fbpx

Jenis-Jenis Manusia Nyebelin Setelah Hipster Tak Ngetren Lagi

1498619740182 hipster.jpeg?crop=0

Kalian pikir hipster bertahan selamanya? Engga dong. Nih ada panduan memahami subkultur baru yang akan kalian benci beberapa tahun ke depan.

 

Sudah cukup waktu berlalu semenjak puncak tren hipster berlalu tiga tahun lalu di seluruh dunia. Kini kita bisa menilik ke belakang dunia hipster sebagai sebuah pergerakan, kegilaan, meme, atau apapun lah itu dan mencoba merangkum apa sebetulnya makna di balik semuanya, kalau memang ada. Berikut apa yang kami coba lakukan lewat seri cerita pendek di bawah ini.

Ide hipster sudah punah. Biarpun masih banyak orang menumbuhkan jenggot, tidak ada lagi yang membawa-bawa portable record player. Tidak ada lagi lelaki yang memakai kacamata berframe tebal. Pake filter sepia di postingan Instagram? Basi. Sekarang istilah hipster kurang lebih berarti “tren baru yang saya gak ngerti,” atau “seseorang yang mempunyai hobi lain dengan saya.”

Kalau anda tidak mengkonsumsi obat-obatan, maka mereka yang memakai adalah hipster. Kalau anda tidak menyetir mobil elektrik, mereka yang menggunakan mobil listrik adalah hipster. Vegan itu hipster. Orang yang hobi makan daging itu hipster. Mereka yang hobi memakai topi dianggap hipster oleh mereka yang tidak suka memakai topi (tentunya mereka juga hipster).

Maka dari itulah, mari kita berkabung untuk kematian sosok yang kerap difitnah ini. Hipster adalah sosok yang mudah dikenali: sok keren, sok fashionista, ikonoklastik, dan berusaha keras untuk menonjol.

Mereka seperti adik kecilmu yang menggores-gores pintu, berusaha mencari perhatian, tapi gagal. Sekarang hipster tidaklah lebih dari kumpulan idiot yang dimasukkan dalam kategori yang sama: ada yang “trendy”, ada yang enggak, ada yang jadi hipster di internet, ada yang di dunia nyata. Seiring orang semakin norak ketika mengkategorikan orang lain, penting bagi kita semua, seiring kematian kata hipster, untuk mencoba menerka tren-tren baru yang akan muncul dalam beberapa tahun ke depan dan menilai karakteristik mereka masing-masing.

1498619855510 Cute

Orang Dewasa Sok-Imut

Ini adalah jenis orang dewasa yang menaruh terlalu banyak perhatian terhadap sisi kekanak-kanakan mereka. Faktanya, mereka orang yang membosankan. Seperti yang kita semua tahu, infantilisasi merupakan penyakit yang tengah menyerang kultur negara barat.

Banyak orang dewasa membeli buku gambar berwarna, menonton acara TV anak-anak (padahal gak punya anak), menghadiri TK khusus orang dewasa, menonton Adventure Time, oh udah denger soal cafe cereal di London? “Barcades?” Ya begitulah.

Sikap kebablasan terhadap konsumsi media macam inilah yang akhirnya melahirkan orang dewasa yang mempunyai banyak tanggung jawab justru menghabiskan uang menyewa berbagai mainan untuk acara ulang tahun mereka.

Untungnya, berkat mentalitas bunuh-atau-dibunuh dan saling makan dalam peradaban kita, tidak lama lagi orang-orang seperti ini akan punah. Semoga kita tidak lagi harus bertemu segerombolan pencinta Doctor Who yang mengatakan orang berumur 25 tahun boleh-boleh saja mengoleksi boneka karakter kartun dari era 90an.

Health Goth

Sempat ada era singkat ketika halaman Facebook Health Goth muncul dan membuat banyak orang kebingungan. Ini beneran nih? Jawabannya: iya. Estetika health goth (dan memang intinya cuman estetika) berkisar seputar pakaian olahraga: peralatan jogging, windbreaker, sepatu lari.

Semuanya harus berwarna hitam tentunya, mungkin dengan sedikit warna lain, dan tekstur mengkilat seperti neoprene dan PVC.

Tapi emangnya tren ini sebesar hipster atau orang dewasa sok imut? Enggak sih. Health goth itu terlalu niche. Kebanyakan orang gak tahu tentang tren ini. Setelah health goth memiliki nama, ini menjadi sekedar bahan olok-olokan, sama seperti #fashion dan #cool. Sepertinya tren ini tidak akan pernah menjangkau masyarakat luas, karena sulit dimengerti oleh mereka yang tidak berada di dalam komunitas. Biarin deh anak-anak Tumblr dan jurusan seni yang ikut beginian.

Keyboard Warrior / ‘Pembela’ Hak Lelaki / #GamerGaters

Memang kami akui, memilih segerombolan orang-orang pemarah di internet itu pilihan yang aneh karena mereka sepertinya hanya eksis dalam komunitas aneh yang terobsesi dengan diri sendiri—sekilas mirip dengan hipster, tapi sebetulnya tidak juga.

Bagi kita semua kaum moderat, mereka-mereka ini, tidak peduli sisi mana yang mereka perjuangkan, hanyalah segerombolan manusia garis keras yang bercuap-cuap omong kosong di depan angin semu. Emangnya ada orang di luar internet yang peduli tentang ocehan mereka? Paling enggak hipster itu nyata, pake kostum yang bisa dikewatain dan ada produk artistiknya.

Kalau mereka-mereka ini hanyalah orang-orang sombong, jahat, narsistik, yang menolak menerima eksistensi sedih mereka di dunia. Mereka sebetulnya bukan tren kultural, tapi lebih semacam penyakit orang bingung di dunia yang sudah tidak jelas mana yang buruk atau baik.

Nu-Bro

Tren Nu-Bro ibaratnya sudah naik roket mengelilingi matahari, kemudian kembali di titik yang sama. Bedanya? Sekarang hal-hal yang dia sukai disukai semua orang. Dia preppy, tapi juga hobi nonton olahraga. Dia hobi pake polo shirt, tapi tetep punya tim olahraga favorit, biar edgy. Dia doyan dengerin Taylor Swith dan Justin Bieber, tapi dengan apresiasi yang jauh lebih mendalam. Dia juga suka koar-koar ngasal tentang “cara meruntuhkan sistem adalah dengan beradaptasi dan menghancurkannya dari dalam”.

Tapi tetap aja hobinya main drinking game aneh-aneh di halaman depan frat houses. Dia juga hobi ngetweet “YAAAAAAAS” sambil nonton Scandal. Orang-orang ini lebay dalam melakukan segala sesuatu, padahal hal-hal yang dilakukan itu biasa banget. Amit amit.

Yuccie

Salah satu masalah dengan hipster adalah nilai-nilai yang mereka lambangkan. Mereka adalah orang-orang yang sanggup membayar tato kumis di atas jari telunjuk dan tidak perlu khawatir akan ditolak dari sebuah pekerjaan. Orang-orang yang sengaja berpakaian gembel, seperti episode Boardwalk Empire, bukan karena terpaksa, tapi karena memiliki privilisi dan mungkin bisa menciptakan karir dari sekedar menjual susu “alternatif” mahal ke orang-orang bego.

Biarpun banyak elemen visual yang sama dipertahankan (sok berpenampilan seperti kelasi tangguh), mentalitasnya sudah berubah. Bukannya bermalas-malasan, Yuccie justru adalah sosok pengusaha muda. Tipikal “kaum kreatif muda urban” yang mengubah bekas rumah keluarga menjadi ruang kerja bareng graphic designer lain. Ini semacam korporat versi trendi, dimana anda bisa “keren” dengan menjadi diri sendiri, tidak peduli bahwa anda mewakili setiap perusahaan ultra-kapitalis berbahaya di dunia.

Ini adalah kehidupan yang mudah dan mulus, tidak seperti hipster yang sering sok miskin. Yuccie adalah mereka-mereka yang masih ingin memiliki karir normal, tapi tetap trendi. Bedanya sekarang tren mereka adalah party alkohol gratis yang disponsori oleh Nike. Ini semacam pendewasaan sistem korporat mainstream, entah ironis atau tidak.

Earnest

Ketika tren hipster mencapai puncaknya, kita juga sudah mencapai puncak tren ironi. Earnest adalah mereka-mereka yang percaya bahwa sudah terlalu banyak hal negatif di dunia, jadi mereka memilih untuk hidup secara tulus dan in the moment, terus mengejar keindahan dan pengalaman sejati.

Di Instagram, mereka hobi mengunggah foto sedang mendaki, #BLESSEDs, jus sehat, dancing like nobody is watching (ceileh), bebas alkohol, tanpa malu-malu membicarakan ambisi mereka dan curhat di blog. Hidup mereka bebas dari ironi.

Tentu saja ini tidak mungkin bertahan selamanya. Tidak ada orang yang sempurna. Ujung-ujungnya tekanan hidup akan bertambah keras dan mereka mulai tumbang, dan akhirnya malah menikam seseorang ketika sedang berhalusinasi seperti Natalie Portman di film Black Swan.

Kurang lebih begitu. Kini tidak lagi masyarakat memiliki satu target ejekan, tapi beberapa tipe orang yang bisa kita pertanyakan pilihan hidupnya. Mereka tetap doyan dandan, terobsesi dengan diri sendiri, narsis, tapi sering gagal paham tentang banyak hal walaupun selalu mengesankan dirinya berwawasan luas dan berbudaya. Berbeda dari era hipster masih merajalela, kualitas nyebelin dari jenis manusia-manusia dalam artikel ini kayaknya sudah tersebar dalam beberapa tipe orang.

Jujur ya, sebetulnya hipster itu adalah kristalisasi menyenangkan dari semua kecacatan kultur modern dan malah ditiru oleh banyak negara. Sekarang mereka sudah tiada dan bermutasi menjadi ratusan kaum brengsek yang berbeda-beda. Duh jadi kangen sama hipster. Piringan hitam Sunn o)) gue mana ya? Mau nge-DJ di acara pembukaan toko yang ngejual keranjang rajutan sweater dulu ah.

___
Artikel ini pertama kali tayang di Vice | Oleh Joe Bish | Ilustrasi oleh Alex Jenkins

Previous Article

Lagu Radiohead Yang Lama Tak Dirilis, 'Lift', Akhirnya Dibuatkan Video Klip

Next Article

Jangan Seenaknya Sebut-sebut Ini Tato Jablay

MORE KEPS