fbpx

Hari Ini Musik Indie Sudah Gak Minor Lagi

in hongdae part 
Do It Yourself (DIY), selalu dengan kalimat itu. Yang kalo di terjemahin jadinya lakukan itu sendiri; memiliki makna besar yang membentuk kepribadian baik secara personal hingga komunitas. Seiyanya kata mah yah, arti dari DIY di musik juga punya dinamika yang sama terbuktinya seperti Yin/Yang atau Bhineka Tunggal Ika yang tercermin kedalam nuansa bermusik. (tsaahh…)

Seingat gue sih yah, Indie Label atau konsep DIY itu berkembang di Indonesia sekitar pertengahan tahun 90’an. Dimana banyak grup musik pada waktu itu yang kecewa atau mungkin karena perkara ekonomi; duit, duit dan duit yang buat gak mampu masuk kedalam kuatnya Major Label.

Di awal kenal dengan yang namanya fenomena DIY, band-band indie bergrelia pada waktu itu. Yang kentara banget sama kualitas sound-nya yang se-ada-nya, lagu-lagu yang suka gak selaras dan sejalan sama industri musik nasional, dan dikenal sering aktif dalam aktivitas konser kelas lokal yang kadang bayar kadang juga enggak.

Tapi, dibalik itu semua tercermin semangat minoritas yang memiliki kekuatan ultra besar dari penikmat musik yang mungkin udah bosan sama susahnya ber-ekspresi atas nama kebebasan dan seni. Maklum sih, industri major label suka nerapin standar yang tinggi dan lebih penting mementingkan pasar. (sa aeee…)

Mereka-pun jadi fanatik dan setia karena kemungkinan adanya kesamaan nasib, mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan. (iyatah…)
Mereka-pun menghadirkan sebuah hiburan  murah-meriah-enak ditengah kondisi industri musik nasional yang semakin seragam. Bahkan di negara sebesar Amerika Serikat terbukti, DIY merupakan sarana perlawanan terhadap tirani yang membesar-pekat-berkarat.

Tapi emang sih, musik yang dibesarin sama konsep DIY rata-rata didominasi sama Punk Rock, Grunge dan Metal yang sama sekali gak mau ditampilin di televisi nasional pada waktu itu. Karena jenis musik kayak gitu memang segmented alias cuma beberapa orang aja yang suka nikmatin jenis musik kayak gitu. Tapi itu yang buat DIY punya taring yang tajam dikalangan remaja pada waktu itu.

Tapinya lagi, semakin berkembangnya jaman, ternyata DIY jadi sebuah budaya urban, banyak anak muda yang pengen meraih mimpi atau sekadar ngikutin trend dengan make konsep indie untuk memasarkan musiknya, juga banyaknya usaha sampingan kayak clothing atau jualan baju dengan design yang sedikit nyeleneh semacam tengkorak-jari tengah-kata kasar-kata nyinyir-kata mamah yang ngejamur dan bahkan dianggap jadi semacam gaya hidup.

Gak ada lagi kekuatan brotherhood atau kebersamaan dalam kekurangan, gak bisa lagi nikmatin konser yang kadang bayar kadang gak, atau ngedengerin sound seadanya tapi tetap berkelas dan gigs-antik.

Hari ini musik indie udah gak minor lagi, mereka berkembang jadi mayor, dan mayor sepertinya akan turun kelas jadi minor. :))
Mungkin ini baik, sebagai dinamika yang berkembang, tapi menurut gue semakin banyak yang ngerasa jadi band indie atau tiba-tiba indie, semakin banyak arogansi dikalangan remaja saat ini. Gak ada pembelajaran, semangat kerja keras, dan makin ngelunjak. (duh)

Ufh…
“Mungkin sebaiknya gue dengerin Kangen Band aja lagi ah…”

Foto: in-hongdae

Previous Article

Interview: Radio Friendly, Belajar Dari Realita di Album Perdana

Next Article

Kemarin di Jakarta #RadioGueMati!

MORE KEPS