fbpx

Eksorsisme Nyata dan Dekat Dengan Kita

1504329309392
Ilustrasi oleh Dini Lestari  

Eksorsisme bukan cuma seperti di film yang terlalu didramatisir. Gereja pun melakukannya demi membebaskan umat dari kuasa jahat, tapi dengan peraturan ketat.

 

Pintu kamar Pastor Yohanes Istimoer Bayu Ajie, Pr. diketuk petugas keamanan. Sekelompok mahasiswa mendatangi Paroki tempatnya tinggal di Bandung, lewat tengah malam. Ada satu kawan mereka kerasukan. “Waktu itu ada dua perempuan dan tiga laki-laki, yang perempuan yang kerasukan,” kata Bayu. Keempat kawan lain berusaha memegangi perempuan itu, namun korban kerasukan meronta kuat sekali. Saat Bayu menemui mereka, atas inisiatif pribadi bukan resmi mewakili gereja, mahasiswi itu masih meronta.

Mahasiswi yang menjadi korban roh jahat itu tiba-tiba memiliki tenaga tidak manusiawi. Dia mampu melemparkan orang-orang yang memeganginya. “Dalam pelayanan saya sebagai imam dan berkaitan dengan dunia roh, itu paling kuat, paling nyata,” kata Pastor Bayu.

Eksorsisme, alias pengusiran roh jahat, adalah sebuah ritual Gereja Katolik yang cukup sering diperlihatkan film-film horor produksi Hollywood. Beberapa film yang menampilkan elemen pengusiran setan di antaranya The Excorsist, The Excorsism of Emily Rose, atau The Conjuring. Industri perfilman Hollywood memandang Eksorsisme sebagai komoditas yang menarik banyak penggemar film genre horor.

Kata ‘eksorsisme’ pada dasarnya adalah stilah Gereja Katolik yang berasal dari bahasa Yunani, exorkizo. Artinya “mengikat dengan sumpah.” Dalam kepercayaan Katolik, ritual eksorsisme dicontohkan langsung oleh Yesus Kristus yang sering melakukan pengusiran roh jahat semasa hidupnya. Yesus lantas menisbatkan kekuatan tersebut kepada murid-murid-Nya untuk melakukan ritual serupa.

Siapa sangka, eksorsisme sungguhan masih dijalankan sampai sekarang. Termasuk di Indonesia. Tentu saja, ritual yang dijalankan gereja Katolik mengusir roh jahat jauh berbeda dari penggambaran Hollywood. Ritual eksorsisme yang diperlihatkan di film-film produksi Amerika Serikat itu banyak ditambahi ‘bumbu-bumbu penyedap’ agar dapat menghibur penonton dan terlalu didramatisir.

Pastor Bayu merupakan salah satu dari sekian pemuka agama Katolik di Indonesia yang mempelajari ilmu tersebut secara mendalam. Ketika saya mengutarakan niat menemui Pastor Bayu, beberapa pengurus gereja tampak jatuh iba pada saya. Belum sempat saya menjelaskan lebih lanjut kalau niatnya adalah wawancara. Sebagian frater langsung saja berkesimpulan kalau saya mengalami gangguan mahluk halus.

Untunglah Pastor Bayu bersedia menceritakan pelayanannya yang tak banyak orang tahu itu. Pastor yang kini berkarya di Gereja Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria ini terpanggil mendalami pengusiran roh berkat pelatihan lebih dari satu dekade lalu. Dia mengikuti seminar dan retret mengenai Eksorsisme oleh Pastor Jose Francisco C. Syquia, eksorsis dari Keuskupan Manila, Filipina, yang sedang melawat ke Indonesia.

“Kebetulan Tuhan menuntun saya mengikuti retret dua kali, pertama diadakan di Lembang, saya sudah merasa terbuka [secara spiritual],” ujarnya. “Beberapa tahun kemudian, diadakan lagi di Jakarta. Saya ikut dua kali. Jadi lebih luas lagi pandangannya, paling tidak secara pemahaman. Dalam praktik sih ternyata berguna juga.”

Pastor Bayu mengatakan eksorsisme kerap disalahpahami gara-gara industri film Hollywood, baik secara konsep dan penerapan. “Ada banyak ketidaktahuan tentang ini, banyak kekaburan tentang konsep, tentang pandangan yang diajarkan Gereja. Kita dibombardir oleh film, tetapi yang bener kita bisa jadi enggak ngerti,” ungkapnya.

Artikel Tayang Pertamakali di Vice

Previous Article

Jingle & Video Clip Competition Mister Geprek 2017

Next Article

Cerita Gila di Balik Pembuatan Album Metallica ‘Ride the Lightning’

MORE KEPS