fbpx

Cerita Gila di Balik Pembuatan Album Metallica ‘Ride the Lightning’

Penulis biografi Mark Eglinton berbaik hati membagikan cuplikan buku barunya ”So Let It Be Written: The Biography of Metallica’s James Hetfield’

1503979980233 2 
Artikel ini pertama kali tayang di Noisey. 

Perhatian bagi semua penggemar berat Metallica. Baru saja terbit biografi James Hetfield April tahun ini. Walaupun bukan biografi resmi, Papa Het dan gerombolannya sampai sejauh ini tak memprotesnya. Buku ini adalah gado-gado berisi kesaksian oral, biografi, dan sejarah pribadi. Narasi yang disuguhkan membabarkan pengalaman Hetfield yang mengasah kemampuan di kancah thrash metal Bay Area yang kala itu masih baru tumbuh hingga melewati lika-liku dalam karir Metallica, band metal terbesar di kolong jagat.

Buku ini penuh dengan serba-serbi anekdot dari teman-teman Hefield, orang dalam perusahaan musik hingga sesama rockstar yang kenal, pernah kerja bareng dan pernah bermain bareng James Hetfield. Penulis dan ghostwriter Mark Eglinton—yang pertama kali bertemu James Hetfield dan Cliff Burton pada 1986 dalam rangkaian tur Damage, Inc—bukan anak kemarin sore dalam penulisan biografi musisi metal. Eglinton ikut menulis buku bersama bassist Pantera, Rex Brown dan vokalis Behemoth Nergal. Dalam proyek terbarunya ini, Chuck Billy dari Testament turun tangan menulis pengantar.

Kepada Noisey Eglinton, Noisey bilang “Dari segala sisi, menulis So Let It Be Written mirip banget seperti memecahkan teka-teki. Demi mengetengahkan informasi baru dan menarik tentang seorang yang public figure, penting sekali menemukan cara baru untuk mengontak orang yang kenal Hetfield, tapi jarang koar-koar pernah dekat dengan vokalis Metallica itu. Prosesnya kadang menemui jalan buntu, tapi kadang menuntun saya menemui pencerahan baru dari orang-orang yang pernah mampir dalam awal karir Hetfield atau dalam proses pembuatan karya-karya awal Metallica.”

Memakai sudut pandang tersebut, biografi terbaru James Hetfield ini dijamin menjadi bacaan unik menawarkan celah baru bagi pembaca. Kita bisa mengintip kisah hidup ikon metal 54 tahun itu, dilengkapi komentar-komentar narasumber lain yang berimbang. Lebih dari itu, saya mendapat informasi bahwa So Let It Be Written sukses menyambung kembali silaturahmi antara James Hetfield dengan kawan-kawannya saat remaja. Sebagai seorang yang seumur hidupnya mengagumi Metallica, berita ini jauh lebih menggembirakan dari apapun.

Sila baca cuplikan eksklusif Chapter 6: 1984 and Beyond di bawah ini:

1503979803651 17
James berpose di depan foto Scorpions dan Michael Schenker di dinding. Sikapnya masih seperti seorang pemberontak. Foto diambil 1981. Oleh: Ron McGovney

 

Ketika 1984 benar-benar datang, ternyata tahun itu jauh tidak orwellian seperti yang banyak orang duga. Bukannya menjadi tahun yang ditandai dengan represi budaya dan sensor media yang ketat, tahun 1984 dikenang sebagai tahun penuh rilisan keren. Itu adalah tahun yang mengasikkan bagi para metalhead. Dalam banyak hal, 1984 adalah tahun penting bagi genre metal. Beberapa band yang namanya sudah tengah menikmati puncak karir mereka, sementara band baru—Metallica salah satunya—mulai menunjukkan taring.

Iron Maiden, band paling sukses dari gerombolan NWOBHM yang begitu dicintai Lars, merilis album dengan cita rasa Mesir kuno yang kuat, Powerslave, sementara Judas Priest—band Metal asal Inggris lainnya—berada di atas angin dengan album Defenders of the Faith. Kedua band legendaris itu bakal terus tur keliling dunia dan memproduksi album-album keren 25 tahun setelah itu. Namun, puncak-puncak karir mereka digapai pada 1984. Terutama Iron Maiden yang set panggungnya dan produksi visualnya jadi acuan band rock setelahnya. Celtic Frost—band keren asal Swiss yang menginspirasi segelintir band black metal dan death metal lewat debut mereka yang avantgarde dan aneh Morbid Tales—adalah band muda lainnya yang mencoba menerobos pasar dengan sound yang lebih ekstrem dan gelap. Dengan sederet band pengekor yang berpikiran serupa di Eropa, jika Metallica mencari celah untuk memantapkan nama meraka di kancah metal dunia, 1984 adalah tahun yang tepat.

Sayangnya, tahun tak diawali dengan mulus. Setelah sebuah gig di Channel Club di Boston tanggal 14 Januari, peralatan manggung Metallica digondol maling dari van mereka yang diparkir di luar venue. Dari semua anggota band itu, Hetfield adalah paling terpukul. Pasalnya, salah satu benda yang raib adalah sebuah ampli Marshal, senjata andalan Hetfield untuk menghasilkan sound gitar yang unik. Akhirnya, Metallica mampu merampungkan tur dengan meminjam peralatan Anthrax—yang sama-sama berada di bawah manajemen Zazula. Kendati kehilangan peralatan, Metallica tak menunjukkan tanda-tanda melamban. Zazula dengan baik memanfaatkan hubungan baru dengan Venom dengan membooking Metallica dalam Seven Dates of Hell tour bareng Venom. 

Dave Marrs, yang kedekatannya dengan Hetfield dimulai sejak mereka berdua sekolah di Downey, kala itu masih bekerja sebagai roadie drum Lars. Marrs masih ingat tur bersama Venom sebagai titik balik dalam karir Metallica: “kami mendengarkan Mercyful Fate hampir seminggu penuh tanpa henti selama dalam bus tur. Lalu, ketika kami berada di Denmark, kami mampir ke Sweet Silence Studios. Ternyata Mercyful Fate sedang ada di sana. Saat itu, Metallica tak punya cukup budget untuk mempertahankan aku dalam tur. Jadi, aku harus pulang. Aku tak dongkol atau menyesal barang sedikitpun. Lagian, aku juga tak tahu harus ngapain di sana. Saat kamu ikut tur, kami bisa dengan cepat tahu apakah kehidupan tur cocok denganmu atau tidak. Dan pada kasusku, aku tak cocok menjalani tur.”

Alhasil, salah satu figur penting dalam awal kehidupan Heafield keluar dari narasi hidupnya. Seperti Hugh Tanner sebelumnya, hidup sebagai anggota atau rombongan band metal tak cocok buatnya. Marrs, seperti juga Tanner dan McGovney, adalah rantai penting yang menghubungkan Hetfield pada masa remajanya di Downey. Lantaran kepergian Marrs, Hetfield tinggal sendiri dengan bandnya. Seperti yang terjadi pada tur Amerika Serikat bersama Venom, “Metallica menggila di malam pertama,” layaknya yang digambarkan dengan lugas oleh gitaris Venom, Jeff Dunn.

Dua band ini punya chemistry yang kuat dan itu yang terwujud dalam pesta minum-minum dan kekacauan yang terus terjadi sampai panggung terakhir di Aardschock Festival di Belanda, tanggal 12 Februari. Di antara penonton yang menyaksikan aksi band muda asal Bay Area itu ada Mille Petroza, yang kelak mendirikan unit teutonic thrash metal yang enggan berkompromi Kreator. Band asal Jerman bakal salah satu komandan pasukan pengusung thrash metal Eropa di dekade 80an. Sedekade kemudian, ketika thrash metal dipaksa kembali angslup dalam gig-gig bawah tanah, Kreator menolak mengganti gaya mereka.

Petrozza masih ingat bagaimana dirinya terinspirasi oleh Hetfield dan Metallica bahkan sebelum menonton aksi mereka di Aardschock: “Saat Kill ‘Em All keluar, album itu mirip sebuah evolusi sonik. Kalau cuma urusan main cepat, saat itu Venom dan Accept juga ngebut, tapi Metallicalah yang menyempurnakan gaya ini. Saat ditanya tentang hari Metallica tampil di Belanda, Petrozza tetap bicara dengan penuh hormat: “kami senang bukan kepalang ketika mendengar Metallica jadi band pembuka Venom.

Semua yang datang hari itu memang berniat nonton Metallica. Itu adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan.” Dunn mengakui bahwa tur awal tahun 1984 itu terhitung sukses dan masih punya kenangan jelas bagaimana Venom dan Metallica berinteraksi: “Lars selalu jadi juru bicara. Dia paling banyak ngomong. James selalu rendah hati, semacam orang yang dari sononya memang baik. Dia kelihatan senang berada di Eropa dan dia berada di Eropa karena dia memang ingin ke sini.”

Metallica, Hooker dan Music For Nation mulai mempertimbangkan secara serius tentang album kedua. Mereka merilis “Jump in the Fire” dari album Kill ‘Em All sebagai sebuah single bersama versi live dari “Seek and Destroy” dan “Phantom Lord.” ini adalah rilisan dadakan saja yang dibuat agar perhatian fan tetap terjaga sampai materi baru siap. Yang mengejutkan, Metallica tak terbang kembali ke AS setelah rangkaian tur beres. Hetfield cs memutuskan untuk tetap tinggal barang sejenak di Eropa—tepatnya di kampung halaman Lars, di Denmark.

Orang yang diserahi tugas untuk meramu album baru penerus Kill ‘Em All dari belakang meja mixing adalah Flemming Rasmussen. Dia adalah pemilik Sweet Silence Studios yang jadi tempat tinggal Metallica selama beberapa minggu. Rasmussen adalah pribadi woles. Kemasyhurannya sampai ke telinga Hetfield dkk lantaran pernah menukangi album Rainbow, Difficult to Cure. Di tangannya, album keluaran 1981 itu seperti suntikan energi baru. Metallica tak ingin mengulang sesi Kill ‘Em All sessions, yang menurut mereka kurang mendapatkan sentuhan seorang produser.

Sebetulnya yang diperlukan Metallica untuk album kedua ini adalah seorang produser yang bisa memoles, atau malah mengembangkan sound mereka. Rasmussen adalah orang yang dianggap pas menjalankan tugas tersebut. Kebetulan, studio ini ada di kampung halaman Lars sehingga menjadi nilai tambah penting. Setidaknya, band muda ini bisa menghemat pengeluaran. Saat itu, Metallica memang sedang bokek. Semua dana yang dimiliki Metallica terlanjur dicurahkan untuk masuk studio. Akibatnya, Hetfield cs harus puas tidur di studio karena tak ada lagi sisa uang untuk menyewa kamar hotel.

Menurut keterangan Marrs, setelah tur dengan Venom di bulan Februari, Metallica bergegas mengarahkan bus mereka menuju Sweet Silence Studios, yang waktu itu baru saja disewa oleh Mercyful Fate dan vokalisnya yang karismatik, King Diamond. Album kedua Metallica ditajuki Ride the Lightning dan jalan menuju album bermula sekaligus berakhir Sweet Silence. Rasmussen masih ingat, “Pertama kali aku bertemu [Hetfield] di studio, dia sudah punya dalam benaknya gambaran sound yang dia inginkan.” Tapi, ada satu masalah: ampli gitar kesayangan Hetfield raib setelah manggung di Boston.

Hetfield dan Ramussen harus memutar otak untuk mencari sebuah solusi. Rasmussen mengenang; “kami mulai dengan memainkan beberapa track dari Kill ‘Em All biar aku mengerti apa yang diincr Hetfield. Setelah itu kami mulai mengetes beberapa ampli gitar. Prosesnya menghabiskan waktu sampai beberapa hari. Karena ampli kesayangan Hetfield sudah dimodifikasi, akibatnya, seperti dituturkan Rasmussen: “Tak ada satupun yang ingat settingannya. Jadi, kami kebingungan setengah mati. Kami akhirnya memilih ampli yang benar-benar berbeda. Menurutku, ini keputusan jitu karena aku bisa segera bekerja mencari sound yang aku mau.”

Bahkan dari awal karir Metallica, Hetfield sudah mengembangkan sound gitar yang unik. Obsesinya untuk mencari sound yang tak pernah dibuat olah gitaris manapun di Bumi kemudian diekplorasi oleh Rasmussen. Dalam kata-katanya sendiri, sang produser album kedua Metallica itu menjelaskan hal ini; “Hetfield sangat menyukai fakta bahwa dia sudah punya sound yang khas dan tak pernah sekalipun meniru sound orang lain. Seingatku, banyak sesi rekaman dihabiskan untuk mendapatkan sound yang dia incar. Alhasil, yang kami lakukan adalah menemukan sesuatu yang baru tapi bunyinya mirip dengan ampli gitar Hetfield yang diangkut maling.” Lalu, bagaimana pendapat produser asal Denmark itu tentang pribadi Hetfield? “Sebelumnya, aku selalu berpikir dia adalah pemuda pemberang, tapi ternyata dia punya perilaku yang menyenangkan.”

Rasmussen adalah penawar yang sempurna bagi Hetfield yang keras kepala medio 1984. Dia meredam dan mengarahkan kegeraman Hetfield pada hal-hal kreatif. Sesi rekaman Ride the Lightning di bawah komando Rasmussen bisa jadi awal kemunculan James Hetfield yang lebih dewasa dalam bermain musik. Di saat yang sama, ketajaman naluri bisnis frontman Metallica itu meningkat pesat, seperti yang diperhatikan Rasmussen; “Waktu itu mereka sedang berunding tentang kesepakatan baru karena mereka berada di bawah sebuah label independen [Megaforce]. Mereka menghubungi banyak label dan Hetfield punya sumbangsih yang besar dalam hal ini. Dia memang pria yang cerdas.”

1503979904098 1
Editor fanzine metallica Steffan Chirazi, bersama James, Kirk Hammett and Eric Braverman di pesta malam bujang Kirk, pada 1987. Foto oleh: Eric Braverman

 

Proses rekaman Ride The Lightning dibelah menjadi dua bagian : sesi Februari/Maret dan sesi Juni. selama rehat antara kedua sesi, Metallica menyempatkan berangkat ke London. Mereka manggung dua kali di klub kenamaan Marquee Club. dua gig ini dimaksudkan untuk menjaga audiens Inggris tetap awas akan datangnya album baru Metallica. Sejatinya, Metallica juga dijadwalkan menjalani tur Eropa lain bersama dua roster Megaforce, The Rods dan Exciter. Namun, tur bertajuk Hell on Earth Tour itu dibatalkan, kabarnya karena angka penjualan karcis jauh di bawah target. Dan Beehleer, drummer dan vokalis band thrash metal Exciter, mengingat kembali pertemuannya dengan James Hetfield pada 1984. “Music for Nations menyewa dua apartemen di Baker Street; Metallica kebagian rubata sementara kami di atasnya,” tutur Beehler.

“Aku suka turun ke ruangan mereka, kongkow bareng James dkk dan tentu saja pesta habis-habisan.” Beehler masih ingat betapa terkesima dirinya ketika melihat postur Hetfield pertama kali. “Dulu waktu pertama kali melihat sampul belakang album Kill ‘Em All, aku berpikir James tak begitu tinggi. Tapi, pas ketemu langsung, aku baru sadar dia sangat jangkung. Dia orangnya baik banget dan periang. Waktu itu James masih doyan party-party.”
Metallica kembali ke Copenhagen guna membereskan album kedua mereka. Setelah itu, mereka terbang ke New York guna melakoni tur empat tempat bareng ikon glam metal Twisted Sister yang berakhir pada tanggal 10 Juni.

Pada 17 juni tahun yang sama, Ride The Lightning muncul sebagai album yang menggegerkan. Zazula merilis album itu lewat label Megaforce untuk wilayah AS, sementara distribusi di Inggris ditangani oleh Music for Nations. Di saat yang sama, Zazula tengah bernegosiasi dengan label Roadrunner untuk mendistribusikan album itu di Belanda. Ride The Lightning membuat banyak orang ternganga. Jika pendahulunya Kill ‘Em All adalah album agresif, berat dan sebuah debut yang hebat. Ride The Lightning adalah langkah besar ke depan. Ada perkembangan berarti dalam segi sound dan penulisan lagu. Makanya, tak aneh jika kemudian ada yang bertanya-tanya apakah kedua album itu ditulis oleh satu band yang sama.

Kontribusi Hetfield melonjak jauh, dari sekadar jadi vokalis dan gitaris debutan yang canggung menjadi seorang yang punya andil dominan dalam sesi rekaman. Sumbangsih Hetfield mewujud dalam vokalnya yang makin mantap dan presisi permain gitar rythmn-nya. Rasmussen berhasil merekam sisi-sisi heavy dari Metallica sembari memberikan ruangan agar soundnya bisa bernafas—dan efeknya menghancurkan. Ketika ditanya pada 1988 tentang bagaimana sound Ride the Lightning, Hetfield tanpa tedeng aling-aling bilang, “Flemming sedang mabuk reverb.”

Album kedua Metallica memang kaya reverb, tapi tak satupun orang menyangsikan komposisi lagu di dalamnya. Bahkan sampul album ini—sebuah kursi listrik yang melayang di langit malam, di bawah Metallica yang sudah mulai diakrabi banyak orang—adalah sebuah pernyataan yang lebih dewasa akan kemajuan pesat yang dialami Metallica. 

Track pembuka album ini, “Fight Fire with Fire” adalah salah satu komposisi Metallica paling jitu. Penggunaan kata “komposisi” memang disengaja karena salah satu elemen paling keren dari Ride the Lightning adalah semangat luar biasa Metallica untuk menggubah lagu penuh tenaga yang rumit.
Sebelumnya, lagu-lagu Metallica cenderung disuguhkan dengan kasar. Lagu ini dibuka dengan intro gitar akustik manis namun suram. Beberapa saat kemudian muncul fade-in menyeramkan yang menjadi pintu masuk riff-riff secepat kilat. Lagu ini diakhiri dengan suara ledakan nuklir yang menuntun kita masuk Ride The Lightning, tanpa sedikitpun kesempatan menarik nafas. Intro gitar kembar yang meraung berubah menjadi komposisi bertempo sedang. Hetfield lantas bernyanyi tentang pesakitan yang menanti akhir hidupnya di kursi listrik.

Musik di lagu ini dibuat njelimet dengan bagian progresif di tengah lagu dan solo Kirk Hammet yang menggetarkan, sebelum kembali ke bagian awal lagu ini. Bagi banyak orang, primadona album ini adalah track yang ditempatkan diurutan kedua dari belakang, “Creeping Death.” Dibuka dengan salvo gitar dahsyat berulang-ulang, lagu ini mereda menjadi sekumpulan riff yang mengalir lancar. Lirik Creeping Death dicuplik dari “Kisah tentang Anak Sulung” dari Kitab Eksodus. “Creeping Death” adalah rangkuman padat dari sebuah band bernama Metallica circa 1984. Sampai kini, Creeping Death masih nangkring sebagai lagu yang paling sering dimainkan secara live sepanjang karir Metallica.

Dirilisnya Ride The Lightning terus disambut kehebohan. Sayangnya, di saat yang sama, Metallica tengan dirundung masalah manajemen untuk mengurus tur promosi album kedua mereka. Hubungan Metallica dengan Zazula yang sangat antusias dan luar biasa darmawan itu makin hambar. Tanpa Zazula, Metallica jelas tak akan bisa menggelontorkan album. Masalahnya, Metallica sudah menjelma menjadi raksasa, jauh melampui Megaforce. Band asal Bay Area itu butuh label yang lebih besar guna mewujudkan potensi besar yang dipamerkan oleh Ride the Lightning.

Previous Article

Eksorsisme Nyata dan Dekat Dengan Kita

Next Article

Skenario Agar Manusia Bisa Melakukan Penjelajahan Antar Bintang

MORE KEPS