Edisi Potensi Unjuk Gigi

///

Sore ini ditemani oleh secangkir kopi americano dicampur dengan sedikit madu sembari melihat jalanan ibukota ini yang mulai kembali padat, saya menjadi teringat kembali dengan masa-masa sulit yang baru saja dilalui oleh kota ini. Kota ini menangis, berteriak, merangkak, saling bahu membahu, dan perlahan-lahan kembali menjalankan aktivitasnya secara normal.

Kota kecil ini rasanya sudah lama sekali sepertinya ingin menjadi salah satu sorotan bagi masyarakat di dalam dan luar pulau Sumatra. Setidaknya sebagai alternative pilihan wisata bagi mereka yang ada dipulau Jawa. Karena menurut pandangan saya, kota ini penuh dengan segala macam keunikan, tidak hanya destinasi wisatanya saja, tetapi kota ini juga memiliki segudang “hidden gems” sebutan pemuda urban ibukota.

Sang Bumi Ruwai Jurai menurut saya harus bersiap-siap agar tidak menjadi masyarakat kagetan seperti yang sudah-sudah. Kita harus berakulturasi dengan kebudayaan yang baru nantinya, masyarakat kita harus siap menjadi majemuk dan pluralis, karena jika tidak potensi ini hanya akan sia-sia, keringat kota ini akan mengering tanpa sebuah makna, slogan Lampung Maju itu hanya akan menjadi utopia saja. Kalau begitu emang sudah sejauh mana sih potensi kota ini untuk unjuk gigi

Ini dia tulisan ringan sebagai pembuka awal tahun, sebagai pengingat, renungan, sebagai teman menikmati kopi susu yang di campur gula aren disore hari atau sebagai teman di tempat tidur dengan selimut hangat.

96a37e3d 0fad 445e bcff 374f04737bd9 2 Edisi Potensi Unjuk Gigi
Dokumentasi ini adalah reintrepentasi bahwa masyarakat kita berharap pada suatu yang besar akan segara datang
By. Oom Fajri

A. Kita Baru Saja Memulai

Tak bisa dipungkiri kota ini berkembang dengan begitu cepat berkat kemajuan informasi, masyarakat kita seakan-akan haus akan informasi. Kita begitu banyak menyerap informasi, sampai-sampai masyarakat kita terjangkit penyakit FOMO (Fear of Missing Out), kita menjadi takut ketinggalan informasi atau berita-berita terkini. Bahkan disaat baru bangun tidurpun, naluri buang air kecil menjadi rundown nomor 2 setelah mengecek smartphone kita itu.

Tetapi berkat daya serap informasi kita yang tinggi itu, masyarakat kita menjadi terliterasi secara estetika, moral, dll. Harus kita akui masyarakat kita khususnya di daerah perkotaan menjadi lebih “baik” dan “cantik” dari 5 tahun yang lalu. Masyarakat kita mendadak modis, toleran, dan mulai terbuka dengan hal-hal baru. Walaupun baru sebuah awalan, saya rasa pelan-pelan ini akan berbuah positif kedepannya.

Kita bisa lihat bersama, sudah berapa banyak Coffee Shop dengan arsitektur mewah yang bermunculan sekarang, sudah berapa banyak brand-brand lokal yang mulai bersaing dipasar nasional dan juga internasional. Tidak hanya itu, salah satu band bergenre Dub kebanggan kota kita yaitu Roadblock Dub Collective sudah memulai sejak lama membawa karakter provinsi tidak hanya ke pulau jawa,  tetapi juga membuka koneksi sampai luar negeri.      

Tidak hanya band tersebut, baru-baru ini Roomie Boyz Alert bergenre New Wave serta MrnMrs masuk dalam 10 besar rilisan terfavorit dalam festival akbar terbesar seindonesia yaitu Syncronize Fest dalam acara Syncronize Radio: Maju Skena, Mundur Skena Sharing Session Vol. 2 yang dikurasi oleh artis-artis dengan nama besar ibukota Jakarta. Selanjutnya yang sedang panas adalah gelombang budaya pop baru bernama “Namoy Budaya” yang menjadi sorotan kota-kota besar diluar pulau Sumatra.

Lalu juga tak lupa kita harus beri sorotan kepada seniman-seniman seperti Moderlahoya, Nanu-Nano, Sinkink, Nonana dll yang karya mereka harus beri applause besar karena memiliki karakter serta konsistensi yang tidak pernah pudar. Serta mungkin masih banyak lagi artis-artis yang belum disebutkan, bukannya melupakan kalian tapi pasti kota ini sangat bersyukur serta bangga dengan karya-karya yang kalian curahkan. Karya kalian akan selalu mengisi tembok-tembok kosong, memberikan semangat dan warna baru serta menjadi abadi dibalik keanoniman yang kalian jaga itu. Tetaplah berkarya dan konsisten handai tolan.

Pembangunan besar-besar sepertinya sebentar lagi akan dilakukan dikota kita tercinta ini, kita harus sama-sama berbenah diri, harus lebih banyak belajar, jangan puas terlalu cepat dengan apa yang sudah kita lakukan, kita harus terus-terusan belajar, menggali lebih dalam lagi dengan apa yang kita lakukan. Saling bahu-membahu antar generasi terdahulu dan generasi baru yang akan datang kedepannya. Dan yang paling penting kita harus belajar bersama hilangkan penyakit narsistik kolektif kita.

Tidak hanya itu, pembangunan juga harus lebih merata kedepannya tidak hanya berfokus di kota Bandar Lampung saja, kota dan kabupaten lainnya harus memiliki semangat yang sama agar provinsi ini mempunyai keunikan yang lebih banyak di berbagai belahan daerah. Belakangan ini belahan bagian Lampung lainnya yang memiliki potensi besar menjadi kota maju adalah Tulang Bawang Barat serta Lampung Selatan. Salah satu pekerjaan rumah selanjutnya adalah kota kita harus bisa berkoneksi secara matang dengan kabupaten-kabupaten lainnya agar perkembangan yang ada tidak timpang terlalu jauh nantinya.

cd329e98 90da 4006 9b4f 0e110b8f5880 Edisi Potensi Unjuk Gigi
Arsitektur Modern di Tulang Bawang Barat
By. Menuju Tubaba

B. Kritik Masyarakat

Sebagai kota yang memiliki potensi unjuk gigi ditahun 2022-2025 nanti, masyarakat kita memang punya banyak sekali pekerjaan rumah tangga yang harus cepat diselesaikan atau setidaknya kita latih bersama-sama untuk cerdas secara sosial. Fungsinya nanti masyarakat kita lebih pintar secara sosial, lebih humble, lebih mau belajar dengan siapapun, mau lebih terbuka dengan perbedaan-perbedaan, bisa lebih mudah untuk melebur menjadi satu tanpa perlu repot-repot terlebih dahulu melakukan gesekan-gesekan horizontal antara “circle satu dengan cirle lainnya”.

Di zaman globalisasi ini berlomba-lomba untuk menjadi nomor 1 adalah sebuah cara yang harus cepat-cepat ditinggalkan. Zaman ini adalah zamannya kolaborasi, saling duduk bersama bertukar informasi, bertukar ide-ide besar untuk membangun kota ini, “adu lari” itu adalah hal bodoh yang harus cepat-cepat kita tinggalkan.

26324. SY475 Edisi Potensi Unjuk Gigi
By. Goodreads

Lalu bagaimana cara masyarakat kita belajar atau setidaknya mengetahui cara menjadi masyarakat yang madani atau cerdas secara sosial itu, dalam buku yang ditulis oleh professor Daniel Goleman yang sempat menekuni kelas spiritual di India ini menulis sebuah buku berjudul Social Intelligence. Didalam buku ini menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan sosial[1] adalah sebagai berikut:

1. Kesadaran Sosial

Adalah kesadaran sosial yang merunjuk pada spektrum yang merentang dari secara instan merasakan keadaan batiniah orang lain sampai memahami perasaan dan pikiran orang lain. Ciri-ciri kesadaran sosial adalah sebagai berikut:

a. Empati Dasar, perasaan dengan orang lain, merasakan isyarat-isyarat emosi non-verbal -gerak-gerik, keadaan gelisah, kaki yang terus bergetar dll-

b. Penyelarasan, Mendengarkan dengan penuh penerimaan, menyelaraskan emosi dengan orang lain

c. Ketepatan Empatik, Memahami pikiran, perasaan, dan maksud orang lain

d. Pengertian Sosial, Memahami bagaimana dunia sosial bekerja.

2. Fasilitas Sosial

Semata-mata merasa seperti bagaimana orang lain merasa, atau mengetahui apa yang mereka pikirkan atau niatkan tidak menjamin interaksi yang baik. Fasilitas sosial bertumpu pada kesadaran sosial untuk memungkinkan interaksi yang mulus dan efektif. Spektrum fasilitas sosial meliputi sebagai berikut:

a. Sinkroni, berinteraksi secara mulus pada tingkat non-verbal

b. Presentasi diri, mempresentasikan diri kita secara efektif

c. Pengaruh, membentuk hasil interaksi sosial

d. Kepedulian, peduli akan kebutuhan orang lain dan melakukan tindakan yang sesuai dengan hal itu

Saya rasa tidak hanya ini pekerjaan rumah tangga yang harus cepat-cepat kita benahi bersama, kecerdasaan sosial hanyalah sebagai landasan awal kita bermasyarakat, hal selanjutnya adalah literasi sains kita yang sangat lemah di Indonesia bahkan kota ini. Negara dan kota ini seperti acuh atau tidak peduli dengan saintis-saintis yang ada, kita hanya suka mendengar berita-berita bernuansa politik sinetron Jakarta saja.

Kita belum melek secara sains yang padahal jika kita jadikan sains sebagai landasan memahami sesuatu, argumentasi kita tidak hanya sekedar argumen bualan yang mudah dipatahkan, tetapi kita punya data. Argumentasi yang kita bawa adalah argumentasi yang berkualitas serta menimbulkan debat-debat kusir yang membahas ide bukan sensasi belaka.

2019 12 13 18 19 48 6d9c5d00a58294389818083c05aa9027 Edisi Potensi Unjuk Gigi
Data literasi membaca, matematika, dan sains tahun 2018 By. KataData

Juga masyarakat kita masih saja suka dengan “gorengan” atau gosip-gosip murahan, hal tersebut dapat menyebabkan perpecahan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, kapan kita mau memulai untuk membahas ide-ide besar, atau setidaknya memiliki semacan awareness dengan politik daerah kita atau dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dengan pemerintah daerah, kita terlalu sibuk dengan politik Jakarta, serta gosip-gosip murahan artis ibu kota.

Belum lagi masyarakat kita terlalu cepat untuk menunjukan siapa dirinya atau banyak orang bilang showoff atau yang disebut kan oleh Daniel Goleman adalah semacam ”Anagsonia Sosial”. Piil Pesengiri harus kembali dilebur agar “gengsi” itu tidak hanya seputar angka dan harta, tetapi menjadi gengsi soal kecerdasan sosial serta ide-ide brilliant.

Jika kita tidak cepat melatih masyarakat kita untuk pelan-pelan berubah, kota ini akan semakin lama berkembang, kota ini akan seperti ini saja dalam 10 tahun kedepan, harapan-harapan memiliki gedung tinggi, dan daya saing dengan para imigran akan semakin sulit. Mau kah kita jadi penonton di kampung halaman kita sendiri?

C. Penutup dan Harapan

Karena ini masih dalam suasana tahun baru, biasanya setiap orang memiliki harapan-harapan untuk tahun ini akan berjalan seperti apa kedepannya. Harapan saya kali ini sepertinya bukan harapan pribadi saja, harapan ini saya tunjukan kepada masyarakat kita yang nantinya akan bermasyarakat dengan para pendatang-pendatang baru. Kita harus mulai melatih diri kita untuk terus mendengar. Karena faktanya “mendegar itu sangat sulit” lalu kita harus melatih hal-hal positif yang akan memberikan advantage kepada kota kita.

Dari awal pembicaraan seringlah muncul sebuah kata “latih” kenapa latih? Karena menurut saya melatih kebiasan baru dan meninggalkan kebiasaan yang lama itu sukar sekali dilakukan. Sungguh sangat-sangat sulit untuk dilakukan. Dibutuhkan kesabaran ekstra, konsistensi dan eksekusi yang tepat saat dilakukan sehari-hari.

 Sebagai penutup kita akan menghadapi kemajuan yang sudah ada didepan mata ini, kita harus mulai berfikir secara global, referensi-referensi kita harus ditingkatkan lagi, tidak hanya berpatokan dengan Jakarta atau berkiblat dengan Bandung. Budaya kita bisa belajar banyak dengan referensi luar negeri yang kaya akan ide-ide cemerlang dalam mengemas hasil produksi. Berfikir global juga harus diimbangi dengan tidak melupakan citra rasa budaya Lampung. Agar budaya asli kita tidak cepat pudar, tetapi budaya kita bisa di packaging secara kualitas global.

Lalu fokus selanjutnya adalah sebuah pesan-pesan kepada generasi muda dan generasi tua. Generasi muda harus mulai melatih diri lagi untuk mengosongkan gelasnya agar ilmu-ilmu yang akan di transfer kepada generasi sebelumnya bisa di pelajari dengan baik. Untuk generasi tua, saya rasa kalian perlu menahan diri untuk tidak terpancing emosi saat menjadi pendidik, karena itulah tantangan seorang pendidik. Juga generasi tua harus cepat-cepat menghilangkan “mental abang-abangan” itu agar generasi muda tidak merasa terintimidasi dan bisa bertukar informasi secara efektif. Generasi tua memberi arahan, generasi muda sebagai analisis blind spot yang tak dilihat oleh generasi tua sebelumnya.

Terakhir, saya berharap dengan sangat kepada para kalian  yang sedang menimba ilmu di dalam dan diluar negeri, jika kalian sudah selesai atau bingung melakukan apa lagi diluar sana, marilah bantu kota ini untuk menjadi besar. Bantu kota ini untuk menjadi kota yang mempunyai daya saing tinggi. Keilmuan kalian sangat amat kami butuhkan. Masyarakat ini butuh elite-elite untuk membina dan membimbing agar masyarakat ini terliterasi dengan baik.

Lalu untuk kalian yang berniat berimigrasi kekota kecil ini, kami harap informasi-informasi yang kalian bawa nantinya akan membangun kota ini, bertukar ide atau informasi sangat kami hargai. Kota ini butuh belajar. Kota ini haus. Dan kota harus bersatu padu. Kita tinggal perlu sedikit semangat untuk menghidupi rakyat. Ingat jangan cepat puas, kita baru memulai. Terima Kasih!


[1] Daniel Goleman, Social Intelegence,  PT. Gramedia, Jakarta 2006, Hal. 101