waktu itu gak banyak yang bisa dibanggain dari Kanada sih. Perdana Menteri Justin Trudeau belum nongol dan menjadi idola wanita-wanita, tapi berkat Twain, Kanada jadi keren. “You’re Still the One” membawa Twain masuk ke ranah country pop. Musik country modern tidak akan sama tanpa kehadiran Twain. Sempat memenangkan Grammy award, “You’re Still the One” masih terasa manis seperti lapis legit ketika didengarkan.

7. Matchbox Twenty – “3AM”
Setiap kali dua kord pertama lagu Matchbox Twenty “3AM” terdengar, kita langsung terbawa mesin waktu ke tahun 1996 ketika vokalis Rob Thomas masih menjadi raja dari kultur musik akustik. Menggabungkan grunge alt-rock dan twang khas Amerikana, Matchbox berhasil melahirkan “Push”, “If You’re Gone” dan “Unwell” dan mengukuhkan diri sebagai raja radio komersil. Namun barulah di lagu “3 AM” mereka resmi melahirkan hit besar pertama. Dijamin banyak orang di luar sana yang berteriak “I must be lonely” di pukul 3 pagi. Semua berkat lagu ini.

6. OutKast – “Hey Ya!”
Lagu ini memang tidak sepenuhnya akustik, tapi dijamin kamu pernah melihat seseorang membawakan versi akustik dari “Hey Ya!” di cafe-cafe terdekat. Di puncak popularitasnya, lagu ini bisa ditemukan dimana-mana, dari saluran radio hip-hop hingga musik pop. “Hey Ya!” meledak seiring iTunes mulai populer, dan menjadi lagu pertama yang meraih platinum via download. Lagu ini diciptakan duo rap ‘aman’ OutKast, mudah untuk dinyanyikan bareng, dan memiliki bagian tepuk tangan, semua resep untuk sukses. Hanya memiliki empat kord dan bagian partisipasi untuk cowok-cowok dan cewek-cewek, “Hey Ya” adalah lagu klasik untuk dibawakan secara akustik.

5. Death Cab For Cutie – “I Will Follow You Into The Dark” (A Cover)
“I Will Follow You Into The Dark” memiliki semua elemen lagu cinta yang baik: kepanikan eksistensial dan pengorbanan untuk sang tercinta. Kurang romantis apa coba baris ini, “someday you will die/ But I’ll be close behind and I’ll follow you into the dark.” Hit emo dari 2005 ini juga cukup aman untuk dimainkan di berbagai gereja-gereja modern terdekat selama pasturnya gak rese. Mengingat komposisinya yang luar biasa, mungkin saja malaikat terlibat dalam penulisan lagunya. Buktinya? Penulis lagu Ben Gibbard sempat mengatakan lagu ini ditulis “sangat cepat”, dan liriknya “muncul entah dari mana” seakan-akan ada kekuatan spiritual yang membantu. Ya semua karya seni bagus pasti terasa seperti itu.

4. John Mayer – “Your Body Is a Wonderland”
Ingat seperti apa rasanya sedang merekam wajah perempuan cantik, kemudian kamu hendak bercumbu tapi kemudian pick gitar berjatuhan dari celana kargomu? Kalau kamu ingat, ya berarti kamu John Mayer dalam video “Your Body Is a Wonderland.” Lagu akustik perayaan ngewe ini adalah lagu yang sempurna untuk dimainkan ketika kamu sedang intim dengan pacar. Dengan lirik seperti, “I love the shape you take when crawling towards the pillowcase” dan “I’ll use my hands,” lagu ini bagaikan bisikan hangat ke telinga pacar ketika kamu sedang mabuk. Hit dari 2001 ini menggabungkan nyanyian mendesah khas Mayer dengan teknik fingerpicking dan kocokan yang terdengar mudah untuk dimainkan, biarpun sesungguhnya tidak. Jangan salah, siapapun yang bisa memainkan “Your Body Is a Wonderland” dengan gitar sambil nyanyi sudah pasti romeo kelas kakap.

3. Green Day – “Good Riddance (Time of Your Life)”
Lagu ini bukan berjudul “Time of Your Life,” bukan juga “The Graduation Ceremony Song.” Hit Green Day dari 1997 ini menjadi lagu khas kelulusan bagi banyak orang. Biarpun liriknya sekilas terdengar optimis—”it’s something unpredictable, but in the end it’s right/ I hope you had the time of your life”—sesungguhnya lagu yang ditulis oleh vokalis Billie Joe Armstrong ini memiliki makna yang gelap. Sebuah artikel dari majalah Billboard edisi September 1998 mengutip Armstrong mengatakan, “Saya menulis lagu itu tentan mantan pacar yang pindah ke Ekuador, dan waktu itu saya sangat kesal.” Lha, jadi lagu klasik kelulusan generasi millennial justru sesungguhnya ujaran kebencian yang sarkastik? Begitu suara biola mendayu masuk setelah chorus pertama, dijamin kamu akan kesulitan menahan air mata. “Good Riddance” merupakan soundtrack sempurna yang mengingatkan kita bahwa tidak ada yang kekal.

2. Oasis – “Wonderwall”
“Wonderwall” adalah lagu cinta yang bisa melukiskan banyak hal. Lagu ini adalah tembang penemuan diri dan harapan, tapi mungkin juga ternyata lagu ini cuman bercerita tentang menemukan tiket bis yang sesuai. Dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone yang terbit 1996, vokalis Oasis, Liam Gallagher mengatakan, “Wonderwall itu bisa jadi apa saja…ini kata yang indah. Rasanya seperti sedang mencari tiket bis kemana-mana, dan tiba-tiba kamu menemukannya dan kamu sontak berteriak ‘Fucking mega, that is me wonderwall.” Artikel itu kemudian menceritakan bahwa lagu itu ditulis untuk pacar Noel saat itu, Meg Matthews. Noel menambahkan, “Kadang gue bodo amat soal bikin lirik yang masuk akal. Tailah, cuman lirik doang.” Ada dua hal yang diingat orang ketika kita ngomongin Gallagher bersaudara: 1) “Wonderwall” dan 2) kebencian mereka satu sama lain dan kebencian mereka dengan karya sendiri. Biarpun memiliki progresi kord dan lirik yang sederhana, makna “Wonderwall” sudah pasti tidak semudah yang kamu kira. Sama seperti sudut pandang Oasis mengenai kehidupan, “all the roads we have to walk are winding.

1. Plain White T’s – “Hey There Delilah”
LDR itu emang gak enak. Hit single Plain White T’s dari 2006 “Hey There Delilah” menuturkan kegelisahan ini lewat sebuah lagu ballad yang membuatmu mengetukkan kaki. Vokalis Eric Remschneider bertutur secara optimis “Don’t you worry about the distance/ I’m right there if you get lonely” sebelum mengeluh di chorus “Oh, it’s what you do to me.” “Hey There Delilah” merupakan sebuah perjalanan emosional dan setiap kata melambangkan sebuah konflik. Misalnya, baris “Times Square can’t shine as bright as you.” Di satu sisi, lirik ini dimaksudkan sebagai pujian, karena Times Square sedap dipandang, sama seperti sosok yang kamu dedikasikan lagu ini. Tapi di sisi lain, Times Square tidak lebih dari ruang kosong dipenuhi outlet retail dan iklan: dengan kata lain, palsu. Hanya lagu akustik terbaik bisa menuturkan pujian dan kebencian diri secara bersamaan, dan masih tetap empuk di kuping.

Mungkin kamu sedang kesal bukan main selagi membaca daftar ini. Kenapa juga sih “Hey There Delilah” lagu terburuk yang sering dimainkan dengan gitar akustik? Kenapa bukan “Wonderwall?” Memang betul bahwa “Wonderwall” adalah lagu yang sangat dicintai dan kekal. Lagu ini seperti meme. Nah, tapi “Hey There Delilah” adalah bentuk evolusi berikutnya. Liriknya yang emo sangat relevan dengan kondisi psikologis generasi millennial. Apabila “Wonderwall” bercerita tentang pihak lain (“you”), “Hey There Delilah” berfokus di “what you do to me.” Kan Millennials generasi Me Me Me? Si Delilah paling pindah ke New York berusaha menjadi seniman atau kuliah lagi karena kondisi ekonomi yang buruk. Sementara Remschneider dengan getir bernyanyi, “Someday I’ll pay the bills with this guitar.”

Sabar ya bro. Sabar.

Previous Article

Skenario Agar Manusia Bisa Melakukan Penjelajahan Antar Bintang

Next Article

Amerika Serikat Pernah Berencana Meledakkan Nuklir di Bulan

MORE KEPS