fbpx

Eksistensi Manusia di Dunia Utopis

UTOPIS

Media sosial pada saat dewasa ini adalah suatu hal yang udah gak asing lagi bagi kita. Pada dasarnya media sosial itu suatu platform atau wadah buat ngemudahin manusia untuk saling berinteraksi antara satu sama lain secara online. Media sosial ngehapus batasan manusia buat bersosialisasi, dikarenakan batas ruang dan waktu sudah udah gak ditemuin lagi di dalamnya dan juga bisa digunain kapanpun dan dimanapun. Media sosial juga bisa buat seseorang yang kecil di dunia nyata jadi besar di dunia maya. Sebaliknya juga media sosial bisa buat seseorang yang besar di dunia nyata jadi kecil di sosial media.

Konteks dunia maya yang sekarang udah lebih jauh dan terdepan dibandingin tahun-tahun sebelumnya, seperti muncul online shop dan terobosan-terobosan lainnya. Karena konteksnya yang udah berubah, sekarang media sosial malah jadi “kebutuhan primer” di setiap manusia yang hidup dan eksistensinya mau diakuin sama orang lain.

Pada dasarnya manusia emang butuh pengakuan, contohnya pas kita lagi keluar bareng temen atau pacar, dengan segara kita mengunggah video Instastory yang berdurasi gak lebih dari 15 detik. Pas kita lagi beraktivitas sehari-hari, kita bakalan terus mengunggah apa pun itu-baik itu penting atau enggak. Pas kita gak lagi ngelakuin apa-pun atau cuma sekedar mengunggah suatu hal yang sama setiap hari, maka secara umum orang bakalan berpikir bahwa kita gak pernah keluar rumah, gak punya temen, gak punya aktivitas lainnya, hidupnya ngebosenin dan lain sebagainya.

ADVERTISEMENT-

Fenomena ini mengarahkan ke satu pernyataan yaitu; buat terus hidup atau eksistensinya diakui maka manusia harus mempunyai akun media sosial, entah itu Facebook, Instagram, Twitter atau bentuk apa-pun dan terus mengunggahnya yang bahkan hal yang diunggah itu bukan hal yang penting sekalipun.

Ketika semua orang mau diakuin dan hampir setiap orang punya pola pikir yang sama, beberapa orang enggak mau ter-generalisir dengan cara mempunyai konten “unik” dan yang berbeda dari yang lain di dalam akun media sosialnya. Dan ini merujuk kepada pertanyaan, “Apakah seseorang benar-benar menjadi dirinya sendiri di dalam media sosial?”. Jawaban yang tepat mungkin bisa dibilang gak ada yang orisinil di dalam dunia sosial media, bisa jadi itu cuma sebuah persona atau karakter ciptaan yang dibuat buat menuhin kebutuhannya yaitu mau diakuin sama khalayak banyak tentang gimana dia di dunia maya. Dunia media sosial sendiri itu bersifat utopis, gak ada tapi nyata, bisa dilihat tapi gak tau keberadaanya ada dimana.

Media sosial juga bisa jadi sebuah bentuk pelarian dari dunia nyata, dan terciptalah “karakter ciptaan” tersebut. Walaupun sebenarnya gak bisa dipungkirin kalo ada juga beberapa orang yang emang sama kayak di dunia nyata. Media sosial juga nyiptain budaya pamer dan konsumtif dimana orang-orang terpaksa masuk ke dalam dunia tersebut kalo mau ngedapetin “pengakuan”. Budaya itu gak bisa dilepasin atau bakalan terus melekat bareng kehidupan dunia media sosial. Slavoj Zizek nyebutin di dalam filmnya yang berjudul “The Perverts Guide To Ideology” kalo “Manusia gak bisa lepas dari budaya konsumtif yang ada sekarang atau kembali ke kehidupan dimana manusia cuma mengkonsumsi sesuatu yang dibutuhin sama mereka aja, hasrat keinginan bakalan terus diisi ketika sudah puas sama hasrat keinginan yang lainnya”.

Dari pernyataan tersebut bisa disimpulin kalo kita sebagai manusia gak bisa ngilangiin budaya konsumtif. Ditambah lagi sama dorongan kemajuan internet yang sudah ada, dan budaya tersebut bakalan terus melekat selama dunia digital tetap ada. Budaya konsumtif ngedorong manusia nyiptain budaya pamer, mau terlihat lebih unggul, berbeda dari yang lain, dan punya sesuatu yang gak orang lain punya. Lalu kemudian muncul lagi sebuah pertanyaan “Apakah manusia yang mengendalikan media sosial atau media sosial yang mengendalikan manusia?” Jawabannya memang balik ke masing-masing individu gimana caranya memandang hal tersebut.:))

Dunia media sosial memaksakan orang buat nyiptain persona yang berbeda dengan kenyataan, sebagai dunia utopis atau pelarian dari dunia nyata yang gak sesuai dengan yang diharapin, dan memaksa orang-orang buat ikut masuk ke dalam lembah hitam dunia pamer dan konsumtif.

Masuk ke dalam atau enggak masuk sama sekali, keduanya adalah pilihan yang tersisa buat hidup di dalamnya.

Previous Article

Column : Apa Semua Hal Butuh Pengakuan Biar Berasa Penting?

Next Article

The Loving Alien - Box Set Album-albumnya David Bowie dari Tahun 80-an Bakalan Dirilis

MORE KEPS