fbpx

Jangan Seenaknya Sebut-sebut Ini Tato Jablay

1504614054590 1.jpeg?crop=0

Sesungguhnya tato di punggung bawah itu pernyataan bahwa kami adalah perempuan merdeka. Tapi dulu yang punya tato di situ justru sering dicap jablay. Kenapa ya?

 
Saya menghadap ke lantai sambil merenggangkan kedua kaki seperti Britney Spears di video musik “Stronger“. Di belakang saya, Tessa BX dari Gnostic Tattoo membuatkan tato ke-11 untuk saya. Saya memutuskan untuk bikin tato di area punggung bawah.

Kalau kalian bingung area punggung bawah itu di mana, saya bisa pakai bahasa yang lebih lugas, seperti atas pantat. Tapi untuk mencegah afiliasi yang enggak-enggak dan menghindari sikap seksis, ada baiknya lokasi itu disebut punggung bawah saja daripada atas pantat

Britney juga punya tato di punggung bawah, lho!. Bentuknya peri. Sementara tato saya gambarnya ular, dibuat berdasarkan ilustrasi salah seorang seniman favorit saya, Alejandra Sáenz.

Ingat dengan krisis psikologi yang menimpa Britney pada 2007 lalu? Ingat juga kah orang-orang yang mem­-bully Britney pada saat itu? Yang menghakimi dengan penilaian yang enggak pada tempatnya? Menurutku hal yang kurang lebih serupa dialami juga oleh tato punggung bawah: diperlakukan tak senonoh, dihakimi seenaknya. Di Amerika atau di barat sono, tato di bawah punggung itu dijuluki “ tramp stamp” alias “cap jablay” a.k.a “tato jablay”. Tramp tak lain adalah kata slang dari perempuan jablay.

Tato di bawah punggung mulai nge-tren di kalangan perempuanperempuan Barat di era 90-an. Dr. Anna Felicity Friedman, sejarawan tato dan pimpinan Center for Tattoo History and Culture mengatakan tato di situ muncul karena stigma buruk soal tato di abad pertengahan, “Jadilah mereka membuat tato di area yang mudah disembunyikan,” katanya.

Jill Jordan, salah satu seniman tato perempuan yang paling terkenal di era 80-an, menyebut lokasi tato itu “ chick spot,” karena umumnya perempuan lah yang minta dibikinkan tato di daerah itu.
Menurut Margot Mifflin dalam buku Bodies of Subversion: A Secret History of Women and Tattoo, tren ini berlanjut hingga awal 90-an sebab makin banyak perempuan punya tato di masa itu. Tren ini memuncak pada pertengahan 90-an berkat beredarnya majalah-majalah tato yang menampilkan model-model dengan tato punggung bawah.

Saya ingat tumbuh besar di era itu dan mendengar laki-laki menyebut tato sejenis itu sebagai “target” atau “sasaran tembak,” mengasosiasikan mereka sebagai cewek murahan dan jablay. Meski saya yakin sebagian perempuan membuat tato tersebut untuk memikat kekasih, modifikasi tubuh dari makeup hingga operasi plastik merupakan pilihan-pilihan yang diambil perempuan supaya merasa lebih berkuasa atau nyaman dengan tubuh mereka sendiri.

“Kini perempuanperempuan memandang tato sebagai emblem pemberdayaan di era feminis. Mereka juga memandang tato sebagai lencana pendirian di saat kontroversi soal hak aborsi, budaya perkosaan, dan kekerasan seksual membuat mereka memikirkan kembali mengapa dan siapa yang menguasai tubuh mereka,” tulis Mifflin.

Namun masyarakat patriarkis kita berasumsi bahwa modifikasi tubuh perempuan bukan soal kuasa perempuan terhadap tubuhnya, melainkan soal menuruti preferensi laki-laki, sehingga perempuan dengan tato punggung bawah dianggap rendah dan jatuh-jatuhnya di-seksis-in.

Memilih gambar dan letak untuk sebuah tato adalah hal personal. Hal ini merupakan keputusan yang diambil berdasarkan banyak alasan; Bisa jadi tanda masa pemulihan setelah mengalami serangan seksual atau sekadar ingin menghias tubuh. Dalam buku Bodies of Subversion, Jordan bilang tato punggung bawah “adalah cara yang amat seksi dan indah untuk ditato. Pinggang kamu akan terlihat lebih ramping.”

Sementara dalam The Witch’s Book of Power, dukun Devin Hunter menulis bahwa dalam dharma, konsep dengan banyak makna dalam agama-agama India seperti Hinduisme, Buddhisme, dan Sikhisme, sebuah “ular raksasa dikenal dengan nama Kundalini melingkar bersama akar chakra kita, bertindak berdasarkan insting primitif.” Kundalini berurusan dengan energi kehidupan mendasar, atau prana, menurut Shakti Parwha Kaur Khalsa dalam Kundalini Yoga: The Flow of Eternal Power

1504614090089 2
Foto oleh Mosuno via Stocksy.

Saya ingin membuat “tato jablay” bergambar ular untuk memperingati sebuah masa dalam hidup saya. Masa di mana saya membebaskan diri dari kungkungan patriarki, seperti hubungan tak sehat dan menemukan jati diri saya sesungguhnya. Tamsil ular dan letak tato itu sendiri mewakili sisi primitif dan “hidup yang ena,” seperti Hawa yang menerima buah terlarang di Taman Eden. Buntut tato saya dimulai pada akar chakra namun sisanya berada di chakra kedua, sebagaimana tato punggung bawah pada umumnya.

Sementara tato punggung bawah mewakili energi primitif, keamanan, dan kelangsungan hidup, chakra kedua mewakili energi seksual. Bukan kebetulan jika letaknya berdekatan dengan organ reproduksi. “Area ini sakral, itulah sebabnya disebut tulang kelangkang ” ujar Ashlee Davis, seorang instruktur yoga Kundalini dan pelatih kesehatan holistik yang fokus membantu klien yang bergumul dengan masalah kepercayaan diri dan orang-orang yang melampiaskan permasalahan emosional dengan makan berlebih.
Tato bawah tertua diperkirakan dibikin pada 1937. Setidaknya itulah yang dicatat dalam artikel “Tattooing Among the Arabs of Iraq,” yang awalnya dirilis pada American Anthropologist oleh Winifred Smeaton dan ditayangkan ulang di The Tattoo History Source Book.

Smeaton menulis tentang bidan dari Al-Hadhimain (wilayah utara Baghdad) yang dia sebut sebagai salah satu informan terbaik soal aspek magis tato. Perempuan tersebut, yang tidak disebutkan namanya oleh Smeaton, menjelaskan praktik mentato desain kecil yaitu tiga hingga lima titik di punggung bawah perempuan atau “di atas pantat” sebagai ritual kesuburan.

Pada 2000, saat Britney dan tato perinya menguasai kursi di “Stronger,” tato jablay mulai ketinggalan zaman. “Saat jins panggul meledak di pasaran pada 2000, sehingga tato punggung bawah menjadi terlihat, orang-orang mulai mengasosiasikanya dengan seksualitas cewek murahan,” ujar Dr Friedman
Mifflin menulis bahwa pada era milenium baru, “makna chick spot lama-lama bergeser jadi tato jablay sehingga ia kehilangan pesonanya.”

Saat saya bertanya pada Dr Friedman contoh setara untuk menggambarkan tato jablay 90-an, dia menjawab: tato di rusuk. Sedangkan, menurut Tessa, tato paling populer bagi perempuan adalah sayap. Jadi, tato kupu-kupu di atas pantat membukakan pintu bagi tato bulu burung di bagian rusuk.

“Saya paling sering sih buatin tato punggung bawah dibandingkan tato lengan atau di area lain. Namun semakin saya berumur, memang stigma yang muncul seperti itu. Orang-orang bilang itu ‘Tato jablay.’ Sebagai seseorang yang menggemari tato, sebagai seniman dan juga klien, saya kesulitan memberi nilai tentang penempatan sebuah tato,” ujar Tessa. Saat dia menorehkan seekor ular di punggung bawah saya, saya merasa terlindungi dan berkuasa, dan saya bertanya-tanya apakah Britney merasakan hal yang sama soal tato perinya. Semoga sih, iya.

Meski saya dan komunitas tato lainnya menyarankan untuk tidak membuat tato dari nama pasangan atau gebetan, sebenarnya semua ini terserah kalian. Yah, boleh saja menghina tato jablay saya— yang jelas bagi saya ular ini punya pesona, dan itu tak bisa digugat, Lagipula gaya 90-an sekarang ngetren lagi. Jadi suka enggak suka, ya terima saja.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly
 

Previous Article

Jenis-Jenis Manusia Nyebelin Setelah Hipster Tak Ngetren Lagi

Next Article

Seniman Yang Dipenjara Gara-gara Karyanya

MORE KEPS