fbpx

10 Film Dokumenter Musik yang Menarik buat Ditonton

dokumenter musik kepsir

Saking banyaknya film, kadang kita suka bingung sendiri, film apa yang kudu di tonton. Selain film yang relatif masih baru, film-film lama yang udah sering kita tonton juga gak ada salahnya buat kita tonton lagi, salah satunya adala film dokumenter tentang musik.

Dokumenter musik atau yang populer disebut sama istilah “rockumentary”,  selain digarap dan disajiin dengan menarik, film-film ini bisa ngerangkum sejumlah momen dan gerakan penting di sejarah kancah musik, baik dari perkembangan genre musik, aktivitas para pelaku, sampe kultur di dalamnya

Berikut ini adalah sebagian kecil dari banyaknya karya rockumentary yang pernah dibuat.

1. Salad Days (Scott Crawford, 2014)

1

Kalo American Hardcore menyajikan sejarah soal movement awal hardcore punk di Amrik secara keseluruhan, fokus dokumenter ini lebih ke bagaimana kelahiran, pergerakan, dan pertumbuhan punk dan hardcore punk selama satu dekade dari tahun 1980-1990 di kota Washington, D.C, yang ngebuat scene bawah tanah di ibukota Amerika Serikat ini jadi yang paling penting dan berpengaruh sampe saat ini. Mengambil judul dari lagu milik salah satu band hardcore penting asal D.C yaitu Minor Threat, film ini ngasih tunjuk secara historis gimana peran-peran para musisi independen, kuatnya komunitas, kultur D.I.Y (Do It Yourself), estetika musik, dan youth spirit, mampu ngasih impact yang signifikan ke tidak hanya generasi musik-musik alternatif berikutnya.

– A D V E R T I S E M E N T-

Kalian bakal mendengarkan cerita dari band-band seminal macam Fugazi, Minor Threat, Government Issue, The Faith, Void, Rites of Spring, Dag Nasty, dan lainnya soal gimana susah dan serunya mereka melakukan semuanya sendiri—dari bikin gigs sampe rilis album—dengan kekhasan dan karakternya masing-masing. Termasuk soal aktivisme dan gerakan politis yang lahir pada era tersebut yang terinspirasi dari kancah musik ini, seperti misalnya Positive Force. Positive Force adalah organisasi non-profit bentukan Mark Andersen, yang tumbuh di komunitas musik punk D.C. Dokumenter ini juga bisa dibilang menggambarkan asal muasal dari kemunculan subgenre yang dinamakan D.C Hardcore—yang dalam perkembangannya punya kaitan erat dengan perjalanan sub-genre post-hardcore—dan apa itu gerakan Revolution Summer.

2. PUNK: Attitude (Don Letts, 2005)

2

Buat publik, keinginan untuk merangkum sejarah punk hanya dalam durasi satu setengah jam mungkin terkesan ambisius, tapi buat sutradara Don Letts, hal itu bukan hal tidak mungkin untuk dilakukan dan beliau berhasil mewujudkannya dengan sangat baik. PUNK: Attitude berhasil meng-cover secara menyeluruh ledakan punk di New York dan London, tapi yang bikin film ini masuk status patut disimak adalah bagaimana Don Letts menarik sejarah lebih jauh ke era 60-an ketika band-band kayak The Velvet Underground, MC5, Patti Smith, dan The Stooges lah yang sebenernya memberikan pernyataan, identitas, sikap, dan perlawanan yang serupa sebelum istilah punk eksis.

– A D V E R T I S E M E N T-

Don juga menyempatkan untuk memberikan jatah bagi subgenre-subgenre lainnya dalam punk dengan nilai historis dan pemikirannya masing-masing, kayak kancah hardcore punk di AS, no wave, dan lainnya yang masih masuk dalam cakupan punk. Menghadirkan wawancara dengan tokoh-tokoh paling berpengaruh yang sudah tidak asing buat dunia punk dan turunannya, PUNK: Attitude bisa jadi adalah film dokumenter soal punk yang paling komplet sejauh ini.

3. Beautiful Noise (Eric Green, 2014)

3

Setelah sukses ngedapetin cukup biaya dan dukungan dari crowdfunding, Eric Green mutusin buat ngeerilis sebuah dokumenter berjudul Beautiful Noise. Film ini ngangkat dan ngomongin soal sejarah, apa yang terjadi, dan signifikansi tentang pergerakan musikal inovatif di scene underground di Britania Raya akhir 80-an sampe pertengahan 90-an yang setelah itu populer dengan sebutan shoegaze.

Dengan fokus ngulik 3 band yang ngegunain reverb, noise, yang dihasilin dari bermacam efek pedal buat jadi santapan utama didalam musiknya, yaitu Cocteau Twins, The Jesus and Mary Chain, dan My Bloody Valentine, Beautiful Noise ngasih insight langsung dari pelakunya soal estetika dan attitude dari genre yang punya pengaruh besar buat musik alternative di tahun-tahun berikutnya tersebut.
Oiyah,  kalian kayaknya butuh subtitle kalo mau tahu apa yang diomongin di film itu.

4. American Hardcore (Paul Rachman, Steven Blush, 2006)

4

Salah satu dokumenter musik terfavorit ini sebenarnya adaptasi dari buku yang pernah ditulis sama Steven Blush yang berjudul American Hardcore: A Tribal History. Buku yang keluar 5 tahun sebelumnya itu berisi soal salah satu pergerakan fenomenal di kancah musik bawah tanah Amerika Serikat di awal 80-an yang punya dampak yang ngena banget buat subkultur di negara itu. Film arahan Paul Rachman ini ngasih rincian lebih lanjut lagi soal hardcore punk dengan nelusurin jejak awalnya ke daerah penting tempat asal band-band yang paling berpengaruh dalam genre ini, mulai dari kota-kota di California selatan, Washington DC, sampe Boston dan New York.

– A D V E R T I S E M E N T-

Insight bersifat personal dari siapa-siapa saja yang bertanggung jawab jadi pelaku awal dan pemantik—tidak hanya soal musiknya saja namun juga pemikiran dan attitude, yang menjadi poin terpenting di kancah musik ini—yang juga membuat mereka jadi semacam resistansi paling vokal di era presiden Ronald Reagan- juga bakal kalian temukan di sini. Seperti misalnya dari Ian MacKaye-nya Minor Threat, Henry Rollins dari Black Flag, Keith Morris dari Black Flag dan Circle Jerks, H.R. dan Dr. Know-nya Bad Brains, hingga Vinnie Stigma dari Agnostic Front. Kalian juga bisa melihat banyak footage mentah aksi live band-band hardcore punk influensial macam SS Decontrol, Middle Class, MDC, D.O.A, Bad Brains, Negative Approach, dan lain-lain yang bisa membuka mata tentang betapa pentingnya pengarsipan di scene.


5. Our Vinyl Weighs a Ton (Jeff Broadway, 2014)

5

Stones Throw adalah label rekaman asal Los Angeles yang punya peran penting dalam pergerakan alternative hip hop di negara Paman Sam. Roster label ini semuanya bisa dikatakan tergolong visioner dan jenius digenre tersebut. Dari yang dikenal; Madlib, J Dilla, MF Doom, Peanut Butter Wolf, Quasimoto, hingga yang avant garde dan super absurd, semuanya punya pengaruh jelas di kancah hip hop. Dan semuanya, secara khusus ditampilkan di sini.

– A D V E R T I S E M E N T-

Diambil dengan sedikiti plesetan dari judul album yang dirilis sama empunya label ini, yaitu Peanut Butter Wolf alias Chris Manak, dokumenter ini menjelaskan dengan cukup gamblang soal fakta dan sejarah berdirinya label ini dan sisi estetis yang sejak dulu dimiliki sama Stones Throw, yang membuat label ini sangat berkarakter. Tokoh-tokoh hip hop yang juga kena pengaruh langsung dari musik dan attitude label ini, sebut aja Tyler, The Creator, Common, Talib Kweli, sampe Kanye West dan Mike D dari Beastie Boys, juga ikutan ambil bagian memberi cerita personalnya soal label ini. Banyak hal mengharukan yang bisa kalian temuin di film ini, mulai dari kematian Charizma, sahabat Chris Manak, yang dijadikannya inspirasi untuk memulai Stones Throw dan rekaman panggung terakhir J Dilla sebelum beliau wafat tahun 2006 silam.

6. Bising (Adythia Utama, Riar Rizaldi, 2014)

6

Scene noise dan experimental music di Indonesia memang belum pernah sampai taraf yang terlalu familiar dan dikenal, bahkan di kancah underground lokal sendiri, namun para pelakunya terus konsisten memberikan sesuatu yang baru dan terus menghasilkan produk berupa karya, acara, dan menjalankan komunitasnya sebagai bentuk gerakan atau sekadar kreasi mereka. Fokus soal scene yang didominasi sama suara bising hasil utak-atik efek dan piranti lainnya itulah yang ditonjolkan di Bising, film yang dirilis sama sutradara muda asal Indonesia Adythia Utama bareng rekannya Riar Rizaldi.

– A D V E R T I S E M E N T-

Mereka mengumpulkan arsip-arsip berupa rekaman live band-band yang membawakan noise dalam kurun waktu dua tahun plus wawancara ke seniman-seniman noise kayak Sodadosa, Asangata, Aneka Digital Safari, Terror Incognita, Mati Gabah Jasus, Shoah, Black Ribbon, To Die, plus pelaku-pelaku kancah musik kayak Arian 13, Wok The Rock, dan lainnya. Intinya, sih, selain sebagai bentuk pendokumentasian yang proper dan apresiasi sebagai penggiat, film yang udah ditampilkan di berbagai festival film di luar negeri ini juga semacam memberikan pertanyaan yang selama ini jadi hal klasik buat bentuk seni eksperimentatif seperti ini: Noise itu apa? Bisa dikategorikan sebagai musik, nggak sih?

7. Global Metal (Sam Dunn, Scot McFadyen, 2008)

7

Jalan-jalan keliling dunia, ketemu personel band metal legendaris yang jadi favorit, nonton konser, melihat bagaimana kondisi scene-scene metal di berbagai negara di dunia, adalah hal menyenangkan untuk dilakukan, apalagi buat metalhead merangkap antropolog kayak Sam Dunn. Dan itu persis yang dilakuin sama beliau ketika membuat film dokumenter Global Metal, sebagai lanjutan dari dokumenter soal kancah metal juga, Metal: Headbanger’s Journey. Pria gondrong asal Kanada penggemar extreme metal ini ingin memberi tahu siapapun yang menonton dan bagi metalhead di seantero dunia bagaimana keadaan scene metal di tiap negara yang dia kunjungi.

– A D V E R T I S E M E N T-

Menyambungkan musik dengan sisi budaya tiap negara dan keadaan sosio-politik-ekonomi-geografis-sejarah masyarakatnya, Sam Dunn secara estetis dan teknis sukses menghasilkan dokumenter yang komprehensif.Kalian bisa dapat banyak hal dari sini dan tahu bagaimana susahnya membentuk band metal dan mengadakan konser metal di China, ternyata India punya banyak banget metalheads, sampai ke Brazil, Jepang, dan Israel. Indonesia juga tidak luput buat dikunjungi dan didokumentasikan olehnya. Selain footage kerusuhan konser Metallica di Stadiun Lebak Bulus, Jakarta tahun 1993, di sini kalian bakalan melihat Sam Dunn ikut ibadah sholat Jumat di Masjid Istiqlal mengenakan kaus Mastodon serta mewawancarai pentolan Tengkorak, band grindcore lawas asal Jakarta yang selama ini jadi yang paling keras menyuarakan antipati terhadap Zionisme.


8. Suck Hawks Such Hounds (Jessica Hundley, John Srebalus, 2008)

8

Sejak awal kemunculannya, band-band seperti Hawkwind dan Black Sabbath, memang sudah memiliki sound yang spesifik dan menonjol. Dengan kekhasannya masing-masing, dua nama itu pada perjalanannya berhasil mengumpulkan umat-umat yang setia menyembah tipe sonik yang mereka mainkan. And the rest is history, jemaat mereka semakin banyak bermunculan dari generasi ke generasi, memainkan evolusi musik dari apa yang sudah kedua band tersebut mainkan. Kata kuncinya: heavy dan trippy.

– A D V E R T I S E M E N T-

Such Hawks Such Hounds—diambil dari judul lagunya trio bernama Dead Meadow—nyeritain soal band, scene, dan musik hard rock bawah tanah di Amerika Serikat dan turunannya; sludge, stoner rock, hard psych, doom, desert rock dari tahun 1970 sampe 2007. Dibagi ke beberapa bagian yang masing-masing fokus kepada satu band, seperti Sleep, High On Fire, Earthless, Kyuss, Sunn O), The Obsessed, Pentagram, dan Dead Meadow sendiri tentunya, dokumenter padat berisi ini mengajak kita buat menggali lebih dalam soal asal muasal riff purba penuh fuzz yang jadi ciri khas dan definisi sonic mereka, influens hal-hal psikedelia, tema lagu, pentingnya artwork untuk musik jenis ini, dan banyak hal lainnya. Semua dibungkus dengan wawancara yang inspiratif dengan para musisi gondrong punggawa jenis musik tersebut.

9. Until The Light Takes Us (Aaron Aites, Audrey Ewell, 2008)

9

Sejak muncul sebagai nama album dari unit legendaris asal Inggris, Venom, istilah black metal berevolusi jadi sebuah nama paten untuk subgenre/gaya musik metal. Turun temurun, black metal dibawa ke tingkatan yang lebih ekstrim lagi oleh musisi dan band dari Norwegia. Ideologi, ekstrimitas, estetika, gimmick, dan serangkaian kontroversi yang terjadi di kancah black metal di Norwegia di awal 90-an itulah yang kemudian dijadiin sorotan utama di film Until The Light Takes Us. Yang jadi narasumber soal cerita bagaimana black metal itu pada akhirnya punya movement dan merupakan statement dari para penggiatnya sendiri adalah Fenriz, drummer dari Darkthrone, band yang udah punya taraf cult following. Satu lagi adalah Varg Vikernes, manusia dibalik Burzum dan Mayhem, dimana dirinya menjadi sebagian besar fokus di film ini. Mulai dari kasus pembakaran beberapa gereja—yang jadi latar belakang pertanyaan soal idealisme dan tingkat ekstrimisme pelaku genre ini hingga disorot dunia—sampe ke kasus pembunuhan temen sebandnya di Mayhem dulu, Euronymous, yang membuatnya dipenjara dalam waktu yang lama.

10. HYPE! (Doug Pray, 1996)

10

Pembukaan berupa kutipan dari SPIN Magazine tahun 1992 yang berbunyi “Seattle is currently to the rock ‘n roll world what Bethlehem was to Christianity” mungkin bisa menjadi petunjuk jelas apa yang coba dibicarakan dalam film dokumenter ini; bagaimana Seattle mendadak bisa menjadi tanah suci buat musik rock dan generasi alternatif di dekade 90-an. HYPE! membawa kita balik ke club-club kecil dan underground gigs di kota tersebut dengan band-band ajaibnya, dari punk, garage, lalu kemudian nama-nama yang disinyalir sebagai pencetus genre yang meledak saat itu: grunge.

– A D V E R T I S E M E N T-

Sesuai judulnya, HYPE! melacak jejak Seattle sebagai kota yang awalnya membosankan dengan band-band lusuh yang bahkan tidak tercium industri arus utama hingga tahap dimana kota ini terkenal akan musiknya dan istilah Seattle sound muncul akibat gegap gempita dan hype dari grunge yang diledakan oleh Nirvana dan band-band sejawat mereka. Termasuk, gimana peranan label Sub Pop dalam ngebesarin dan ngebuat karakter sebagai label yang “Seattle banget”. Selain sorotan pada para musisi, band, fotografer, dan entitas di dalem kancah punk dan rock kota ini mulai dari akarnya—tentang grunge yang sebenarnya dianggap konyol oleh mereka sendiri—serunya adalah kalian juga akan menemukan beberapa band keren yang namanya mungkin baru kalian ketahui setelah menonton dokumenter ini.

Previous Article

Cannot Play, Mengulas Balik Kenangan Lewat Single 'Akhiri Tuk Lanjutkan'

Next Article

Southja : Film Dokumenter Potret Generasi Baru Hip-Hop Indonesia

MORE KEPS