fbpx

Benarkah Terlalu Sering Masturbasi Membuat Dengkul Kita Kopong?

1503982545714 masturbasi

Cerita yang berkembang di Indonesia tentang efek ‘bercinta’ sama diri sendiri kayaknya lebih banyak yang bohong.

Semua lelaki yang kukenal pernah masturbasi. Semua. Mereka semua juga selalu merasa bersalah setelah bercinta dengan diri sendiri. Makanya, tak perlu kaget bila akan ada teman berusaha mengolok-olok sebayanya yang kepergok gemar masturbasi.

Contohnya ketika aku masih duduk di bangku SMP. Kawan sekelas pernah tiba-tiba mengetuk tempurung lututku sambil berteriak lantang, “wah, dengkulmu kopong, pasti hobi ngocok ya!” Sontak teman-teman yang lagi nongkrong tertawa lepas. 

Maklum, badanku kelewat kurus dengan lutut ekstra menonjol waktu itu. Jadi engga heran orang bakal mikir aku hobi masturbasi. Dan guyonan soal lutut kopong gara-gara hobi bermain alat kelamin masih suka seliweran di sela-sela obrolan dengan teman-teman hingga masa kuliah. 

“Apa hubungannya lutut dengan kebiasaan masturbasi?” batinku kala itu. Pertanyaanku sempat lama tak terjawab, namun mitos tersebut sudah kadung viral sampai sekarang. 

Faktanya, masturbasi memang seni memuaskan hasrat seksual kita sendiri yang sering dibebani stigma negatif masyarakat. Padahal faktanya menurut pakar kesehatan maupun seksolog, tak ada sama sekali efek negatif masturbasi terhadap tubuh. 

Dengkul kopong‘ cuma salah satu cara masyarakat (tepatnya di Indonesia) untuk mempermalukan lelaki muda yang gemar merancap. Di Amerika Serikat, juga ada mitos kesehatan serupa, bahwa remaja bisa buta kalau keseringan ngocok serta tangannya penuh bulu.

Jadi sejak kapan sih olok-olok dan mitos tak jelas soal masturbasi ini menyebar di masyarakat? Konon, semua dimulai dari Benua Eropa yang pada saat itu masih dikuasai oleh takhayul, fanatisme agama, dan konservatisme. Merancap dianggap tindakan gila dan memalukan.

“Mitos soal dengkul kopong itu berakar sejak abad 18 di Eropa,” ujar Zoya Amirin, seksolog dari Jakarta kepada VICE Indonesia. “Mitos itu salah satunya, terus bertahan sampai sekarang.”
Kala itu, menurut Zoya, di Eropa berkembang gagasan masturbatory insanity yang merujuk pada euforia atau perasaan kegembiraan yang membuncah ketika orgasme. Tidak cuma soal dengkul kopong, saat itu masturbasi dipercaya menyebabkan kebutaan, dementia, impotensi, gangguan pencernaan, dan lain sebagainya. 

Parahnya, di berbagai belahan dunia, stigma negatif terhadap pelaku masturbasi terus dipertahankan. Tentara Pembebasan Cina (PLA) baru-baru ini menolak 56.9 persen calon kandidat karena masalah kesehatan. Sebanyak 8 persen kandidat ditolak karena asumsi kelamaan duduk bermain game atau hobi masturbasi. Juru bicara PLA mengatakan kedua kebiasaan tersebut bikin vena testis membesar atau dalam bahasa medisnya varicocele.

Sampai sekarang dunia medis belum tahu apa penyebab pasti varicocele. Dan efek samping dari masturbasi pun sebenarnya masih jadi perdebatan. Walhasil karena dunia kedokteran belum memaparkan fakta secara gamblang, beragam mitos akhirnya muncul.

Faktanya, masturbasi malah jauh dari semua efek buruk tadi. Penelitian medis membuktikan merancap secara berkala bisa menekan risiko kanker prostat. Tentu saja, jika dilakukan kelewat ekstrem, alias keseringan, ada risiko patah penis (iya beneran, patah).

“Ketika orgasme disertai ejakulasi, ada excitement dan sensasi lemas di lutut. Dari situ berkembang mitos bahwa semakin banyak ejakulasi bisa membuat lutut kopong. Padahal masturbasi tidak ada hubungannya dengan kekurangan kalsium yang menyebabkan tulang rapuh atau sendi yang tidak kuat,” ujar Zoya.

Zoya tidak percaya bahwa masturbasi menyebabkan varicocele, seperti yang ditakutkan para petinggi militer Cina. “Kecil kemungkinan masturbasi jadi penyebab varicocele,” jawab Zoya. Dia juga tidak menyebutkan bahaya masturbasi dari segi fisik. Dia bahkan tidak memberi batasan seseorang boleh bermasturbasi. “Tergantung tubuh,” kata Zoya. 

Artinya, masturbasi dua kali sehari seperti karakter Mark Hanna di film The Wolf of Wall Street tak akan jadi masalah selama hasrat seksual masih berkobar. 

Masturbasi itu ada baiknya,” imbuh Zoya. “Buat mengeksplorasi tubuh dan melepas ketegangan seksual. Selama tidak mengganggu kehidupan seks pasangan, saya rasa masturbasi adalah hal positif.”

 
Artikel ini pertama kali tayang di Vice Indonesia
Oleh Adi Renaldi 
Foto oleh Patrick Copley via Flickr 

 

Previous Article

Review 'Pengkhianatan G30S/PKI' dari Orang Yang Belum Pernah Nonton Filmnya Seumur Hidup

Next Article

Graffiti Artist Wanita Yang Lahir Bersama Karyanya

MORE KEPS